Perkenalan

7 1 1
                                        

Panggilan penumpang pesawat Indonesia Air dengan nomor penerbangan IA 215 tujuan Jakarta menuju Jogjakarta terdengar jelas di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Penumpang yang membawa anak kecil dan orang tua didahulukan dan antrean mulai memenuhi pintu masuk pesawat.

Bruk!

Seketika tubuh Lanova limbung, maju beberapa langkah ke depan. Menabrak punggung laki-laki yang berdiri di depannya. Tas anyaman berisi beberapa toples kue pun terlepas dari genggaman. Berhamburan di lantai beralaskan karpet tebal.

“Duh, sorry. Maaf, mas tidak sengaja,” Lanova spontan meminta maaf. Berusaha mengangkat wajah dan berdiri tegak.

“Hei, Tuan yang sedang berjalan menggunakan jas hitam keluaran Hugo Boss, bisa tolong berbalik badan dan kembali ke sini,” Lanova berteriak lantang, menjadikannya pusat perhatian para penumpang yang sedang antre.

Pria itu berbalik, hanya menatap sebentar, seraya menyadari dirinya yang dipanggil. Kemudian menggerakkan kepala, seakan bertanya “Ada masalah, silahkan urus dengan asisten saya,” lalu berbalik kembali berjalan, tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Lanova mematung, ingin rasanya mengumpat, tetapi dia bukan tipe perempuan seperti itu.  hanya menatap tajam tanpa rasa bersalah, dan mengutus seorang pria mendekatinya.

“Maaf, Mbak. Boss saya sedang terburu-buru, jika ada kerugian saya akan menggantinya,” ucap seseorang yang bernama Bagas, sesuai kartu nama yang diberikan padanya. “Silahkan hubungi, nomor saya ada di sana.

Tentu saja perempuan berusia tiga puluh satu tahun ini marah, bukan masalah ganti rugi atas kuenya yang hancur berantakan. Akan tetapi tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan. Pria angkuh itu tidak perlu bersusah payah mengutus seseorang, Lanova hanya membutuhkan permohonan maaf saja. Bagas pergi, setelah meminta maaf berkali-kali padanya.

Dia menatap nanar beberapa toples berisi kue kering yang berantakan. Rencananya kue tersebut akan diberikan kepada Liza---sahabatnya, sebagai oleh-oleh.

“Sayang sekali,” Seseorang berkata sambil memberikan toples yang berada di tangannya.

Luna tersadar, dan berusaha tersenyum, mengambil toples berisi kue yang hancur. “Terima kasih, Mas. Maaf tadi tidak sengaja.”

“Tidak apa-apa,” ucapnya sambil tersenyum, dan mengobrol kembali dengan seseorang yang berada di depannya.

Lanova memejamkan pelupuk mata, berusaha mengontrol emosinya yang sudah setengah meledak. Tidak percaya, di zaman seperti ini, masih ada orang yang angkuh, seperti lelaki itu. Dia menarik napas perlahan lalu mengembuskannya. Sesekali melakukan senam muka agar moodnya dapat kembali seperti semula. memang tidak butuh lama, dia bisa meredam amarahnya, berkat yoga yang rutin dilakukan setiap hari.

Memasuki pesawat, dia melihat Bagas. Di ujung sebelah kiri, jauh dari tempat dia mengantre. Untung saja ada jarak, jika tidak, emosinya akan kembali memuncak. Bisa saja dia melempar satu tas anyaman berisi enam toples kue kering itu kewajah angkuhnya.

Sapaan ramah pramugari dan pramugara yang berdiri di balik kursi dibalas dengan senyum ceria. Hilang sudah rasa kesal yang sempat kembali muncul. Setelah menjawab nomor kursi yang ditanyakan wanita cantik berseragam batik dominasi warna hijau puti, Lanova segera bergegas mendudukinya.

“Permisi,” ucapnya pada seorang lelaki yang sudah duluan duduk disebelah kursinya.
Lanova sibuk menelepon, memberi kabar bahwa dia sudah di dalam pesawat, dan akan segera lepas landas. Tidak lupa mengirimkan pesan dan langsung mematikan alat komunikasinya.

“Hai, ternyata kita duduk sebelahan,” ucap seorang lelaki.

Sempat tertegun beberapa saat hingga lelaki disebelahnya, menggoyangkan telapak tangan tangan membuyarkan lamunannya. Bola matanya menatap ke kiri dan ke kanan mencari sosok yang tadi duduk di sebelahnya.

“Kamu mencari siapa?”

“Perasaan tadi yang duduk di sini, bukan kamu?”

“Oh, itu Radit, asisten aku. Sebenarnya yang duduk di sini aku.”

“Oh,” ucap Lanova tersenyum, mengerti keadaan yang sebenarnya.

“Permisi, ibu dan bapak. Berhubung kalian duduk di dekat pintu darurat saya harus memberi tahu prosedur yang harus dilakukan,” ucap pramugari bernama Dianti, tertulis pada nama yang tersemat di bajunya.

Duduk di dekat pintu darurat sedikit menguntungkan, lantaran memiliki ruang ekstra untuk memanjakan kaki, akan tetapi kita pun harus memiliki ketangkasan untuk membantu proses evakuasi jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Sehingga awak kabin tetap harus memberi tahu prosedurnya.

Pesawat akan lepas landas, para awak kabin sudah berada di posisinya masing-masing, memberikan pengarahan kepada penumpang tentang standar keselamatan. Setelah kapten memberi pengumuman akan lepas landas. Lanova segera menundukkan kepalanya, berdoa untuk keselamatan. Hal yang selalu dilakukannya.

Naik pesawat terbang bukan hal baru untuknya, tetapi tetap saja dia masih takut. Pikirannya suka melenceng jauh, memikirkan hal yang tidak-tidak.

“Tenang saja, jangan takut. Kalau butuh sandaran atau pegangan tangan, yang di sebelah kanan kamu masih single, loh.”

Lanova tertawa, entah mengapa. Gombalannya receh dari pria disebelahnya tidak membuat risih. Biasanya, jika lawan jenis yang duduk di sampingnya, dia lebih memilih untuk membaca atau tidur, menghindari pembicaraan.

“Tersenyum seperti itu, terlihat cantik,” Lelaki ini terlihat tulus.

“Gombal,” ucap Lanova.

“Itu pujian, terserah kalau kamu menganggapnya gombal. Perkenalkan James, James Gerhard,” ucapnya memperkenalkan diri sambil memberikan telapak tangannya.

Masih membalas dengan senyuman. Tumben sekali dia bisa tertawa hanya mendengarnya. “Hai James. Aku Lanova, Lanova Alleia Rawindra,” ucap Lanova sambil membalas jabatan tangan lelaki disebelahnya.

“Nama yang unik.”

“Terima kasih.”

“Lantas, aku harus memanggil kamu apa?”

“Bebas, senyamannya kamu. Aku biasa dipanggil Lanova, Ova, Alle, terserah senyamannya kamu.”

James terlihat berpikir, sambil menatap wanita yang berada di sampingnya. Lanova sempat salah tingkah, tidak tahu harus bagaiman bersikap. Biasanya dia tidak pernah segugup ini bertemu orang baru, tatapan lelaki dihadapannya tajam tetapi meneduhkan.

“Lan, sepertinya aku suka memanggil kamu begitu.”

“Terserah kamu James, bebas senyamannya.”

“Aku nyaman kok duduk di sebelah kamu.”
Lanova kembali tertawa. Belum ada satu jam duduk bersebelahan dengan James, entah ini sudah yang keberapa kalinya dia tertawa karena kegombalan, laki-laki di sampingnya.

“Aku suka sekali melihat kamu tertawa seperti ini. Daripada tadi, ketika panik meminta maaf setelah mendorong aku dengan tidak sengaja.”

“Seriusan kelihatan panik ya?”

James menganggukkan kepalanya, “Kamu tuh seperti anak kecil tadi, lucu,” ucapnya sambil tertawa.

“Enak saja anak kecil, sudah emak-emak aku tuh.”

“So what? Aku juga sudah bisa membuat anak.”

Lanova tertawa untuk kesekian kalinya, kali ini sampai menutup mulutnya, takut mengganggu penumpang yang lain. “Sekedar pemberitahuan,” ucapnya.

Pembicaraan mereka terhenti ketika awak kabin memberikan makan siang untuk disantap. Lanova memilih ayam panggang dengan kentang dan saos keju, begitu pula dengan James.

“Kenapa tidak makan nasi dan rendang?”

“Kalau lagi makan tidak boleh bersuara,” ucap Lanova sambil menggoyangkan telunjuknya. Seperti perintah terhadap anak kecil.

“I’m 30 years old, baby. Bukan anak kecil, seperti yang tadi sudah dibilang aku sudah bisa membuat anak.”

“So what?”

Kali ini giliran James yang tertawa, mendengar jawaban perempuan yang baru saja dikenalnya. Ada senyum yang tidak biasa tersirat diwajahnya.

Perkenalan singkat yang baru saja terjadi membuat mereka lebih dekat. Obrolan singkat terasa menyenangkan hingga tidak terasa pesawat sudah hampir tiba ditujuan, dan segera mendarat.

Kembali Lanova memejamkan matanya, dua hal yang ditakuti ketika sedang berada di pesawat pada saat lepas landas dan mendarat.

“Aku sudah bilang, jika butuh sandaran lelaki disebelahmu ini bahunya cukup kokoh.”

Sukses membuat Lanova tertawa, membuyarkan kekusukan berdoanya. Pertama kali dalam sejarah.

“Fix, aku suka senyuman itu.”

***
    
     

    
 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 02, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Kastengels Vs NastarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang