Langkah demi langkah ia sanggupi sambil menenteng tas hitamnya yang cukup ringan. Pikirannya sudah kacau, ia tidak mempunyai arah. Cahaya tidak ada yang ingin menghampirinya, bahkan langit-pun ikut mengubah warnanya menjadi gelap. Ia lelah, tidak sanggup lagi meminta arah.
Angin kembali menyebrang sangat kencang, petir-pun mengeluarkan suaranya tidak ingin kalah. Hujan mulai menurunkan air nya samar-samar. Laki-laki berambut putih itu duduk dengan mata biru nya yang sudah menjadi abu-abu. Redup, sama seperti cuaca saat itu.
Satoru menangis sejadi-jadinya sambil memukul badannya berkali-kali. "Sebenarnya untuk apa sih gua ada? emang salah ya kalau gu―"
"Hei, lo kenapa?"
Satoru tersentak, refleks mengangkat kepalanya. Memberikan pemandangan wajahnya yang sudah hancur kepada pria didepannya, wajahnya tampak khawatir dan bingung. Pria asing, tetapi Satoru merasa lain dengan perasaannya.
"Gua Suguru, lo kenapa nangis?"
"..." Satoru masih tidak ingin menjawab, dia malu.
"Nama lo?"
"Sa-satoru"
Pria yang bernama Suguru itu pun ikut duduk disampingnya, ia mengeluarkan kain dari dalam tas nya yang juga berwarna hitam. Satoru tidak sanggup untuk menatap pria tersebut, ia malu dan ia juga kesal mengapa ia bisa menangis.
"Nih pake" Suguru memberikan kain berwarna biru cerah, sama seperti warna mata Satoru.
Satoru mengusap mata sekaligus wajahnya, lalu memberikan kain tersebut kembali kepada pria disampingnya dan mengucapkan kata terima kasih dengan nada yang sangat amat kecil. Satoru masih tidak ingin menatap wajah pria tersebut.
"Lo gapapa? perlu gua temenin gak sampai lo tenang disini?"
"..." Masih tidak ada jawaban.
"Masuk"
Suguru menarik tangan Satoru dan membawanya ke dalam ruangan yang berada di depan mereka, jam menunjukkan pukul lima sore dan saat itu cuaca sedang redup menambah kesan gelap jika berada diluar. "Kita mau kemana?" Satoru akhirnya membuka mulutnya, ia mengeluarkan suaranya.
Suguru masih menariknya, lalu membuka pintu salah satu ruangan yang tertulis "ruang musik". Satoru terlihat sedikit kebingungan darimana pria ini mendapatkan kunci pintu ruangan tersebut, sedangkan mereka baru dua minggu menjadi murid di Sekolah Menengah Atas ini.
"Lagi hujan"
"Hah?"
Suguru duduk di sofa begitu pula dengan Satoru, mereka berdua duduk bersebelahan menambah kesan canggung diantara mereka. "Di luar lagi hujan, jadi mending kita duduk disini dulu" ucap Suguru dan Satoru pun hanya mengangguk pelan.
"Gua gapapa" Satoru mulai bicara dan Suguru pun menatap pria disebelahnya, ingin mendengar lebih. Sejujurnya Suguru ingin sekali tahu kenapa pria tersebut menangis dengan kencang, mengalahkan suara petir dan hujan saat itu. Bahkan ketika Suguru masih berada di lorong, suaranya tangis Satoru sudah sangat terdengar.
Satoru menarik dan membuang nafasnya perlahan. "Cuma lagi sedih aja, iya.. gua lagi agak sedih jadi nangis deh". Jelas pria tersebut sambil tertawa kecil, sedangkan wajahnya masih menunduk. Mata birunya masih terlihat abu-abu. Suguru membuang nafasnya kasar, tentu saja itu bukan alasan sebenarnya.
Mereka berdua pun memilih untuk memejamkan matanya sebentar, terutama Satoru. Suguru memintanya untuk istirahat sebentar dan nanti jika hujan sudah berenti Suguru akan membangunkannya. Suasana sepi terlihat mencekam, tetapi tidak bagi Suguru. Ia merasakan suasana yang baru yang belum pernah ia rasakan, dan ia ingin segera merasakannya lebih dari ini.
Beberapa menit kemudian Satoru terlihat sudah tertidur pulas, nafasnya sudah naik-turun dengan teratur. Suguru mengangkat tangannya lalu menaruhnya diatas kepala Satoru, ia mengusap kepala tersebut dengan pelan. Berkali-kali ia lakukan dengan senyuman yang terukir diwajahnya.
"Satoru bodoh"
-
yeay! first CHAPTER. aku suka banget ama kapal tenggelam ini, jadi memutuskan untuk menulis cerita ini. jadi jika ada yang membaca ini, tolong kasih komentarnya ya. menurut kalian nyambung apa tidak ceritanya, soalnya ini pertama kali aku nulis cerita/ au bxb. thank u!
kira-kira apa ya penyebab Satoru menangis?
YOU ARE READING
Your Blue Away
FanfictionAngin menyebrang sangat kencang, petir-pun mengeluarkan suaranya tidak ingin kalah. Hujan mulai menurunkan air nya samar-samar. Laki-laki berambut putih itu duduk dengan mata biru nya yang sudah menjadi abu-abu. Redup, sama seperti cuaca saat itu. S...
