Kedua kakinya yang ia biarkan mencapai batas teduh dari atap-atap halte, membuat sepatu dan kaus kaki di dalamnya basah kuyup karena rintik bekas hujan yang masih saja menetes dari genting-genting atap halte.
Dirinya sebenarnya tak peduli juga, bagaimana nanti kakinya akan lecet ataupun terluka. Jam pulang sekolahnya juga sudah sejak tadi telah selesai, saat ini hanya ada langit jingga yang tengah memburam menjadi warna biru kelam, dan juga bagaimana teriakan deru lalu lintas yang sibuk sendiri di hadapannya, ia bungkam dengan suara musik yang berasal dari earphonenya yang sudah berada di kedua telinganya.
Semilir angin petang hari ini terus menghantam tengkuknya yang terbebas dari surai hitamnya yang ia ikat. Sesekali dalam lelapnya bersandiwara seakan tak peduli apapun keadaan sekitar, jari jemarinya merambat lembut tengkuknya, mengusir gelitikan resah yang terus merambat sejak satu jam yang lalu.
Ponselnya yang masih belum memunculkan notifikasi yang diinginkannya, ia remas dengan kuat. Degupan jantungnya melemah dalam kosongnya netra yang detik ini juga telah menyerah untuk berusaha bertahan. Dia akhirnya beranjak dari duduknya, lalu berjalan menjauh dari kawasan sekolahnya.
“Clara! Clara!” teriakan panggilan samar-samar bagi dirinya seketika menyentaknya dalam lamunan. Ia menoleh, menatap seorang lelaki yang kini tengah panik mengejarnya. Setelah mengetahui siapa yang memanggilnya, ia membuka kedua earphonenya dan menunggu lelaki itu datang kepadanya.
Saat lelaki itu telah berada di hadapannya dengan keadaan tersengal-sengal, ia tersenyum tipis. “Urusan lo udah selesai, Kal?” tanyanya.
Lelaki yang bernama Haikal itu mendongak, lalu mengangguk. “Iya, ayo pulang,” ajak Haikal, lalu lelaki itu menggapai tangannya, dan menggenggamnya dengan mudah. Sontak perbuatan yang dilakukan lelaki yang kini sudah berada di sebelahnya, membuat dirinya merasakan kehangatan yang sebelumnya terasa hilang.
Dalam langkah mereka kembali, wajahnya dipenuhi rona kemerahan yang membuat dirinya tanpa sadar menunduk malu. Sedangkan, lelaki di sebelahnya terkekeh ringan.
“Kenapa nunduk?” tanya Haikal yang membuat ia mendecih.
“Lihat jalan,” gerutunya.
“Lihat jalan tuh harusnya lihat ke depan bukan ke bawah, biar nggak kena tiang halte.” Sembari berbicara kepadanya, Haikal di sampingnya sejenak menempelkan tangannya di dahinya. Seketika itu juga, ia mendongak dan netranya membelalak saat ia menyadari bahwa hampir saja ia terbentur tiang yang tepat berada di hadapannya sekarang.
Suara kekehan kecil terdengar lagi dari Haikal, dan tentu saja itu membuatnya mendesis. “Maaf, sih,” lirihnya.
Salah satu telapak tangan Haikal yang sebelumnya berada di dahinya, kini beranjak ke pucuk kepalanya. Di sana, lelaki itu membiarkan jari jemarinya mengusap pelan surai yang telah kusut akibat teriknya sinar matahari sebelumnya.
“Clara, gua minta maaf lagi karena telat buat jemput lo.” Akhirnya pembicaraan yang sejak tadi ia hindarkan, terdengar juga dari bibir Haikal. Ia tersenyum kecut, mengalihkan tatapan matanya dari apa saja selain kedua netra hitam Haikal. Ia diam, memilih melepaskan tangan Haikal dari surai gelapnya.
“Clara, lo kenapa?” pertanyaan itu ia acuhkan, dalam langkah yang terus ditempuhnya di jalanan trotoar kota, ia menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Menatap nanar pemandangan kota yang telah menggelap di balik ricuhnya percakapan asal kendaraan yang melintas.
Selama ini seperti orang bodoh, ia terus menunggu Haikal dalam setiap langkahnya, karena ia menganggap sahabat lelakinya merupakan ‘rumahnya’. Tanpa memedulikan fakta lain yang terus berusaha menghalau perasaannya.
Dengan senyum teduh Haikal yang terbentuk dengan mudah saat berhadapan dengan dirinya, membuat ia akhirnya terus mengalah dalam gejolak rasa bersalah yang selalu menghanyutkannya dalam kekalutan yang tiada habisnya.
YOU ARE READING
UNDER-FOREVER, lee haechan.
Fanfictionone shot au, local lee haechan. Di mana dirinya lah yang menjadi rasa yang ketiga di antara mereka.
