[Lapak gemes-gemesan]
Menceritakan keseharian dua duda tampan yang mengurus masing-masing ketiga puteranya dengan watak yang berbeda-beda. Pastinya harus menguras tenaga dan emosi.
🐺 Chan's family (Changbin, Felix, Seungmin)
🐰 Lino's Family (Hyunj...
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Di sebuah kompleks perumahan elit ternama di Seoul, berdiri tegak sebuah hunian megah yang oleh para tetangga dijuluki sebagai Rumah Sultan. Rumah itu bertingkat tiga, dilengkapi kolam renang pribadi yang berkilau di bawah sinar matahari, serta taman belakang yang luasnya hampir seluas lapangan futsal mini. Pagar besi hitam mengilap mengelilingi properti tersebut, memberikan kesan eksklusif sekaligus misterius.
Julukan Rumah Sultan bukan tanpa alasan. Bukti kemewahan itu sering kali menjadi bahan gosip hangat di arisan ibu-ibu komplek. Salah satu sumber terpercaya--atau mungkin lebih tepat disebut spy amatir--adalah Mbak Mawar, tetangga yang tinggal tepat di seberang jalan.
Mbak Mawar pernah bersaksi (dengan nada berbisik-bisik penuh drama) bahwa ia pernah--tidak sengaja--melintasi depan garasi rumah Chan saat sedang menjemur pakaian. Dan apa yang dilihatnya? Tiga unit mobil sport mewah berwarna hitam, merah, dan putih, diparkir rapi berdampingan dengan dua sepeda motor klasik edisi terbatas. Semua dalam kondisi prima, seolah-olah siap meluncur ke jalan raya kapan saja.
Modus Mbak Mawar sebenarnya ingin menyapa, tapi kakinya malah melangkah liar menuju celah pagar untuk mengintip isi garasi.
Jangan ditiru kelakuan Mbak Mawar ya, Nak. Itu tidak sopan.
Skip.
Di balik kemewahan dinding-dinding marmer dan lantai kayu jati itu, hiduplah Christopher Bang, atau yang lebih akrab disapa Chan. Seorang pria tampan berkewarganegaraan Australia-Korea, dengan rahang tegas dan senyum yang mampu melelehkan hati siapa saja. Namun, di balik penampilan sempurna itu, Chan adalah seorang duda.
Hidup sendiri di rumah sebesar itu terkadang membuatnya merasa hampa. Jika ia memiliki istri, mungkin pagi harinya tidak akan diwarnai dengan kekacauan memasak telur dadar yang setengah gosong, atau perjuangan mencari kaus kaki yang hilang di antara tumpukan mainan. Intinya, jika ada istri, Chan tidak perlu repot melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendirian.
Tapi mau bagaimana lagi? Hati Chan sudah tertutup rapat. Bukan karena benci cinta, melainkan karena ia masih menyimpan seseorang di sudut hatinya yang paling dalam. Seseorang yang dulu sangat ia cintai, dan entah mengapa, rasa itu belum juga pudar meski waktu terus berjalan. Chan memilih untuk fokus membesarkan ketiga puteranya, menjadikan mereka dunia utamanya.
Andai saja kalau Chan bisa melupakan masa lalu ...
"Daddy!"
Suara lengkingan tinggi memecah keheningan pagi itu. Chan yang sedang sibuk merapikan dasi di depan cermin lorong, terperanjat kaget. Ia menoleh ke kanan, ke kiri, bahkan ke atas. Kosong. Tidak ada siapa-siapa.