1. Hari yang damai?

1.1K 109 33
                                        

*

*

Sebuah cerita dimana kehidupan pernikahan dari pasangan dokter yang terlihat baik-baik saja tanpa masalah. Ternyata menyimpan sebuah cerita sendiri dibaliknya.

*

*

1. Hari yang damai?

Rumah sakit mana yang tak memiliki kesibukan setiap harinya? Mungkin jawabannya tak ada. Tak ada satupun rumah sakit yang tak sibuk di hari-hari biasa seperti hari ini, dimana dibukanya jam praktek dokter yang memiliki banyak pasien. Antrian di kursi tunggu dan depan ruangan praktek selalu penuh. Mereka datang dari berbagai daerah.

Berbeda dengan antrian praktek, maka IGD yang paling ramai mendapat kunjungan pasien. Entah itu pasien yang membutuhkan pertolongan pertama atau korban kecelakaan.

Para dokter dan perawat sibuk berlarian ketika pasien datang dengan mobil ambulans.

Pasien rawat jalan maupun rawat inap sibuk dengan pengobatannya.

Beginilah keseharian Changmin, si dokter bedah anak terkenal dengan wajah manisnya yang seperti mahasiswa, kadang malah keliru memanggilnya dengan anak sekolahan. Padahal tahun ini umurnya menginjak 32 tahun. 12 tahun waktunya ia habiskan menempuh Pendidikan hingga sampai menjadi dokter seperti saat ini.

Ia berhasil menyingkat kelulusannya dengan kerja keras. Membuang seluruh kehidupannya sebagai mahasiswa dan hanya berfokus pada mimpinya, menjadi dokter.

Sebenarnya baru saja 6 bulan yang lalu ia bekerja. Tapi rumah sakitnya ini cukup besar, makanya ia memiliki banyak pasien. Jadwalnya sungguh padat. Bahkan masing suka kembali ke rumah sakit pada jam malam di saat orang lain tidur nyenyak. Tapi bagaimana lagi, pekerjaannya sebagai spesialis bedah sudah menjadi mimpinya. Dan sebagai anak baru ia tak punya kuasa untuk menolak.

Ia sempat menyesal mengambil spesialis bedah. Lucu bukan?

Alasannya memang tak sederhana. Banyak hal yang membuatnya mengambil spesialis bedah saat itu. Semata-semata untuk membuktikan bahwa dirinya mampu dan bisa berhasil tanpa ada gangguan gemerlapnya kehidupan.

Tapi yang menjadi permasalahan orangtuanya adalah sampai sekarang ia tak memiliki pendamping hidup, pacar saja tak punya. Padahal umurnya terus berjalan. Kekhawatiran orangtuanya jika ia akan menjadi bujang lapuk.

Maka sempat ditawarkan sebuah kencan buta, namun tak ada yang berhasil. Jika dari pihak sana menyukai Changmin, maka ia yang akan menolak dengan tegas bahwa ia tak memiliki waktu untuk pacaran atau menikah.

"Mau sampai kapan sih kamu itu ngejomblo? Udah kepala tiga kamu ini!"

Suara berisik menyambut Changmin ketika pulang. Siapa lagi kalau bukan Mamanya. Selalu saja menanyakan tentang pasangan hidupnya. Ia sampai hapal betul kalimat yang akan muncul setelah ini.

Mama mau cucu.

"Mama mau cucu."

Mamanya mengikuti di belakang sampai ke kamarnya. Mengikutinya ketika meletakkan tasnya. Mengikutinya ketika membawa pakaian kotor ke dalam mesin cuci yang ada di kamar mandinya. Mengikutinya ketika membasuh mukanya.

"Mama itu kan udah punya cucu dari Abang. Udah dong jangan nagih ke aku." Tolaknya mengingat kakak satu-satunya itu sudah menikah dan sudah memiliki dua anak menggemaskan.

"Mama maunya dari kamu."

Changmin memutar kepalanya dengan malas. Ini sudah jam 9 malam, ia ingin segera mandi dan tidur. Karena besok pagi ia sudah harus berada di rumah sakit. "Ma... aku nggak mau nikah." Ia mendorong Mamanya keluar dari kamar mandi lalu menguncinya dari dalam. Menulikan telinganya ketika Mamanya berteriak dan menggedor pintunya.

"Sebelum nambah umur lagi kamu harus nikah. TITIK!!!"

Ia sudah lebih dulu menyalakan shower untuk meredam suara Mamanya. Tapi memang dasar keluarganya saja yang memiliki pita suara di atas rata-rata, jadi teriakannya bisa sangat kencang.

