1

238 22 2
                                        


Seorang gadis berparas cantik tampak terburu-buru berangkat ke kampus karena, tentu saja, ia sudah kesiangan.
Namanya Airin, gadis cantik yang cenderung ceroboh dalam bertindak. Terbukti, ia hampir terjatuh karena tidak sengaja menginjak tali sepatunya.

"Haish... kenapa bisa kesiangan seperti ini? Bodoh kau, Airin. Lihat saja, Ms. Suny pasti akan mengomelimu hari ini. Habis sudah," rutuknya dalam hati.

Airin adalah mahasiswi di salah satu kampus ternama di Korea. Ayah dan ibunya sedang menjalankan bisnis di London, membuatnya harus tinggal sendiri di Korea. Namun soal keuangan, itu bukan masalah—orang tuanya selalu mengirimkan uang setiap bulan.

Ketika tiba di depan kelas, Airin mengendap-endap. Ia berencana masuk diam-diam selagi dosen cantik namun terkenal galak itu masih menulis di papan tulis.

"Berhenti di sana, Airin!" ucap Ms. Suny yang ternyata sudah menyadari kehadirannya. "Kau terlambat 25 menit. Jangan harap bisa ikut pelajaran saya hari ini. Silakan keluar dari kelas."

"Tapi..."

"Sekarang, Airin!"

"Baiklah..." ucap Airin dengan berat hati sambil melirik ke arah sahabatnya yang hanya menggeleng kecil, seolah berkata, "Kau selalu mengulanginya."

Sahabat Airin bernama Krystal—gadis berparas sempurna bak dewi. Ia menjadi mahasiswi terpopuler di kampus, bahkan kepopulerannya meluas hingga ke kampus lain. Jika Airin belum mengenalnya, mungkin ia akan mengira Krystal adalah seorang idol.

Krystal tidak hanya cantik dan pintar, tapi juga cuek. Namun ada pengecualian untuk Airin. Ia satu-satunya orang yang bisa dekat dengannya. Menurut Airin, Krystal adalah sosok misterius. Krystal tidak pernah membicarakan keluarganya, dan bahkan Airin tidak tahu di mana rumah sahabatnya itu.

Bukankah sahabat seharusnya saling tahu tempat tinggal masing-masing? Namun tidak dengan Krystal. Setiap kali Airin ingin mengantarnya pulang, Krystal selalu menolak dan berkata, "Tidak usah, rumahku tidak terlalu jauh. Lagi pula kita beda arah."

Tapi kalau tidak jauh, mengapa Airin tidak pernah tahu lokasinya? Untung saja Airin bukan tipe yang suka mengusik privasi orang lain. Ia berpikir mungkin Krystal punya alasan sendiri yang belum bisa ia ceritakan. Yang jelas, bagi Airin, memiliki sahabat setulus Krystal saja sudah cukup.

Setelah diusir dari kelas, Airin memutuskan pergi ke perpustakaan. Setidaknya, ia bisa menghabiskan waktu sambil membaca buku sampai mata kuliah berikutnya.

"Permisi, apakah ada buku baru hari ini?" tanya Airin.

"Tidak ada, Nak. Kau sudah membaca hampir semua buku di sini. Untuk ukuran mahasiswi, kau termasuk rajin," ucap penjaga perpustakaan sambil tertawa. Ia tidak tahu bahwa Airin sering ke perpustakaan bukan karena rajin, tapi karena sering terlambat masuk kelas.

"Baiklah, sepertinya aku hanya akan menghabiskan sedikit waktu di sini," jawab Airin sambil tersenyum lalu masuk ke dalam.

Ia menelusuri rak demi rak, mencari buku menarik, namun nihil. Hingga akhirnya, di rak paling ujung, matanya menangkap sesuatu yang tak biasa.

"Sejak kapan ada pintu di sini?" gumam Airin heran melihat sebuah pintu kecil di pojok ruangan. Rasa penasarannya mendorongnya untuk mendekat.

"Tidak terkunci..." batinnya sambil mengintip ke dalam. Di sana hanya ada tangga yang menurun ke bawah. "Tangga? Menuju ke mana?"

Airin pun memutuskan untuk menuruninya. Lorong itu gelap dan hanya diterangi lilin-lilin kecil. Ia terus berjalan hingga tiba di sebuah ruangan besar yang membuatnya terpaku.

"Wah... apa ini perpustakaan bawah tanah?" ucapnya kagum. Rak-rak tinggi menjulang hampir menyentuh langit-langit, penuh dengan buku-buku antik yang tetap terawat.

Ia menelusuri setiap rak, hingga perhatiannya tertarik pada satu buku. "Immortal...?" baca Airin perlahan sambil membuka halaman pertama.

"Werewolf? Vampire? Mate? Alpha?" gumamnya. "Kenapa buku ini sangat detail? Apa ini buku dongeng? Hahaha... aku heran siapa yang menulisnya dan kenapa bisa ada di kampus. Buku seperti ini tidak cocok ada di sini."

Namun tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri. Ia merasa seperti sedang diawasi.

"Apakah di sini ada orang?" panggil Airin, mencoba memecah keheningan. Tak ada jawaban.

"Hellooo..." panggilnya lagi, tetap nihil.

Srrreeettt...

Sesuatu melesat di belakangnya. Ia menoleh cepat—namun tidak melihat siapa pun.

"Apakah ada orang di sini?" bisiknya ketakutan, meski rasa penasarannya belum surut.

"Sedang apa kau di sini...?"

Suara itu mendesis di telinganya. Airin menoleh, dan seseorang berdiri tepat di depan wajahnya.

"AAAAAARRRGGGHHHHH!!!"

TBC...

IMMORTALWhere stories live. Discover now