"Teater Kecil"
•
•
•
•
•
Plakkk!!
Suara itu terdengar sangat nyaring menelisik seluruh penjuru ruang di rumah nan megah ini
"Dari mana kamu!?" bentak wanita paruh baya yang kini tak bisa menyembunyikan wajah merah padam nya
Plakk!
Suara itu terdengar untuk ke dua kalinya.
Gadis itu hanya berdiri, matanya kosong tidak ada sinar di matanya, bahkan air mata seperti tak sudi keluar dari maniknya
"Sekarang berani kamu bohongi ibu ?" Suaranya bergetar tersirat luka dalam nadanya
Plak!! Plakk!!
Suara beruntun berasal dari pipi yang dulu dicium dan dibelainya
"Sekarang berani pergi sampe malem ga pulang pulang hah? anak gadis macam apa yang jam segini baru pulang?" Tangis sang ibu pecah saat dia menyelesaikan kata katanya tersebut,
Hana sang ibu hanya bisa menangisi tingkah laku anaknya tersebut, dia beranjak untuk duduk di sofa, menangkup wajahnya menutup semua tangis yang sudah luruh menerobos pertahanan nya
Alana gadis tersebut hanya menatap kosong ke arah sang ibu, yang tengah menangis, sepersekian detik setelahnya dia hanya tersenyum sambil melenggang pergi ke kamarnya
"Alana ke kamar" ucapnya dengan nada lirih
"Alana berhenti kamu, ibu belum selesai bicara!"
"Alana!!"
Namun nihil Alana bahkan tidak menghentikan langkahnya, terdengar pintu kamar yang tertutup dengan keras.
Badannya luruh bersandarkan pintu, tangisnya pecah, dadanya begitu sesak , perih pada pipi dan darah yang keluar dari bibirnya, tak seberapa dengan rasa sakit di hatinya, seseorang yang dulu begitu lembut membelainya, suara halus yang selalu menenangkan kegelisahan nya kini bagai lenyap ditelan ombak.
"Harus bagaimana lagi hidup ku" ucap Alana pada dirinya sendiri, dia memandangi cermin yang berdiri lurus didepannya.
Dengan langkah gontai dia mendekati cermin tersebut
"Alana matamu terlalu indah untuk menangis lagi dan bibirmu menjadi lucu karena bengkak hehe" jari alana bergerak menghapus jejak luka namun itu semua tak bisa menyiratkan luka pada hatinya
Yea, Alana mungkin sudah terlihat seperti orang gila saat ini, namun tidak ada yang tau itulah cara dia bertahan di hidupnya. Dia hanya memerlukan support system' dari dalam, itu saja. Kehilangan selalu menjadi teman dalam hidupnya.
Setelah membersihkan diri dia kemudian bersiap untuk tidur. Dirinya cukup lelah namun matanya seperti tak ingin istirahat, dia terbaring sambil melihat bintang bintang yang terpantul pada jendela kamarnya
Secara tak sadar dia mengangkat tangannya
" Langit, bolehkah kau berikan satu bintang mu untuku, kurasa hidup ku terlalu gelap, dan dunia tak akan gelap saat kau bermurah hati memberi satu bintang untuk ku"
Alana tertawa dengan monolognya sendiri dia kemudian mengeratkan pelukannya pada bantal guling berwarna pink disampingnya, selalu ada harapan di setiap mata yang tertutup untuk esok yang lebih baik bagi Alana.
Kringg...... Kringggg
Terdengar suara nyaring dari jam weker diatas nakas. Sang empu mulai mengerjap dan membuka matanya.