Rasa dingin mengguyur kepalanya yang penat dengan harinya. Tadi, ia gagal menyalamatkan satu nyawa anak kecil karena telatnya penanganan. Alhasil moodnya jadi buruk. Bukan sekali ini memang, tapi ia selalu saja merasa terpukul jika tak berhasil menyelamatkan nyawa pasiennya.

Mana saat pulang Mamanya masih saja menanyakan tentang pendamping hidupnya. Ia lelah. Ia ingin sekali pindah dari rumah dan tinggal sendiri, kalau bisa di dekat rumah sakit tempatnya bekerja. Namun sayang sekali, Mamanya pasti akan menyeretnya pulang. Ia hanya diijinkan keluar rumah jika memiliki pasangan hidup.

Sungguh malang hidupnya. Jadi dimanakah hari yang damai untuk dirinya?

*

*

Menjadi seorang dokter tentu mendapatkan gaji yang jauh lebih besar, itu sebanding dengan bagaimana lelah pekerjaan mereka. Bukan berarti mengeluh tentang pekerjaannya, ah, mungkin ada beberapa yang pasti mengeluh, tapi perlu diingat bagaimana sumpahnya sebelum menerima gelar dokter.

Hal itu sepertinya tak berlaku bagi Juyeon, si dokter bedah saraf yang tinggi dan tampan. Padahal tak perlu susah-susah bersekolah, dengan mangandalkan wajah tampannya ia bisa menjadi seorang model, penyanyi, atau artis. Pekerjaan yang memiliki penghasilan jauh lebih besar dan tak perlu menggunakan otak. Tidak dengan sifat ambisius Juyeon yang sudah mendambakan menjadi dokter sejak kecil.

Juyeon tak memiliki waktu untuk bermain-main di luar, seperti kebanyakan pekerja lainnya. Ia sibuk menyelamatkan nyawa, satu hal yang selalu ia tanamkan dalam pikirannya. Makanya ia tak memerluka yang namanya pendamping. Satu hal yang membuatnya membenci memiliki pendamping. Ialah kenangan buruknya semasa awal perkuliahan.

Sudah dijelaskan berkali-kalipun orangtuanya tak mau mendengar. Apalagi Bundanya yang kekeuh ingin memiliki cucu. Padahal adik kecilnya sudah menikah dan memiliki anak. Yang selalu menjadi bahan perbandingan. Tak lelah kah Bundanya itu meminta cucu padanya? Ia saja yang dimintai lelah.

Untung saja pagi ini Juyeon diperbolehkan izin karena selama tiga hari kemarin terus-terusan berada di rumah sakit. Satu hari ia gunakan sebagai jam prakteknya, lalu dilanjut dengan pasien gawat darurat yang memerlukan operasi secepatnya. Operasi bedah saraf memakan banyak waktu, bisa sampai 5 jam jika diperlukan. Dan ia mendapat jadwal operasi 3 hari berturut-turut.

"Ju... mau Bunda jodohin?"

Baru saja Juyeon merebahkan badannya di ranjang, suara Bundanya menginterupsi. Membangunkan ketenangan yang baru saja ia dapatkan.

Ia membuaka mata dengan malas, menatap wajah yang sudah melahirkannya. Wajahnya yang mulai muncul keriput tapi tetap anggun.

"Bunda nggak capek nanya terus? Aku sih capek."

"Bunda nggak akan capek nyuruh kamu!"

"Aku males nikah, Bun."

"Ya nyari pacar lah minimal. Udah berapa tahun sejak kamu punya pacar? Jaman sekolah dulu juga nggak punya. Jaman kuliah tau-tau udah putus. Sekarang kamu udah kerja. Mau nyari yang gimana kamu? Bakal Bunda cariin!"

"Dia nggak ada wujudnya, Bun."

"Hantu maksud kamu?"

Ah, Juyeon benar-benar pusing sekarang. Bundanya suka ngelantur jika diajak ngobrol seperti ini. "Udah Bun akunya capek, mau bobok."

"Oke. Bunda jodohin kamu."

Juyeon buru-buru bangun dari tidurnya, berusaha menggapai Bundanya yang sudah menghilang terlebih dulu. Pintu kamarnya sudah tertutup dengan rapat.

Astaga. Ia memijit pelipisnya yang tiba-tiba nyeri. Bukankah beberapa kali perjodohan tetap saja gagal, harusnya Bundanya itu paham jika ia tak ingin menikah. Memangnya untuk apa menikah jika hanya membuatnya makin susah? Manakah harinya yang damai jika bencana datang dari Bundanya sendiri?


**tbc**

13/07/2021


haloo... ku kembali dengan book baru... seperti biasa maafkan segala typos dan banyak kekurangan dalam penulisan apalagi masalah kedokteran. selamat menikmati....

Marriage Life | jukyu [on hold]Stories to obsess over. Discover now