Satu meja, empat kursi. Tidak ada tempat untuk ku duduk disana. Hanya ada satu keluarga yang harmonis penuh dengan kasih sayang. Jelas aku tidak bisa masuk ke sana. Meski namaku masih tertera didalam keluarga. Mungkin juga tidak. Entahlah.
Pagi ku seperti biasa. Tidak ada sambutan hangat, atau omelan seorang ibu yang menyuruh anaknya untuk makan. Atau seorang ayah yang menawarkan diri untuk mengantar anaknya kesekolah. Tidak ada didalam daftar hidupku hal itu. Yang ada hanyalah, seorang anak yang tidak diinginkan, tidak juga di biarkan mati, meski terlihat, tidak juga boleh pergi. Itu aku. Sakura. Hanya Sakura.
Drama kehidupan ku benar-benar menyedihkan. Seperti drama dalam novel yang sering aku baca, dengan cerita peran utama mati. Entah karena penyakit, kecelakaan atau hal lain. Dan aku akan jadi seperti itu sekarang. Oh.. Kami-sama.. apa dosaku di kehidupan sebelumnya? Kenapa seperti ini? Belum cukupkah?
Kertas yang terbakar sekarang sudah menjadi abu. Tak lama lagi aku juga akan menjadi abu seperti kertas yang ku bakar itu. Kertas itu berisi tentang nasib menyedihkan ku. Jika tau akan begini, lebih baik akau tidak melakukannya sama sekali. Cek kesehatan? Presetan dengan semua itu aku menyesal. Sungguh menyesal. Lebih baik kalau akau mati tampa tau sebabnya. Dan lihatlah!
Ah.. mungkin tidak. Tidak sepenuhnya. Kau tidak terlalu menyesali, mungkin dengan ini aku tau semua ini akan segera berakhir.
Hahaha.. ya.. seharusnya aku senang bukan.
..
..
"Dari mana saja kau?!"
Baru saja aku masuk. Dan sudah dihadapkan dengan nyonya besar ini. Dari semua orang penghuni rumah ini kenapa harus dia. Lebih baik tidak dengan siapapun.
"Jawab aku sakura!"
"Kenapa tanya?"
"Sakura!!"
Lihatlah.. ia sudah mulai berteriak. Aku lebih baik meninggalkannya. Aku lelah. Sangat lelah.
..
..
"Anata. Lihat gadis itu. Betapa tidak sopanya dia!" adu Mebuki kepada suaminya
"Entah siapa yang mengajarkannya bersikap tidak sopan seperti itu."
"Tenaglah.. mungkin sakura sekarang lelah.. besok kita tanyakan lagi." ucap Kizashi mencoba menenangkan amarah istrinya.
Sebenarnya Kizashi marah, lebih ke arah khawatir, mendapati putrinya yang belum pulang bahkan sudah sangat larut. Bukan lagi tengah malam tapi menjelang pagi.
Padi harinya seperti biasa. Keluarga ini sarapan. Hari ini hari minggu dan siang ini mereka berencana pergi. Tapi sepertinya akan sedikit mengundurkan waktu. Dua orang dewasa itu menunggu anak gadis mereka bangun, tidak ada niat untuk membangunkannya, karena memang sakura pulang menjelang pagi.
Tapi siapa sangka. Orang yang di tunggu malah sudah siap pergi lagi. Lihat ia sedang memakai sepatunya dan tampa sempat Mebuki memanggilnya gadis itu sudah menghilang di balik pintu. Mengejarnya percuma. Mendengar deru motor yang keluar dari kawasan rumah menandakan gadis itu sudah pergi.
"Kaa-san ada apa?" Tanya Sasori, putra tertua Mebuki dan Kizashi.
"Bukan apa-apa.." jawab Mebuki.
"Hemm.." tampa banyak bertanya, Sasori mengambil tempat untuk sarapan
"Kaa-san.. kita jadi pergi?" tanya Karin, anak ke dua.
"Jadi.. kenapa tidak?"
"Sakura juga?"
"Tidak-
"Tidak usah tanya dia. Sudah jelas kan. Gadis itu bahkan belum bangun dan pulang larut." potang Sasori kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAAF
Fanfictionmaaf, mungkin lain kali. Peringatan!! Ini cerita sedih satu babak. Setiap bab lain tidak terhunung ke bab yang sebelumnya.
