Revel Hailynn Calton, biasa dipanggil veline adalah seorang gadis yang tengah menduduki bangku kelas 2 SMA di SMA Tarita Guna Kalimantan Selatan. Ravel, gadis cantik yang harus menggantikan ayahnya yang sudah lama menginggal dan menjadi tulang pungging keluarga. Dia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan membayar biaya pengobatan ibunya yang depresi kerena ditinggal sang ayah.
Seperti biasanya hari ini diawali veline dengan membuat kue untuk dia jual di kantin sekolah. Ya walau lelah taipi inilah kenyataan hidup yang harus dijalai oleh Ravel. Sesampainya di sekolah, Ravel segera menuju kantin untuk menyerahkan jualannya kepada ibu kantin. “ pagi ibuu ini kuenya bu, ada 30 kue bolu kukus sama 20 kue sus yaa”. Ucap Ravel dengan ceria kepada ibu kantin. Ibu kantin pun tersenyum dengan rasa prihatin karena diusianya yang baru menginjak 15 tahun sudah harus bekerja keras demi biaya hidupnya.
Setelah selesai urusannya dikantin, Ravel pun berjalan santai menuju kelasnya. Ya dia bisa berjalan dengan santai. Karena meski harus membuat kue, dia tetap ingat kewajibannya sebagai pelajar ia harus ke sekolah karena itu dia menyesuaikan jam bangunnya agar tidak terlambat. Saat berjalan Veline tidak sengaja berpapasan dengan geng ‘Sky High’ yang terkenal sebagai pembuat onar. Kerap kali mereka membully Veline tanpa alasan. “ wih ada siapa nih yang lewat pagi pagi.” Ujar Teemor yang merupakan ketua geng Sky High. “hahahaha ya Pelin anak miskin itu lah. Bau kemiskinannya aja dah kecium masa bos ga tau” ucap Reva wakil ketua di Sky High. Seluruh anggota Sky High pun tertawa dan tetap melontarkan kata kata ejekan untuk Veline. Mendengar itu Veline merasa sakit hati, namun itu dia memilih untuk diam saja dan bergegas menuju kelasnya.
“AAAA PELIN DAH DATENG” ujar sang sahabat histeris. Ya inilah salah satu hal yang membuat Veline bertahan disekolah ini. Ada sahabat dan teman sekelas yang mau menerima anak miskin sepertinya dengan tulus serta tidak memandang rendah Veline dan tetap memperlakukannya seperti manusia pada umumnya. “eh Pelin udah kerja tugas MTK bu Nara belom?” Tanya Tasya sahabat Veline. “udah kok. Kenapa Sya?” ini lah Veline. Walau harus bekerja sepulang sekolah dan mengurs ibunya, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai siswi SMA. “ooo gapapa soalnya Tasya belum ngerjain yang soal terakhir bingunggg. Pelin boleh tolong ajarin ga?” mendengar itu Veline dengan senang hati mengajari sahabat satu satunya ini.
Setelah pulang sekolah Veline lanjut bekerja part time di sebuah café dekat sekolahnya. Awalnya dia sempat diragukan oleh pemilik café karena sudah banyak remaja yang mendaftar bekerja namun lalai dalam melakukan pekerjaan dan selalu datang terlambat. Namun berbeda dengan Veline yang rajin dan tepat waktu datang ke café sehingga membuat pemilik café percaya dan tetap memperkerjakannya. Bahkan memberinya bonus karena kedisiplinannya. Tanpa sada sekarang sudah jam 5 sore dimana waktu bekerja Veline berakhir.
Sepulang dari café Velin tidak langsung pulang kerumah. Dia harus belanja kebutuhan makan dan membuat kue untuk besok pagi. Veline memang anak yang ramah karena itu dia selalu disambut hangat oleh pedagang dipasar langganannya tersebut. “ pak Asep Veline beli sayur yang kayak biasa ya pak” ujar Veline kepada pak Asep pedagang langganannya di pasar Kali Dua. “iya dek Pelin tunggu sebentar ya” balas pak Asep “oke pak Asep”. Setelah selesai berbelanja Veline pun bergegas pulang kerumah untuk mengurus ibunya, membersihkan diri serta mengerjakan tugas yang ada.
Itu adalahh kehidupan sehari - hari yang Veline lalui. Kerasnya hidup tak membuatnya patah semangat. Justru kersanya hiduplah yang membuatnya menjadi anak yang kuat. Dengan semangat dan kedislipinan yang dia punya, membuat hidupnya terbantu. Banyak orang yang mempercayainya, bahkan pihak sekolah memberinya beasiswa karena dia menjadi murit yang rajin, pintar dan disiplin dalam sekolahnya.
