Tetangga-Tetangga Baru

390 27 43
                                        

Hari Minggu yang cerah di Kampung Cemara. Warga-warganya yang budiman rupanya sedang kerja bakti. Di depan pendopo kampung, tampak Pak Lurah sedang mengawasi kegiatan mingguan ini dengan sepenuh hati.

Rajin-rajin banget deh, nggak ngerti lagi. Mafumafu dan Sakata malah asyik balapan menyapu daun lalu diangkut ke gerobak sampah. Yah, walau Sakata kalah terus, kelihatannya seneng-seneng aja bersihin jalan.

Agak jauh dari pendopo, Senra sibuk membantu Pak Akatin dan bapak-bapak lain meng-upgrade pos ronda. Dia cuma bertugas ngulurin paku. Di atas sudah ada Soraru yang sigap menerima uluran paku dari Senra dan memasangnya.

Senra bingung. Soraru kan ngomongnya takut tinggi, ya? Tapi sekarang manjat pos ronda fine-fine aja, tuh.

Sebenarnya Senra mau gantiin, tapi Soraru bilang ntaran aja kalo udah capek. Yah, oke deh Senra nurut aja.

Sementara itu, Shima bergabung dengan Hanatan beserta dayang-dayangnya membawa makanan untuk warga. Habis meletakan gorengan di spot istirahat, doi dipanggil Kanseru untuk bantu bersihin selokan. Abis itu muter lagi cabut rumput bareng Ririri. Wes, udah kaya freelancer.

Pak Lurah senyum bangga sambil lihatin jam tangan. Setengah jam lagi jadwal kerja baktinya selesai. Lingkungan kampung udah kinclong. Nggak sia-sia juga program bapak selama menjabat jadi lurah sejak periode lalu.

Weits, jangan salah. Bapak juga kerja, kok. Beliau yang bertugas mendorong gerobak sampah ke TPA kalau sudah penuh. TPA agak jauh, sih. Tadi udah bolak-balik tiga kali pula. Yang dua kali dorongnya sendirian soalnya Madotsuki yang tadi membantu malah terperosok ke selokan. Betisnya berdarah karena terbarut. Untung Mbak Hanatan langsung gercep menerapkan ilmunya selama kuliah kedokteran.

Nah, cuma satu nih yang kayaknya Pak Lurah nggak sadar.

Urata Wataru si mas-mas tanuki nggak kelihatan batang hidungnya.

Hmm... padahal Sakata, Shima dan Senra udah disini. Kira-kira Urata kemana?

Tapi, mumpung Pak Lurah nggak sadar, ya udahlah ya, nggak usah diingetin. Nanti Urata diomelin karena bolos kerja bakti.

Nah, ternyata Urata sedang ngumpet di dalam rumah. Mengerjakan skripsi sambil selonjoran di lantai kamar bersama tumpukan buku. Jendela sengaja ditutup dan Urata menyalakan lampu belajar di dekat kasur. Boros listrik, mas.

Ctak!

Urata kaget sendiri setelah memencet tombol enter. Lupa kalau tombol keyboard-nya sudah krispi. Bunyinya kenceng banget.

Urata menggerakkan jarinya lagi untuk mengetik, pelan-pelan biar nggak menimbulkan suara. Sebenarnya Urata nggak berniat bolos kerja bakti. Cuman, ya...

Aduh, gimana ya? Habisnya kalo ketemu Pak Lurah disuruh-suruh mulu, sih.

Urata bukannya nggak mau membantu. Masalahnya Pak Lurah kalau ngasih tugas nggak kira-kira. Mentang-mentang Urata menjabat sebagai ketua Karang Taruna gitu kan, ya. Disuruh ngetik-ngetik dokumen segala macem. Pernah juga disuruh hitung uang iuran kampung. Kata Pak Lurah soalnya Urata kan kuliah di akuntansi.

Pengen protes dong Urata. Perangkat desa pada kemana, dah. Kok nyuruh anak muda ngitungin uang desa, gimana sih?

Karena nggak mau terlibat dalam hal-hal seperti itu lagi, akhirnya Urata memilih bolos. Lumayan, bisa sambil nyicil mengerjakan skripsi. Harusnya akhir tahun nanti Urata udah bisa wisuda. Tinggal nunggu skripsi aja.

Saat sedang melanjutkan mengetik, terdengar suara pintu depan dibuka, diiringi suara Sakata yang menyenandungkan lagu Salam Alaikum-nya Harris J.

"Assalamu'alaikum, 'alaikum yeah~,"

Kampung Cemara | An Utaite FanfictionStories to obsess over. Discover now