Jarak

18 1 0
                                        

Sepertinya jarak kita begitu berlapis,
Kita bukan seperti seorang demonstran yang lantang menyuarakan aspirasi-aspirasinya untuk revolusi,
Mungkin kita senang akan kesunyian,
Kita bersembunyi dibalik kata yang multi makna,
Aku tak tahu apakah ada banyak hal yang ingin kau katakan padaku,
Semua kata dan makna yang selama ini kau ataupun aku sampaikan,
Ianya berlalu dan berjalan menyusuri lorong sunyi nan begitu banyak terjal,

Apakah kita seperti sedang bermain bisik berantai?
Dimana kita secara bergantian menjadi penyampai ataupun penerima pesan pertama ataupun kesekian,
Di satu titik kita lelah oleh jarak,
Kita tetap berjalan,
Hingga terpisah di persimpangan jalan,

Kau berjalan terus,
Mungkin bersama sepimu,
Aku masih menengokmu dan termenung bingung bersama ingatanku yang selalu kurangkul,
Hingga rintik hujan dan suara-suara petir menyadarkanku dari lamunan,
Lalu ku teringat tentang sepatuku yang ikatanya kusut, juga dengan rantai sepedaku yang lepas

Akupun mengalihkan fokus dari kau yang terus berjalan bersama sepimu,
Aku berjalan menggandeng sepedaku menuju sebuah bengel untuk perbaiakan sepeda,
Aku duduk dan membenarkan tali sepatuku yang kusut tadi,
Karena aku suka untuk merangkul ingatanku,
Aku teringat kau yang berjalan tadi,
Kau nampak jarang menunjukan perasaanmu,
Aku jadi tak tahu,
Semoga perasaanmu baik-baik saja,
Semoga perasaanku baik-baik saja,
Semoga perasaan kita baik-baik saja.

Dari aku, Kamis, 29 Juli, 2021

Aku tak jago bikin poem, hehe, thanks for your reading...

Tulisan RandomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang