1

96 23 17
                                        

"Adek jalannya pelan aja, jangan lari-lari!"

     Teriak anak laki-laki pada adiknya. Namun anak laki-laki yang lebih kecil darinya itu seolah tak mendengar, kaki nya terus melangkah cepat kadang melompat dan perputar. Tangan kecil adik nya itu menggenggam keresek putih berisi dua buah ice cream yang tadi mereka beli.

Brukk!

"WINARR!"

    Jefan sang kakak lansung berlari kearah adiknya itu. Ia dengan sigap  mengangkat tubuh sang adik yang tengkurap karna terjatuh itu menjadi posisi duduk.

    Hening awalnya mungkin adiknya ini masih mencerna kejadian yang baru saja terjadi. Namun tiba-tiba...

"Hueeeee" tangis nya pecah.

"E-eeh mana yang sakit mana sini kaka obatin???" Mata jeff menelisik mancari luka yang membuat adik nya kesakitan.

"Es krim nyaa hancurrr hwaaaa" tunjuknya pada kresek putih yang gepeng karna tertindih badanya tadi. Dari keresek itu keluar cairan warna-warni yang sudah pasti itu adalah es krim miliknya yang meleleh.

     Jeff menghembuskan nafas nya tenang, ia kira adik nya ini kenapa ternyata hanya es krim. Namun matanya tetap mengamati tubuh winar takutnya ada luka. Dan benar saja lutut kiri dan sikut adiknya itu lecet dan ada luka lebam di lutut kanan.

"Ayok ke pinggir dulu liat tuh lutut sama sikut adek ada darahnya"

"Gamauu! adek maunya eskrimm hweeee" tangis nya semakin menjadi kaki putih nya yang selonjoran di gerakan sembarang arah.

"Iya-iya nanti kita beli lagi, sekarang kepinggir dulu malu tuh diliatin orang-orang" tunjuknya pada orang-orang yang berlalu-lalang.

🍦🍦🍦

     Kini Jefan berjongkok di depan kaki  putih sang adik, tangannya telaten menempelkan plester di setiap luka adiknya yang sedang sibuk makan es koki. Tadi saat setelah membopong adiknya duduk ke salah satu kursi pinggir trotoar, jefar langsung berlari mencari warung terdekat untuk membeli plester dan es krim, namun ternyata es krim tidak ada di warung kecil tersebut yang ada hanya es koki.

'Chupp'
'Chupp'
'Chupp'

Jeff mengecup semua plester yang menempel  itu.

"Cepet sembuh ya luka, jangan lama-lama disini" jempol nya mengelus pelan plester-plester tersebut.

"Iyaa jangan lama-lama winar takut kena marah bunaa" kini tampak mata winar berkaca-kaca menahan tangis, sekarang ia baru merasakan ternyata luka itu nyut-nyutan.

Mendengar itu jefar tersenyum manis tangan terulur mengusak rambut lembut adiknya.

"Gapapa kan ada kakak, udah yuk kita pulang" ucapnya tak ingin meneruskan kesedihan sang adik.

     Winar pun menurut, turun sedikit melompat dari kursi yang cukup tinggi itu. Tangan kedua anak itu kini terpaut, dicekam sedikit kuat oleh yang lebih besar. Tak kapok dengan kejadian tadi, adik nya ini terus saja berjalan dengan tidak santai setiap langkahnya diselingi dengan lompatan kecil, tapi bukan winar namanya jika tidak ceria setiap saat.

🍦🍦🍦

"Bunaaaaaa" teriak salah satu anak laki-laki itu antusias ketika memasuki rumah dan menemukan bundanya.

"Ehh jagoan buna pulang" tangan wanita itu dibuka lebar siap menerima pelukan dari si kecil yang berlari.

"Kakak abis dari mana sih? Buna kangen tau dari tadi nungguin kakak" ucap wanita itu mengeratkan pelukannya.

"Kakak juga kangen buna, kirain kakak buna gaakan pulang sekarang"

"Kan biar surprise jadi buna gak bilang-bilang"

"Eh bentar buna punya hadiah buat kakak" lanjutnya mengambil sebuah kotak yang tadi ia simpan di kursi.

"Taraaaaaaaa"

Satu set mobil mainan serta lintasannyasl sukses membuat anak itu jingkrak-jingkrak senang. Tangannya dengan senang hati menerima kotak besar itu.

"makasih bunaaaa"

"Ehh buna beli satu? Buat adek mana?" Tanya anak itu heran ia melirik sang adik yang sedari tadi diam menyaksikan kedekatan mereka berdua.

"Winar kan ada mobil yang bekas kakak, nanti kalo kakak punya mainan baru, mainan ini boleh kasih winar" jelasnya

     Winar tersenyum lebar kepala nya mengangguk-angguk riang meyakin kan sang kakak  bahwa ia setuju dengan perkataan bunda nya itu. Tapi tangan kecil itu tak bisa bohong, sedari tadi meremat sisi bajunya.
    
    Bukan, bukan karena mainan, ia hanya berharap kehangatan yang kakak nya rasakan dapat ia rasakan juga. Rasanya terlalu canggung untuk meminta satu pelukan pada bunda nya sendiri. Pasalnya tadi saja lengannya sudah ia buka, siap menyalurkan kerinduan juga, tapi entahlah mungkin buna nya itu tidak melihat dan  memilih bercengkrama dengan jagoannya.

"Buna winar juga kangen buna" batinya

...

To Be Continued...

.
.
.
.

Bonus ⬇⬇⬇

Winar POV

Hallo temen-temen kenalin itu kakak winar, gantengg kan?  kakak winar itu namanya jefan, jefan dilenla

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Hallo temen-temen kenalin itu kakak winar, gantengg kan?  kakak winar itu namanya jefan, jefan dilenla.. eh bukan bukan dhirendra maksudnya.

Winar sama kak jef itu beda 10 bulan. Umul kita sekalang itu.....emm...emm...............

bentar winar lupa mau tanya dulu ke kakak.

-
-
-
-
-
-

Umul kita itu 5 tahun. segini nihhh 🖑 kata kak jef juga.

Telus..

Teluss..

Teluss apa ya, aduhhhh winar bingung

OHH IYAAA BENTAR-BENTAR

Nihhh ini winar, winar juga ganteng kaya kakak tauu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Nihhh ini winar, winar juga ganteng kaya kakak tauu..... nama kepanjangan winar juga sama kaya kak jef yaitu winar dil- eh dhirendra.

Udahh ahh cape winar mau main sama kak jeff dulu dadaaaahhhhhhhhhhh🖑🖑🖑🖑

-
-
-
-
-
-
-

Ohh iya kata kak zoe jangan lupa kasih bintang sama komen yaaa. Kalo udah makasih katanya ♡

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 08, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Jefan & WinarStories to obsess over. Discover now