HARAPAN

18 3 0
                                        


Devan Bramasta adalah seorang pemuda yang tampan dan tinggal di rumah yang besar dan halaman yang luas. Halamannya ada beberapa tanaman seperti bunga mawar yang berwarna-warni, bunga anggrek bulan, dan bunga kertas, serta pohon yang rindang membuat udara terasa sejuk. Rumahnya yang besar dan megah itu begitu indah bagaikan istana.

Walaupun memiliki paras wajah yang tampan dan memiliki harta yang melimpah, tidak pernah membuat Devan merasa sombong atau puas. Dia bahkan lebih merasa depresi karena kekurangan kasih sayang orang tuanya setelah ibunya meninggal.

Keesokan paginya, Devan pergi ke ruang makan. Di sana dia melihat keluarganya sedang makan bersama.

Dia duduk di kursi sambil memakan makan makanannya tanpa mengucapkannya sepatah katapun pada keluarganya. Arya hanya diam, dia sudah terbiasa dengan sikap Devan yang seperti ini.

Arya memandangi Arvin.

"Nak, ini buat kamu," katanya sambil memberikan sejumlah uang pada Arvin. Arvin memandangi uang tersebut dengan heran.

"Buat apa Pa?"

"Ya buat biaya pengobatan kamu. Papa ingin kamu cepet sembuh." Arvin pernah mengalami kecelakaan mobil beberapa hari yang lalu dan itu membuatnya patah tulang.

"Tapi Arvin kan lukanya gak terlalu parah pa," tolaknya.

Arya menggeleng.

"Udah, jangan tolak. Kan kamu anak papa, jadi papa juga berhak ngasi apa aja ke kamu, papa cuma ingin kamu sembuh," ujar Arya. Arvin hanya diam dan tersenyum.

"Ya udah kalau itu mau papa, makasih ya pa.." ucapnya.

Selesai sarapan, Devan pergi ke kamarnya, dan dia ingin membeli buku, namun uangnya habis. Dia pun pergi menemui Arya di kamarnya.

"Pa, Devan boleh gak minta uang?" pintanya.

Arya hanya diam dan menatap komputernya.

"Buat apa? Bukannya kemarin sudah papa berikan? Kok minta lagi? Emang boros ya kamu ini," ujarnya.

Devan menunduk.

"Maaf Pa..Devan serius pingin beli buku, gak lebih."

Arya mengambil dompetnya dan melihat uang disakunya. Ternyata uangnya juga habis.

"Uang Papa juga habis Dev. Coba kamu minta ke mama." Devan hanya diam.

"Ya Pa." Devan lalu pergi meninggalkan Arya dan pergi ke kamarnya. Dia tidak ingin menemui ibunya walaupun dia sedang mengalami masalah.

Di kamar, Devan hanya diam dan menunduk. Dia heran dengan ayahnya itu. Seakan-akan ayahnya itu tidak pernah peduli padanya dan lebih memanjakan adik tirinya itu, bukan hanya sekali ini saja, tapi sejak beberapa tahun yang lalu, semenjak ibu Devan meninggal.

Devan memegangi bingkai foto ibunya sambil tersenyum. Tidak terasa air matanya mengalir saat mengenang kenangan ibunya dulu sebelum dia pergi untuk selamanya.

Tiba-tiba, sebuah bayangan datang ke dalam benaknya. Bayangan yang selama ini ia berusaha melupakannya sekarang malah menghantuinya.

#flashback_on

10 tahun yang lalu...

Devan sedang berusaha mengejar layangannya yang putus itu dengan berlari, namun tanpa disengaja kakinya tersenggol batu dan terpleset.

Devan melihat lututnya berdarah itupun merasa takut dan sakit. Dia menangis sambil melihat lututnya yang lecet tersebut.

"Auch, sakit.." rengeknya. Ilma yang mendengar tangisan Devan datang menghampirinya dan berusaha mengobati luka Devan. Devan hanya diam dan menangis.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 30, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

HARAPANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang