epilog

229 5 0
                                        

Epilog

Gadis itu menatap gundukan didepannya tanpa ekspresi. Matanya dan wajahnya tidak mengekspresikan apa pun. Semuanya datar. Sangat berbeda dengan orang-orang yang disekitarnya. Ada yang sedih bahkan menangis. Tapi gadis itu hanya diam, diam dan diam.

“Bi, kita pulang yuk” ajak seorang laki-laki yang seumuran dengan gadis itu. Gadis itu menoleh. Lalu menggeleng tegas. “Sebentar lagi. Aku bakal pulang sendiri” laki-laki itu tampak ingin membantah tapi begitu gadis itu memandangnya tegas dia menghela nafas lalu pergi dari pemakaman itu. Meninggalkan gadis itu.

Gadis itu berbalik, kembali menghadap kemakam didepannya. Disana tertulis ‘Hidra Atlanta’. Lama kelamaan semua orang pergi meninggalkan makam itu. Hingga dipemakaman itu hanya ada gadis itu. Perlahan gadis itu mendekat. Dan duduk bersimpuh disebelah makam itu. “Dra....” gumam gadis itu. “Kata kamu, kamu nggak bakal tinggalin Bianca sendiri. Kenapa kamu sekarang ninggalin Bianca?” gadis itu bicara “kamu ingkarin ucapan kamu Dra”, “kamu jahat!” gadis itu menangis diikuti turunnya air dari langit. Hujan. Entah berapa lama gadis itu menangis tetapi sekarang dia merasakan kakinya mati rasa. Diusapnya airmatanya, dia mengeluarkan ponselnya. Tampak mengetik sebuah nomor. “Halo, saya Bianca. Siapkan perpindahan saya kekota itu sekarang. Urus semuanya dalam waktu 3 hari” dan gadis itu memutuskan hubungan. Melangkah keluar dari pemakaman itu dengan topeng wajah datarnya.

Frost LoveDonde viven las historias. Descúbrelo ahora