Lee Taeyong –– Pria cantik bertubuh mungil tengah berjalan memasuki universitas barunya. Dibalut kaos putih dengan kardigan tipis berwarna abu-abu. Ditambah sebuah kacamata bulat yang sedikit kuno, menutupi mata bulatnya yang indah.
Hari ini Taeyong resmi menjadi mahasiswa baru di sebuah kampus yang cukup ternama di kota Seoul –– 'Neo Culture University.'
Dengan dandanan yang tidak terlalu mencolok, Taeyong berjalan memasuki kampus barunya.
Taeyong berjalan dengan pelan sambil menundukkan sedikit kepalanya. Berusaha menjaga jarak di sekitarnya.
Bukan tanpa alasan Taeyong bertingkah seperti ini. Dirinya hanya tidak ingin berinteraksi dengan banyak orang.
Brugh!!
Akh
Shhh
Taeyong tersungkur ke lantai. Jatuh terduduk dengan pantatnya membentur lantai keramik lorong tersebut.
Tanpa Taeyong sadari kacamata yang dikenakannya terlepas. Ia mengusap sikunya yang sedikit memerah. Saat hendak berdiri sebuah tangan terjulur di hadapannya.
"Kau tidak apa-apa kan?" ujar pria yang tadi menabrak Taeyong. Mengulurkan tangannya untuk membantu lelaki mungil yang terjatuh karena dirinya.
"Aku tidak apa-apa."
Taeyong menerima uluran tangan tersebut.
"Maafkan aku, aku sedang terburu-buru, sehingga tidak melihat se—"
Brugh!!
Tubuh Taeyong terdorong ke belakang. Pria yang berniat menolongnya justru menubruknya. Mengukung tubuh mungilnya. Mendekatkan wajahnya pada ceruk leher Taeyong. Mengendus aroma memabukkan yang menguar dari leher Taeyong dengan rakus.
Taeyong mematung — Terkejut.
Dirinya tersadar, dengan cepat mendorong pria di atasnya untuk menjauh dari tubuhnya.
Namun tenaganya tidak cukup kuat untuk mendorong pria tersebut.
Ukhh
"K-Ku mohon hentikan."
Mata Taeyong mulai berkaca-kaca. Dirinya masih berusaha menyadarkan pria tersebut agar tersadar dan menghentikan perbuatannya. Meskipun pria itu tidak bergeming sedikit pun.
Tap
Tap
Tap
Bugh!!
"Berani sekali kau berbuat asusila di tengah keramaian seperti ini!!"
Suara berat itu terdengar diiringi geraman marah.
Pria yang menyerang Taeyong tersungkur dengan luka lebam di pipinya. Akibat pukulan yang dilayangkan pria tinggi berkulit putih dan juga sangat tampan.
Menoleh ke arah lelaki mungil yang masih terlihat shock tersebut. Pria tampan itu mengulurkan tangannya. Berniat untuk membantu yang lebih kecil untuk berdiri.
Akan tetapi lelaki mungil itu justru beringsut mundur. Membuat pria tampan yang telah menolongnya mengernyit bingung.
Taeyong yang tidak mengindahkan pria yang berdiri menjulang di hadapannya. Sibuk mencari sesuatu sebelum nanti dirinya kembali diserang.
'Ketemu,' batinnya lega.
Taeyong memakai kembali kacamatanya yang sempat terlepas.
Setelah memastikan dirinya aman, Taeyong berusaha berdiri sendiri.
"Terima kasih, Tuan. Telah menolongmu."
"Hmm, Kau tidak apa-apa?"
"Eumm, aku tidak apa-apa."
"Syukurlah kalau begitu. Lain kali berhati-hatilah."
Taeyong mengangguk. Tatapan nya tertuju pada pria yang tadi menyerangnya. Ada rasa kasihan yang timbul di hati Taeyong. Karena dirinya, pria tersebut mendapatkan luka lebam di pipinya. Taeyong sedikit meringis melihatnya.
Menyadari kemana arah tatapan lelaki mungil di hadapannya. Pria tampan itu berbalik, menarik kerah baju pria yang masih terduduk di lantai. Menyeretnya ke hadapan Taeyong dan menyuruhnya untuk meminta maaf pada lelaki mungil tersebut.
Pria itu terhuyung karena belum sadar sepenuhnya. Apalagi tubuhnya ditarik kuat oleh pria tampan itu.
Setelah berada di hadapan Taeyong, baru dirinya sadar sepenuhnya. Menyesali apa yang baru saja terjadi. Meskipun dirinya masih linglung.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak ingat apa yang aku perbuat padamu." Ia membungkuk, "Maaf jika aku menyakitimu," ujarnya.
Taeyong tersenyum, "Tidak apa-apa, Tuan. Itu hanya kesalahpahaman. Aku juga minta maaf karena diriku kau terluka, Tuan."
Pria itu memegang pipinya, sedikit meringis karena tak sengaja memegang bagian yang terluka.
"Tidak masalah. Terima kasih, aku permisi."
Pria itu berbalik dan meninggalkan tempat itu. Dimana ia sangat kebingungan dengan apa yang terjadi sebenarnya terjadi.
"Terima kasih sekali lagi, Tuan. Karena telah menolongku, aku permisi."
Taeyong hendak beranjak meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya dihentikan oleh pria tampan itu. Menahan lengannya agar tidak beranjak pergi.
"Apakah kau yakin tidak apa-apa? Kenapa kau melepas pria bajingan seperti itu?!"
"Tidak apa-apa, Tuan. Bukan sepenuhnya salah pria itu."
Taeyong menunduk. Cukup bingung bagaimana menjelaskannya pada pria tampan itu.
"Atau kau yang menggodanya terlebih dahulu? Makanya kau melepaskan si brengsek itu?" ejek pria tampan itu.
"Maaf, aku tak bisa menjelaskannya. Aku tidak menggodanya dan dia juga tidak sengaja menyerangku," lirih Taeyong. Ia menggigit bibirnya untuk menghilangkan rasa takut yang dirasakannya.
Pria tampan itu mendesah pelan. Berusaha memahami apa yang terjadi.
"Baiklah, kalau begitu. Jangan panggil aku Tuan. Aku belum setua itu untuk dipanggil Tuan olehmu. Aku juga mahasiswa di kampus ini."
"Ehhh??" Taeyong mendongak, bola matanya melotot dibalik kacamata bulatnya. "Maafkan aku." Taeyong menggaruk tengkuknya malu.
Pria tampan di hadapannya ini hanya terkekeh. "Tak apa, kau juga mahasiswa baru di sini, bukan? Jurusan apa?"
"Aa, aku jurusan seni lukis. Iya, aku mahasiswa baru di sini. " Seulas senyum terukir di bibir tipis Taeyong.
"Ohh... Aku Jung Jaehyun, jurusan Managemen Bisnis. Sama seperti mu, aku juga mahasiswa baru di sini." Jaehyun mengulurkan tangannya.
"Lee Taeyong." Membalas uluran tangan Jaehyun.
'Manis.'
Tbc
