Love

254 24 0
                                        

Denting lonceng terdengar riuh di dalam sebuah bangunan gereja, tepuk tangan pun terdengar seirama dengan bertemunya bibir sepasang pengantin yang baru saja saling mengikat janji suci sehidup semati di atas altar. Sepasang manik ruby menatap penuh kasih ke arah pasangannya, pengantinnya yang baru saja sah menjadi miliknya itu. Keduanya saling bertatapan guna menyampaikan rasa kasih mereka yang disertai tekad kuat yang membuncah di dalam dada untuk terus berada di sisi satu sama lain, membuat seisi ruang pemberkatan itu dipenuhi oleh aura sebuah fatamorgana bernama cinta.

Ah, menggelikan...

Semuanya terlihat bahagia, sebuah prosesi pemberkatan pernikahan yang berlangsung dengan sangat baik bak dalam cerita-cerita picisan yang mampu membuat semuanya terlihat bahagia. Terkecuali untuk satu orang di sudut ruangan, satu orang yang hatinya terasa begitu sakit dan menyesakkan, satu orang yang hatinya hancur.

Sakuma Rei, berdiri di depan sana dibalut setelan jas pengantin, dan seorang wanita yang namanya tak asing dalam kancah dunia bisnis berdiri di sampingnya mengenakan gaun pengantin senada. Mereka yang baru saja mengikat janji suci itu menebar senyum yang dibumbui kebahagiaan, membuat banyak pihak yang menyaksikannya merasakan kebahagiaan serupa.

Prosesi dilanjutkan seperti sebagaimana mestinya yang harus dilakukan, namun sebuah tubuh tegap di sudut ruangan itu bangkit dari tempat duduknya, berniat untuk angkat kaki dari sana secepatnya karena sudah cukup ia melihat prosesi pernikahan tersebut. Beberapa atensi orang di dekatnya tertarik dengan tindakannya itu, dan mereka pun mulai bertanya-tanya, namun beruntunglah sosok itu masih bisa tersenyum pada mereka sembari melayangkan alasan sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar dari ruangan megah itu.

Pada akhirnya sosok itu pun pergi, surai pirangnya agaknya sedikit menarik atensi manik ruby di atas altar, namun sepasang manik ruby itu diharuskan untuk fokus pada yang lainnya selain surai pirang yang meninggalkan ruangan di sana. Dia bisa menanyai si pirang nanti, pikirnya.

***

Hakaze Kaoru tahu, ia tahu sejak awal dirinya yang salah, dialah pendosa besar yang terlalu kecanduan pada dosa yang diperbuatnya. Tapi sungguh dosakah yang ia perbuat itu? Ia sebenarnya tidak tahu, tapi dunia selalu menyebutnya seperti itu. Apakah sejak awal cinta itu adalah dosa? Ataukah hanya karena cintanya berbeda? Ia bahkan hanya menyimpan perasaan yang disebut dosa itu sendiri dalam sukmanya, perasaan yang saat ia sadari sudah terbangun begitu megah dalam relung jiwanya yang haus akan cinta.

Dosakah ia menyimpan perasaan yang begitu tabu itu? Jika iya, lalu mengapa Tuhan menciptakan perasaan yang begitu tabu itu dalam dirinya? Ah sudahlah, ia tak mau menyalahkan siapapun, sejak awal ini adalah salahnya. Salahnya karena terlalu teradiksi oleh dosa yang bernama cinta, salahnya karena cintanya berbeda, salahnya karena ia mencintai Sakuma Rei.

"Ah... Sungguhkah ini adalah dosa?"

Ataukah terciptanya perasaan tabu ini adalah karma baginya? Karma atas dirinya di masa lalu? Perasaan itu, perasaan yang begitu menggelitik nan tabu itu baru ia sadari setahun belakangan, rasa candu akan perhatian dan obsesi ada sebagai bukti nyata terbangunnya perasaan tabu tersebut.

Pemuda yang kini berusia 27 tahun itu duduk memeluk lututnya di hadapan sepasang nisan dalam sebuah kompleks pemakaman elit, manik coklat keabuannya sedikit redup kehilangan cahayanya. Ibunya sudah pergi begitu lama, masa kejayaan unitnya sebagai idol jatuh 3 tahun lalu, ayahnya baru saja meninggal tahun sebelumnya, pernikahan kakak perempuannya belum lama kandas, dan kini ia kehilangan total cintanya yang memang sejak awal mustahil untuk ia dapatkan. Apa hal buruk yang akan terjadi selanjutnya? Entahlah, ia tak tahu, dan ia akan memilih tak ingin tahu.

Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas, sebuah senyum yang terlihat begitu menyedihkan memoles wajah yang sedikit pucat pasi. Miris, menyedihkan sekali kisah romansa miliknya. Perlahan mata pemuda itu menghangat, dan sepersekian detik kemudian air mata mulai berguguran jatuh dari pelupuknya yang sudah tak sanggup menahan, sedikit berharap semua kesedihan dan perasaan mengganjal di hati itu sirnah setelah ia mengalirkan semuanya bersama air matanya.

SacredWhere stories live. Discover now