Suara teriakan dan tawa anak-anak mendominasi taman di siang hari itu, suara langkah kaki dan juga obrolan mereka juga ikut mewarnai suasana siang itu menjadi lebih ramai. Beberapa orang dewasa ikut bergabung bermain dengan anak-anak di tengah taman atau hanya sekedar mengikuti mereka, sementara beberapa orang lainnya lebih memilih untuk duduk di kursi yang ada di tepi taman.
Diantara orang-orang yang sedang duduk di kursi taman, salah satunya adalah Moon Chaewon. Wanita itu tampak kesal melihat ponsel yang ada di genggamannya, entah sudah berapa kali Chaewon melirik ponsel itu dan memakinya karena tidak juga mendapatkan pesan dari suaminya yang sudah terlambat dari janjinya. Entah kenapa suasana hati Chaewon sepertinya sedang sangat kacau, hal-hal sepele seperti menunggu sendirian seperti saat ini sudah bisa membuat Chaewon merasa kesal.
Chaewon berusaha menghibur dirinya dengan menarik napas panjang dan menikmati pemandangan sekitarnya dan berusaha juga menikmati cuaca hari ini yang cukup sejuk. Ketika sedang menikmati udara yang sejuk, seorang anak menarik narik tangan Chaewon membuat Chaewon tersadar dari lamunannya. Anak itu terus menarik sampai Chaewon mau ngikutinya, pada akhirnya Chaewon terpaksa mengikuti anak itu karena anak itu terus menerus menarik Chaewon.
Langkah anak itu berhenti di kotak pasir, dia memberikan scoop pasir kepada Chaewon, mungkin anak itu bermaksud mengajak Chaewon bermain. Dengan bingung, Chaewon menerima pemberian anak itu tetapi Chaewon juga menoleh ke kiri dan kanan untuk mencari orang tua atau siapapun wali anak itu, tapi Chaewon juga baru sadar bila taman itu mendadak sepi, dan tidak ada orang dewasa lagi selain dirinya.
Chaewon berusaha bertanya kepada anak itu tapi sejak tadi anak itu diam dan hanya menarik atau mencolek tangan Chaewon saja.
"Nak, siapa namamu?"
Hening, tidak ada jawaban dari anak itu. Chaewon menghela napasnya, berusaha bersabar dengan anak itu.
"Kau tidak bersama orang tuamu?"
Lagi lagi hening, anak itu jelas mengabaikan Chaewon dan terus bermain dengan tumpukan pasir di depannya.
Chaewon sampe tidak tahu lagi harus melakukan apa. Anak itu masih saja asik bermain pasir dengan berusaha memasukan pasir ke dalam ember cetakan.
Mengamati anak itu, Chaewon merasa wajahnya tidak terlalu asing, melihatnya mengingatkan Chaewon pada suaminya. Matanya dan hidungnya mirip seperti suaminya, pipi bulatnya membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
Merasa diperhatikan, anak itu menoleh pada Chaewon dan tersenyum. Lihatlah, bahkan senyumnya sangat mirip dengan suaminya, begitu pikir Chaewon.
Tiba tiba anak itu menghentikan permainannya dan lagi-lagi menarik Chaewon, yang hanya bisa pasrah mengikuti. Karena Chaewon lebih besar darinya, tentu saja anak itu sedikit kesulitan bila Chaewon tidak menyesuaikan langkahnya dengan langkah kaki anak itu. Nyaris saja anak itu terjatuh, beruntung Chaewon menolongnya terlebih dahulu.
Tidak menyerah, anak itu kembali menarik Chaewon dan kini anak itu menyuruh Chaewon untuk menghadap tembok. Bingung dengan maksudnya, Chaewon melihat anak itu dan bertanya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Anak itu tersenyum dan memberikan petunjuk dengan gerakannya, anak itu berdiri menghadap tembok dan menutup kedua matanya, salah satu tangannya mulai menghitung.
"Ah, maksudmu kau ingin kita bermain petak umpet?"
Anak itu mengangguk bersemangat mengetahui Chaewon memahami petunjuknya.
"Kau yang bersembunyi dulu?"
Anak itu mengangguk sekali lagi.
"Baiklah, aku akan hitung sampai sepuluh. Setelah itu aku akan mencarimu. Jangan bersembunyi terlalu jauh".
