Taruhan

37 5 0
                                        

"Bang cheol, taruhan kuy! "
Seru si tiang tampan bernama Kim Mingyu. Yang dipanggil langsung menurunkan buku yang sedang ia baca.
"Kalo taruhan nya sampah, gua gak tertarik dan juga bukan nya fokus kerja lo, malah ngajak taruhan. "
Ucap Choi Seungcheol datar, si kutu buku di perusahaan ini memang tidak suka hal yang menarik seperti nya.

"Aelah biarin dulu dah kerjaan, nah taruhannya menarik nih, dapetin hati si Yoon Jeonghan itu loh, gimana? Mau kagak? "
Tanya Mingyu, Seungcheol yang awalnya datar langsung menutup bukunya dan menatap tajam mahluk tinggi yang sedang duduk di hadapannya.
"Gila lo ya? Jeonghan sejak awal dingin bener, apalagi si Jisoo yang overprotective bener sama sahabatnya itu. "
Ucapnya yang begitu cepat seperti rapper terkenal. Mingyu terkekeh lalu berkata,
"Berati lo setuju kan? Oke, dalam waktu seminggu. "

____________Taruhan_____________

Yoon Jeonghan, si gunung es berjalan itu sedang duduk di area yang jarang di datangi oleh rekan kerjanya, tempat dimana ia beristirahat bersama sahabat nya tanpa harus melihat orang lain. Ia bukanlah seorang pemalu atau introvert, dia hanya malas harus berinteraksi dengan orang lain. Baginya, menambah pertemanan sama saja menambah beban. Sudah cukup teman satu saja tapi dapat dipercaya sepenuhnya daripada teman banyak tapi tidak dianggap.

"Jeonghan! Maaf lama datang, tadi aku kerjaan tambahan. "
Ucap seseorang yang tiba tiba sudah duduk di sebelah nya, Jeonghan tersenyum.
"Tak apa Jisoo-ya, lagipula aku baru sampai beberapa menit yang lalu. "
Ucapnya datar, walaupun dengan wajah yang tersenyum tipis.
"Oh ya, kau ingat sepupu ku tidak? "
J

eonghan menatap Jisoo heran tapi ia mengangguk pelan.
"Ya, aku masih ingat pastinya. "
"Dia ingin ikut makan bersama, tak apa? "
Ucap Jisoo sambil memakan makanan nya. Jeonghan mengangguk lagi, ia terlalu malas untuk berbicara. Ya tak heran lagi kenapa dia disebut gunung es, bukan hanya hatinya yang begitu tertutup namun dia juga malas berbicara. Tanpa basa basi, Jisoo langsung memanggil sepupunya, Kim Mingyu.

Setelah makan bersama dan perjuangan Mingyu yang mau ngedeketin Jeonghan secara diam diam :)

"Soo-ya, aku pulang duluan ya, mama ku sudah spam telepon. "
Ucap Jeonghan sambil membersihkan barang barangnya. Jisoo hanya tersenyum lalu mengangguk, berbeda dengan Mingyu yang sedari tadi hanya diam.
"Bang Jeonghan, mau gua anter ke rumah lo gak? "
Tanya Mingyu sambil berdoa dalam hati agar mahluk cantik di depannya menjawab 'ya'. Dan doa Mingyu gagal.
Jeonghan langsung pergi begitu saja, sepertinya dia terburu buru sekali.

"Gyu, jangan berusaha untuk ngambil hati nya Jeonghan. Dia orangnya penuh misteri dan juga banyak yang lindungi dia dari jauh, apalagi orang yang melindungi nya itu cukup mengerikan. "
Ucap Jisoo sambil menepuk pelan bahu tegap milik Mingyu. Mingyu terdirm sejenak lalu bertanya,
"Maksudnya banyak yang lindungi dia dari jauh? dan juga apa maksudnya orang yang mengerikan? "
Jisoo hanya tersenyum yang terlihat agak mengerikan, lalu menarik tangan Mingyu untuk pulang.

____________Taruhan_____________

"Aku pulang! "
Ucapnya sambil menutup pintu masuk. Dia langsung didatangin oleh seorang anak kecil sekitaran 5 tahun.
"Jeonghan? Sudah pulang toh, beristirahat lah sana. "
Ucap seseorang yang sedang menuruni tangga dan menghampiri mereka. Jeonghan yang merasa namanya dipanggil langsung menghampiri orang itu dan berdiri di depannya sambil tersenyum manis. Ia sekaligus menggendong anak kecil didepan nya tadi.
"Aku tau kau melihat semuanya, kau tak bisa membohongi ku Tuan Choi Seungcheol. "

Seungcheol hanya menatap nya sambil tersenyum tipis, dia membenarkan posisi kacamata nya sejenak. Lalu mengambil anak kecil yang Jeonghan gendong tadi dan menepuk pelan punggung kecil anak yang dia gendong.
"Ya, aku selalu melihat semuanya, Choi Jeonghan. "
Ucapnya sambil menekankan nama Jeonghan. Mahluk cantik di depannya hanya terkekeh dan mengecup bibir Seungcheol.

Taruhan Donde viven las historias. Descúbrelo ahora