1

2.4K 212 0
                                        

"Bulan atau matahari, mana yang lebih baik?"

Jaehyun berhenti dari langkahnya, mendongkakan wajah dan mendapati seorang gadis yang menatap lurus kedepan, menikmati pemandangan matahari terbenam diatas jembatan sungai Han. 

'Apa dia berbicara padaku?' batin Jaehyun bertanya, sedikit menoleh kebelakang untuk memeriksa keadaan. Siapa tahu ada orang lain yang diajak berbicara oleh gadis itu.

Sesaat kemudian gadis dihadapannya itu menoleh, seperti mengharapkan jawaban atas pertanyaannya tadi.

Jika dilihat-lihat, sepertinya Jaehyun mengenali siapa gadis dihadapannya kini. Kalau tidak salah, dia adalah Huang Renjun, gadis pendiam dari sekolah yang sama dengannya—lebih tepatnya adik kelasnya, gadis itu cukup dikenal karena dia sering menjadi bulan-bulanan para siswa pembuat onar disekolah.

Tapi tak ada satupun yang pernah membantu gadis malang itu ketika ia dirundung. Semua seakan tutup mata dan telinga akan hal itu, tak terkecuali Jaehyun sendiri.

Tak berselang lama, Jaehyun mengangkat bahunya tak acuh dan melangkahkan kembali kakinya melewati gadis itu begitu saja.

Yah, Jaehyun beranggapan gadis itu hanya iseng bertanya hal yang tak penting seperti itu. Lagipula, dia itu gadis aneh yang tidak pernah melawan saat dirundung.

Tetapi.. dari kejauhan Jaehyun kembali menoleh ke belakang. Entah mengapa ia malah penasaran dengan apa yang akan dilakukan gadis itu.

Dan yang didapatinya gadis itu masih berdiri ditempatnya dengan pandangan kosong kedepan.

"Ada apa dengan gadis aneh itu?" gumam Jaehyun penuh tanya. Tapi lagi-lagi dia abai dan membuang seluruh rasa penasarannya.

Kembali ia langkahkan kakinya pergi dari sana.

23 Maret 2010 'Seorang gadis SHS berusia 17 tahun ditemukan tewas karena bunuh diri dengan meloncat dari jembatan sungai Han..'

"TIDAK!"

Jaehyun terbangun dari tidurnya dengan wajah pucat pasi dan keringat yang terus bercucuran diseluruh tubuhnya.

"Ah, sial! mimpi itu lagi." Jaehyun merutuki dirinya.

Ya, dia adalah orang terakhir yang bertemu dengan Huang Renjun, sebelum gadis itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Siapa sangka, Jaehyun yang awalnya abai, kini malah sangat amat menyesali kelalaian nya hari itu.

Dia seharusnya tahu apa yang dipikirkan gadis itu mengingat segala hal buruk yang dialaminya.

Lagipula, apa lagi yang bisa dilakukan seorang gadis yang sering dirundung berdiri sendirian disore hari diatas jembatan?

Seharusnya Jaehyun bisa menjawab pertanyaan terakhir gadis itu, mencoba mengajaknya berbicara atau mungkin menawarkan untuk pulang bersama—ya, seharusnya.

"Mimpi buruk lagi?" Suara lembut keibuan itu mengalun menyadarkan Jaehyun. Sang Ibunda, Jung Jessica bergegas masuk setelah mendengar teriakan dari kamar putra tunggalnya itu.

Jaehyun menghela nafasnya kasar.

"Aku lelah eomma.." Ia memelas.

"Hei, ingat apa kata eomma? yang kau harus lakukan adalah mencoba melupakannya, ini bukan salahmu." Jemari Jessica terangkat mengusap peluh dikening putranya. "Buang rasa bersalah itu dan tenangkan dirimu." Lanjutnya.

"Tidak, seharusnya aku bisa menghentikannya, 'kan?" Jaehyun memalingkan wajahnya ke arah jendela, melihat matahari yang baru saja terbit.

Dia tersenyum miris, mengingat kalimat terakhir gadis itu padanya.

Hello, Past?Where stories live. Discover now