Sepercik kisah Devano

23 2 1
                                        


Perusahaan Future Company yang tak lain adalah perusahaan yang didirikan oleh seorang Deardo Pradipta, perusahan yang bergerak pada bidan gurniture ini cukup sukses dan menjadi unggulan di dunia industri saat ini. Banyak perusahaan besar lain yang bersaing untuk mengalahkan eksistensi perusahaan FC ini namun sampai saat ini belum ada yang mampu menyaingi perusahaan tersebut. Banyak pula pimpinan perusahaan pesaing yang berlomba-lomba untuk memasuki perusahaan tersebut, baik dengan cara terang-terangan atau terselubung seperti menjodohkan putri mereka dengan kedua anak bujang keluarga Pradipta ini, namun beliau menolak dengan beralasan bahwa mereka berhak untuk menentukan cinta dan masa depan mereka masing-masing.
Hampir yang semua orang tahu kalau bapak Pradipta ini memiliki dua orang putra yang sangat tampan. Ya, mungkin hanya itu yang orang-orang ketahui. Anak pertamanya yang bernama Devano Singgih Pradipta yang kini sedang menempuh bangku kuliah jurusan hukum dan anak keduanya yaitu Jenovan Candra Pradipta yang kini masih duduk di bangku SMA.

Devano yang bewajah tampan dengan kepribadian ceria namun suka seenaknya selalu digadang-gadang akan menjadi pewaris pertama dari perusahaan Future Company ini. Namun ayahnya tak pernah menuntutnya untuk mempelajari segala sesuatu tentang perusahaan tersebut. Ia berfikiran karna usia mereka yang masih cukup muda mereka pantas mendapatkan kebebasan dan menggapai cita-cita sesuai keinginan mereka masing-masing. Terlebih karna kedua anaknya adalah laki-laki ia merasa tidak adil jika harus membebankannya hanya kepada satu orang. Oleh karena itu beliau selalu bersikap adil terhadap anak-anaknya. Toh nanti jika mereka sudah dewasa pasti akan memiliki pemikiran yang lebih bijak dan bertanggung jawab.

Tak sedikit pimpinan dari perusahaan pesaing yang berlomba-lomba untuk menjodohkan anaknya dengan Devano. Jelas siapa yang tidak tertarik untuk mendapatkan menantu tampan berpendidikan dan digadang-gadang akan menjadi perwaris dari perusahaan Future Company tersebut. Namun bapak Pradipta menyerahkan semua keputusanya kepada yang bersangkutan alias Devano sendiri. Namun dibanding menerima perjodohan yang ia sendiri sudah tahu kemana arah tujuanya, ia justru menjalin hubungan dengan seorang gadis sederhana yang tak lain adalah teman satu kampusnya.
Devano tidak pernah berpikir untuk memandang dari keluarga mana ia akan memilih seorang pendamping, baginya cinta adalah hal terpenting yang harus ada saat ia menjalani sebuah hubungan. Tak peduli dari keluarga mana atau pemilik perusaan apa asalkan Tuhan telah memberinya sebuah cinta maka ia akan menjaganya. Clarissa Anora Cendana adalah gadis sederhana yang ia temui pertamakali saat ia sedang menjalani masa orientasi, saat itu entah apa yang membuat seorang Devano bisa jatuh cinta denganya. Jika dibilang dari parasnya banyak wanita lain yang lebih cantik yang mengejarnya, namun hatinya telah terpaut oleh kesederhanaan seornag Clarissa, ia bukan anak dari pengusaha atau pewaris perusahaan tertama, ia hanya anak dari seorang pegawai biasa.

Kisah asmara Devano bahkan bisa dibilang tidak semulus yang orang pikirkan. Pertama kali bertemu dengan Clarissa ia berusaha mati-matian hanya untuk mendapatkan nomor hp nya, bahkan untuk sekedar mengetahui namanya saja ia harus rela bertanya kepada panitia ospek saat itu, sikap dingin yan Clarissa miliki menjadi tantangan dan sensasi tersendiri bagi Devano.
"Mbak cantik boleh minta nomor hp nya nggak?"

"Idiih siapa lo kenal juga nggak minta nomor, mau ngisiin pulsa lo?"

"Kalau kamu mau apa sih yang nggak buat kamu, jangankan pulsa, operatornya aku beliin buat kamu hehe, sini bagi nomernya makanya hehe."

"Idiih sorry gue nggak tertarik sama lo apalagi sama gombalan sampah lo itu, nggak mempan buat gue."

"Astaga galak banget mbak, jangan galak-galak nanti cantiknya luntur lo hehe bercanda."

"Iiiissh siapa sih lo ganggu mulu."

"Kenalin mbak saya Devano Singgih Pradipta, bisa dipanggil Devano atau Vano juga bisa, mau panggil sayang juga boleh hehe."

RewindWhere stories live. Discover now