Senja itu, sinar lembayung tercurah ke segala arah. Dinding dinding masjid dan rumah menyatu dengan warna langit. Menanti sebuah keabadian malam.
Di sudut ibu kota Daulah Abbasiyah, aku melihat seperti seorang gelandangan sedang memegang halus serulingnya.
"Aku sama seperti dirimu wahai serulingku. Kerinduan ini seperti dirimu yang terpisah dari rumpun bambu" Ucap dia kepada serulingnya.
Aku pun mengabaikannya. Aku hanya menganggapnya seperti orang gila yg suka berbicara sendiri.
Aku terus berjalan menapaki jalanan kota Baghdad yang indah. Negeri 1001 malam, begitulah orang orang menyebutnya karena saking indahnya.
Pasar disana sangat ramai. Sangat berbeda jauh dari kampungku. Penjual buah, penjual gelang, penjual pakaian dan masih banyak lagi.
"Baju baju baju hanya 5 dirham.... Parfumnya dibeli pak bu... Kalung buat istri tercinta pak..."
Begitu sahut sahutan suara penjual disana. Saking ramainya seorang anak pun tak mendengar ketika dipanggil oleh ibunya.
Kemudian Azan mulai terdengar. Suaranya yg merdu membuat setiap hati terbawa dan menutup kebisingan pasar. Semua kepala tertunduk mendengar panggilan tuhan yg agung.
Tiba tiba gelandangan yg kutemui tadi berdiri di depan masjid dekat pasar dan menangis.
"betapa rindunya aku wahai tuhanku" Teriak dia.
Aku mengerutkan dahi dan heran dengan apa yang dia katakan. Sontak aku mengingat perkataanya tadi. Hatiku yg gelap terasa tersambar semburat sinar halilintar.
"Apakah ini yg di maksud dengan rindu oleh gelandangan tadi? Pertemuan seorang pecinta dan kekasih dalam sebuah naungan yg agung. Apa salat inilah yang dia maksud?" Tanyaku dalam hati.
Segera semua orang mengambil air wudhu dan bersiap melaksanakan salat maghrib berjama'ah, begitu juga denganku.
Aku selalu memerhatikan gelandangan itu. Aku sangat penasaran dengannya. Dia selalu melaksanakan segala sesuatu dengan menangis dan penuh hikmah.
Sampai salat maghrib selesai, aku tetap berada di dalam masjid sampai azan isya. Karena kebiasaan orang setempat mereka tidak beranjak dari masjid hingga salat isya selesai. Ada yang membaca Al Quran, berdzikir, mendengarkan kajian dari seorang Syeikh, hingga ada yang berbincang bincang satu sama lain. Aku sendiri masih memerhatikan gelandangan tadi.
"Allahu Akbar.... Allahu Akbar.... " Azan isya sudah mulai, semua bersiap untuk salat isya berjama'ah.
"Assalamu'alaykum warahmatullah... Assalamu'alaykum warahmatullah"
Salat Isya pun usai dan semua orang seperti biasa berdzikir selepasnya lalu beranjak pulang.
Mataku tak henti hentinya tertuju pada gelandangan tadi. Dia terus saja menangis tiada henti seperti orang bertemu dan berpisah.
"Assalamu'alaykum, Siapakah dia wahai paman?" Tanyaku kepada orang disebelahku.
"Oh... Dia ya?... Dia itu orang gila, orang orang memanggilnya si gila yang cengeng, karena dia gemar sekali menangis" Jawab dia.
Aku terkejut. Ternyata benar dugaanku tadi, dia memang orang gila. Aku melihat dia berbicara sendiri dari tadi.
Tak lama kemudian dia pergi meninggalkan masjid. Aku pun juga beranjak untuk pergi mengikutinya diam diam.
Setelah jauh mengikutinya, aku melihat dia berhenti di sebuah jalan kecil yang sepi di antara dua toko. Kemudian di suatu penerangan jalan, dia menghampar sebuah kain lusuh untuk dijadikan tempat duduk dan tempat tidur. Sambil mengeluarkan serulingnya, dia menatap langit malam yg penuh bintang. Kemudian menyenandungkan serulingnya begitu halus dan lembut.
Aku mendengarkan alunan serulingnya yang begitu merdu dan memerhatikan penghayatannya. Bunyinya begitu menghiasi sunyinya malam. Ketenangan yang jarang sekali aku dapati.
Lalu aku mencoba menghampirinya.
"Si... si... siapakau?" Tanya dia dengan nada setengah ketakutan.
"Aku Kasim. Jangan takut, aku hanya ingin mendengarkan permainan serulingmu" Jawabku padanya.
Tanpa perbincangan panjang, dia melanjutkan meniup serulingnya. Aku terus mendengarkan permainannya hingga aku larut dalam lamunan.
Tak lama kemudian, dia berhenti meniup serulingnya dan menatap langit sambil menangis.
"Kenapa kau menangis paman?" tanyaku padanya
"Aku ingin agar nafas dan serulingku ini menjadi saksi atas cinta dan rinduku kepada kekasihku" jawab dia sambil tersedu.
"Suara ini telah menutup telingaku dari suara orang orang yang penuh dengan kemunafikan. Seruling ini lebih baik dari pada mulut manusia" Lanjut dia.
Aku tercengang mendengar jawabannya. Ternyata dia bijak sekali. Aku heran kenapa ada orang gila bisa berpikiran seperti ini.
"Hey anak muda, mau kah kau membacakan ayat Allah untukku? aku tak bisa mengaji" minta dia kepadaku
"E... Baiklah, Bismillahirrohmanirrohim"
"Cukup!!" Teriak dia sambil menangis tersedu sedu.
Aku heran, padahal aku baru membaca bismillah, tp dia memerintahkanku untuk berhenti.
Dia terus saja menangis, hingga dia lupa bahwa disampingnya ada aku. Dengan perasaan tidak enakku, aku pergi meninggalkannya.
Sambil menyusuri jalan, aku bertanya tanya dalam hati, kenapa dengan dia, padahal aku baru membaca bismillah. Apa mungkin karena dia gila.
"Whoa???" Seketika aku tersadar.
"Sebentar....Bukan dia yang kenapa, tapi aku yang kenapa. Aku sudah berulang kali membaca Al Qur'an tapi tak ada satupun ayat yang masuk menggetarkan jiwaku. Sedangkan dia baru mendengarkan bismillah saja hatinya sudah bergetar dengan dahsyatnya" Ucapku dalam hati.
Aku terus bertanya tanya. Bagaimana bisa keimanan dia begitu besar, padahal dia orang gila. Air mataku tiba tiba mengalir.
"Ya Allah, aku bukanlah siapa siapa dimatamu. Saat salat pun aku masih memikirkan dunia hingga aku sering terlupa jumlah rakaat dalam salat. Tidak ada satu pun ibadah yang aku kerjakan dengan hikmah. Semua berlalu bagaikan dedaunan diterpa angin. Lalu bagaimana bisa aku hidup di dunia ini dengan tenang?"
Ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagiku. Orang gila yang sebenarnya waras di mata tuhan dan aku orang waras yang sebenarnya gila di mata tuhan. Karena orang gila itu hatinya sudah terisi cahaya dari tuhan, sedangkan aku, masih sibuk memikirkan kehidupan dunia.
Aku lanjutkan perjalanan ku, kemudian berhenti di serambi sebuah mesjid untuk bermalam disana. Kuletakkakan tasku menyandar sebuah tiang dan aku pun tertidur berbantalkan tas.
