ELEGI.

95 8 2
                                        


️️

“Ke Jalan Banteng lagi ya Dén?”

Suara renta yang terang laras dikikis desir angin itu menyapa rungu, pun ia terengah dalam sela tanya karena kaki-kaki keriputnya 'tak henti mengayuh becak yang saya tumpangi. Saya menoleh sedikit, hingga presensi Mang Alit terlihat dari celah-celah kap atas dengan penyangga.

Betul Mang, seperti biasa. Saya mau jahit kemeja, Mang Alit masih ingat 'kan rumahnya?” Sahut saya, yang sepertinya juga sama-sama 'tak dapat dicerna jelas oleh pak tua di belakang sana.

Masih ingat Dén, saya 'kan sering antar Adén kesana! mana bisa saya lupa?”

Tawa-tawa kecil kami mengudara, mengiring roda becak Mang Alit yang bergulir menjamah bagian kecil Bandung sampai terhenti di Jalan Banteng dengan sempurna. Tepat di hunian sederhana, berplang kayu yang sedikit miring terhempas angin bertuliskan; TERIMA JAHIT PRIA DAN WANITA.

“Sudah sampai Dén,” tukasnya mantap.

Saya merogoh saku kemeja salur cokelat muda yang melekat di raga, menghitung pecahan rupiah lantas turun untuk serahkan itu pada 'supir pribadi' berkendaraan super nyentrik andalan saya. Saya lebih suka diantar Mang Alit daripada harus susah-susah bawa kendaraan sendiri, sebab lebih dapat menikmati lanskap Kota Kembang dengan leluasa.

“Dén ini lima ratus rupiah, sebentar Mamang ambilkan dulu kembali──”

“Kembaliannya untuk Mamang saja, lumayan seratus lima puluh rupiah untuk beli makanan!”

“Saya malu Dén, setiap Adén saya antar pasti ongkosnya selalu lebih! nanti saya jemput saja ya? Adén tinggal bayar sisanya?”

“Tidak usah, saya belum tau akan pulang jam berapa. Ambil saja ya Mang?”

“Terima kasih banyak Dén! tapi Adén agak pucat hari ini, sedang sakit?”

“Sedikit, saya masuk dulu ya mang? sama-sama untuk uang kembaliannya.”

Saya mengukir esem, lantas membawa serta tas kertas bertali rotan tipis berisikan kain katun pula satin───untuk masuk ke bangunan berpagar karat yang jadi destinasi paling sering saya hampiri belakangan ini. Tempat yang tak hanya mengonversi tekstil bawaan saya jadi mahakarya penghias raga, tapi juga tempat yang menyihir seluruh hidup saya jadi penuh makna, pula lebih bernyawa.

Dari luar, terdengar suara sepatu mesin jahit beradu dengan alasnya, kadang juga derit tuas pengatur jarak benang membahana kemana-mana. Saya menarik sudut-sudut labium lagi, yang jua memantik ujung manik hingga tertarik.

“Permisi!”

Saya mengetuk pintu beberapa kali, namun sayang tak dapat jawaban sama sekali, bahkan pintu yang pagan berdiri di hadapan tidak munculkan tanda-tanda akan terbuka. Saya menilik lewat jendela, mencari-cari empunya yang tak terlihat ada dimana.

Halaaah! saya paling malas menunggu, kemudian putuskan mengayun kaki ke arah pintu belakang yang terbuka beberapa senti. Sebetulnya masuk ke rumah orang tak bilang-bilang adalah perbuatan kurang terpuji, tapi Tuhan pasti memaafkan kalau tersangkanya itu saya. Terlalu percaya diri, ya?

Di ruang tengah, saya mendapati sosok beraroma familiar tengah menginjak-injak pedal mesin jahitnya penuh rasa, rambut hitamnya tipis-tipis tersapa arunika, bola matanya mengkilap bagai hiasan kaca. Saya mendekat, menaruh bawaan di atas meja lantas menyapanya dengan satu kecup mendarat di tengkuk lelaki itu, ia pun terperanjat sebelum menolehkan kepala.

“Dén?”

Laki-laki elok rupa itu melepas baju setengah jadi dalam kuasanya, kemudian bangkit lantas berdiri di hadapan saya.

HIKAYAT, 1985.Where stories live. Discover now