Bintang fajar perlahan hilang digantikan dengan cahaya yang lebih terang. Pagi ini ada yang sibuk kesana kemari mengurusi keperluannya. Terlihat remaja yang sibuk mondar-mandir naik turun tangga mengambil dan mencari sesuatu.
"Kak!" Panggilnya dengan suara khasnya yang cempreng.
"Hm?" jawab sang kakak yang begitu terlihat tenang.
"Pitanya sesuai tanggal lahirkan?" Matanya ikut membuat dilaka ia meneriakkan pertanyaannya.
"Hm." lagi-lagi hanya deheman yang ia dapatkan sebagai jawaban.
Setelah pertanyaannya terjawab, kini remaja laki-laki tersebut kembali naik ke atas menuju kamarnya.
Seseorang yang di panggilnya kakak sudah menaruh roti dan susu kotak dalam tempat bekal berwarna biru muda. Di sebelahnya, terdapat tumbler minum ukuran sedang.
"Kak, tunggu bentar!!!!"
Seseorang yang di panggil kakak itu menghela napas dan membalikkan badannya.
"Huufftt, capek banget pagi-pagi." Keluh kesahnya yang memang tampak sedikit berkeringat. Ini konsekuensi ia tidak memiliki ibu yang mempersiapkan segalanya.
Kakaknya hanya menatapnya datar.
"Ehehe pasangin adek dong. Yang ini susah masa." Ia tidak ingin membuat kakaknya marah pagi ini, jadi ia akan menggodanya sedikit saja.
Kakaknya tanpa banyak bicara memasang pita berjumlah 3 pita masing-masing di lengan kiri dan kanan adiknya.
"Dah. Bekal kamu di meja ya. Aku dluan." ucap kakaknya setelah metapikan seragam adiknya itu
"Ho'oh hati-hati sayangku" adiknya ini begitu manis.
♤♤
Pagi ini Senin terlihat banyak lalu lalang siswa-siswi yang segera memasuki gerbang Sekolah Menengah Atas yang akreditasnya sudah teruji ini.
Semua murid baru sedang berbaris di lapangan mendengarkan pidato kepala sekolah.
Sorot sinar matahari berpusat pada 4 orang remaja yang berusaha fokus mendengarkan pidato, hanya saja satu diantara empat orang itu terlihat gelisah sampai membuat temannya risih.
"Ka, lu bisa diem gasih" ucapnya datar berusaha tidak menggerakkan tubuhnya.
"Tau. Cacingan lu?" Ucap remaja yang berdiri dengan mematung tersebut. Padahal keringatnya sudah mengucur di punggungnya.
"Ngape lu, kayak bakal di sidang aja" timpal remaja dengan mata sipit yang menghindari sinar matahari yang semakin membuat matanya menyipit.
Arkana Wajidi atau yang di panggil Arka yang sejak tadi gelisah mengangkat kepalanya dengan mimik wajah menyebalkan menurut teman-temannya.
"Gua lupa bawa bekal gua huhu" keluh Arka dengan wajahnya yang seperti berpura-pura menangis.
"Elahh, ntar makan di kantin" jawab temannya yang bermaya sipit lucu itu.
"Ga gitu No, huhu kakak gua udah ingetin tadi pagi" sungguh, Arka hanya ingin menghargai usaha kakaknya.
"Mampus lu" ucap temannya yang tubuhnua sedikit kecil dari yang lainnya.
"Dih, pokoknya hari ini gua harus ngindar. Lu pada kalo liat si Dera bilang gak bareng gua yak." Peringat Arka pada teman-temannya.
"Ga bakal mempan, boongan gituan" uvap sosok yang berdiri paling depan ini.
"Hoohh orang ini hari pertama. Temen lu baru kita-kita" timpal remaja bertubuh mungil ini.
"Emang kenapa sih? Bilang aja lupa" temannya Arka yang satu ini tidak memgerti mengapa Arka mengkhawatirkan hal yang sederhana itu.
YOU ARE READING
Irreplaceable (On going)
RomanceAda hubungan antara waktu dan ingatan, keduanya seperti magnet yang saling menarik. Ada kalanya waktu membuat mengingat, dan adakalanya waktu membuat melupakan. Ada yang bilang waktu juga merupakan obat, entah itu yang datang dari masa lalu ataupun...
