Renjun, salah satu member dream dengan wajah semanis madu itu sedang bersiap-siap mematut wajahnya di depan cermin sekilas. Tidak banyak yang perlu dipoles ke wajah mulus itu cukup pelembab untuk wajah dan lipcream agar bibirnya tetap terlihat sehat. Karena toh nanti wajahnya itu akan di poles yang lebih lagi untuk kepentingan pemotretan.
Selesai dengan itu semua, diapun bergegas untuk keluar dari kamar setelah dirasa penampilannya sudah cukup rapi dengan kaos lengan panjang berwarna hijau milik mark—dia memang sengaja meminjamnya untuk pemotretan—serta celana coklat panjang bermotif.
"Oke, not bad lah." gumamnya dengan senyuman.
Saat keluar dari kamarnya, bagai sebuah takdir dia keluar bersamaan dengan Jeno yang juga sedang keluar dari kamarnya dengan fest berwarna coklat tanpa dirangkap selembar kainpun didalamnya. Lengan ber bisep yang kekar itu terekspos dengan bebas. Sepertinya telepati keduanya sangat kuat ya?
Mereka berdua saling melempar tatap dengan dengan raut agak terkejut. Hm mungkin mereka merasa heran kenapa bisa timingnya sepas ini. Atau karena hal lain? seperti, terkejut karena dihadapkan dengan sang pemilik hati tanpa aba-aba apalagi dengan penampilan seperti itu.
Detik berikutnya masih tidak ada yang frasa menyeruak untuk memecah keheningan, hanya terdengar hembusan nafas pendek-pendek yang saling bersautan bersamaan dengan denting jam dinding. Keduanya hanya saling menatap dalam ke obsidan masing-masing tanpa bergerak. Oh jangan lupakan detak di jantung mereka yang juga sama kerasnya dengan denting jam. Atau mungkin denting jam itu hanyalah sebuah ilusi? yang sebenarnya mereka dengar adalah detak jantung masing-masing?
Lengkungan dari belah bibir si manis akhirnya terbentuk kala ia tersadar bahwa di depannya itu adalah sosok tampan penuh kasih sayang walau bersifat privat hanya untuknya. Sosok yang berhasil membuat jantung Renjun bekerja lebih keras.
Pemuda tampan dihadapannya kini juga mengganti ekspresi wajahnya sama seperti sosok manis didepannya. Lengkungan itu juga tampak di wajah tegas milik Jeno yang berhasil membuat mata sipitnya berubah menjadi sebuah garis.
"Selamat pagi Injunie." akhirnya frasa itu terucap dari salah satu di antara keduanya.
"Pagi juga Jeno." balasnya dengan lembut.
Jeno kemudian mendekat ke arah Renjun yang masih diam di tempat berusaha mengikis jarak di antara keduanya. Kini jarak mereka hanya terpaut dua jengkal saja.
"Jeno, hari akan seperti biasanya?" sebuah pertanyaan dengan nada sedikit sayu berhasil lolos dari mulut Renjun.
"Sepertinya begitu." jawab Jeno dengan raut sama seperti si penanya di tambah dengan raut agak bersalah.
"Baiklah." Renjun benar-benar tidak bisa membohongi perasaannya yang sedih. Tentu saja sedih, siapa yang tidak akan sedih jika harus seperti ini setiap saat.
Melihat ekspresi wajah Renjun yang semakin tertekuk lesu membuat Jeno semakin di hujani rasa bersalah. Hatinya juga sakit, sama seperti Renjun. Namun keadaan harus memaksanya seperti ini. Jeno benci itu, Jeno benci ketika ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk Renjunnya. Dia merasa lemah. Dia merasa menjadi manusia munafik yang berlindung dibalik badan kekarnya.
"Maafkan aku." akhirnya hanya dua kata itu yang berhasil terucap darinya. Dirinya tidak ingin berjanji apapun kepada Renjun tanpa pembuktian.
"Tidak usah minta maaf Jeno. Kau tidak bersalah." Renjun menatap Jeno dengan lembut. Secepat kilat dia mengubah ekspresi sedihnya dengan ekspresi penuh pengertian.
"Tapi aku lemah Renjun..." Jeno tertunduk memandangi lantai yang terasa dingin di telapak kakinya itu.
Kedua tangan mungil Renjun menangkup wajah tegas si tampan dan mengangkatnya perlahan, "Hei, tatap mataku." titahnya yang dituruti oleh si tampan.
YOU ARE READING
WWW NOREN??
FanfictionHanya kisah untuk meredakan overthinkingnya jellies •bxb ⚠jangan salah lapak⚠ •semi baku •noren (jeno renjun) •oneshoot, two shoot (?) start : 26 Juli 2021 finish : ??? ©nonoinjun 2021
