Chapter 1

189 8 0
                                        

Aku melangkahkan kakiku perlahan menyelusuri sebuah taman. Bayangan ku terlihat mengikuti ku dari belakang. Sepi. Tak ada seorang pun disini. Aku menyukai nya. Menikmati hal seperti ini sendirian adalah hal yang sangat menyenangkan.
Sebuah bangku taman tepat berada dibawah sebuah pohon yang cukup rindang. Seolah-olah ia memanggilku untuk duduk disana dan menikmati angin semilir yang berhembus menghiasi taman ini.

Waktu cepat sekali berlalu ya?
Sudah beberapa tahun sejak kelulusan ku dari SMA Inarizaki. Bahkan sejak saat itu aku selalu dibingungkan dengan apa yang harus kulakukan setelahnya. Orang tua ku menyuruh untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, tetapi aku menolak. Karena aku tak begitu suka dengan yang namanya belajar. Itu akan menambah beban pikiran ku.

Tiba-tiba seseorang melintas di depanku. Ia terlihat sangat letih dengan pakaian yang cukup lusuh bagiku.
"O-Osamu? " Ucapku sambil memegang tangannya. Dia menoleh padaku.
"Em, maaf? " Ucapannya pun menyadarkan ku. Dia bukan Osamu.
"Ah! Maaf! " Seruku sambil membungkukkan badan ku sebagai permintaan maaf.
Pria itu hanya tersenyum kecil dan pergi meninggalkan ku.

Walaupun kamu sudah tak ada disini, bayanganmu tetap saja menghantui ku. Dasar, Osamu. Tinggi badan dan rambut orang tadi sangat mirip denganmu.

Pikiran ku kembali menyelusuri ketika acara kelulusan SMA Inarizaki. Sama seperti saat ini, aku duduk sendirian dibangku taman, dan ia pun memanggil ku dengan wajah bahagia.

~~~

"Rintarou! " Ia berlari kecil menghampiri ku. Sontak itu membuat ku berdiri dari tempat duduk.
"Lo sendirian? " Pertanyaan nya itu menurut ku tidak perlu kujawab. Osamu hanya cengegesan sambil memegangi belakang kepalanya.
"Oiya gue lupa! " Dia menyodorkan sebuah kotak makan padaku.

"Ini... " Sebelum ia melanjutkan perkataan nya aku memutusnya begitu saja.
"Biar gue tebak, ini pasti Onigiri? " Tanyaku balik.
"Bener! Ambil aja sama kotak makannya "
Aku mengambil kotak makan berwarna abu-abu dengan sebuah gambar Onigiri kecil diatas nya.
"Bukannya kotak makan ini kembaran sama si Tsumu? "
Ia mengangguk. "Iye, udah gapapa ambil aja, "
"Oh, oke," Aku tak tahu harus berkata apalagi.

Tiba-tiba angin berhembus kencang. Itu membuat ku sedikit kedinginan. Untung saja aku memakai syal dan juga jaket yang cukup tebal.
Mataku beralih melihat Samu yang menggosok kan kedua tangan nya untuk mencari kehangatan. Ia pasti kedinginan. Ia hanya memakai sweater tipis. Bahkan aku bisa melihat seragam nya dibalik sweater nya itu.

"Dingin kek gini, lu cuma pake sweater? ".
"Jaket gua dipake Tsumu. Kemarin jaketnya ketumpahan sup, jadinya gua deh jadi korban. Anjir lah," Ia menyilang kan tangannya ke depan. Raut wajahnya mengisyaratkan ia sedikit kesal dengan kelakuan kembarannya itu.

"Lu mau memakai syal gue? " Ujarku sambil melepaskan syal bewarna abu tua yang dari tadi berada di leherku.
"Sumpah? Beneran? ".
Aku mengangguk dan memberikan syal ku padanya.
"Hhh, hangat. Makasih, Rin, " Ucapnya tersenyum.
"Heem, sama-sama"

"Mau pulang bareng ga? " Tawar nya.
"Lah, Tsumu mana? "
"Masih dikelas. Tadi disuruh pulang duluan,"
"Heem boleh," Jawab ku cepat.
Kami akhirnya berjalan bersama meninggalkan taman sekolah.

"Rin, habis ini lu ada rencana kemana?".
Kemana ya? Aku bahkan belum memikirkan hal itu.

"Gue habis ini mau buka Cafe Onigiri! " Lanjutnya bersemangat.
"Onigiri mulu lu, "
"Bodo ah, gua pengen manfaatin hobi gua ini, " Ujarnya sambil sedikit bernada sombong.
"Awas aja lu ga dateng! " Timpal nya lagi.
"Iya-iya gua dateng ntar, santai. Tapi, harus ada gratisannya, ".

"Gratisan nya pas lu udah jadi pelanggan tetap gua, "
"Oke, deal!, " Seruku bersemangat.

Tiba-tiba Osamu melepaskan sebagian syal nya dan memakaikan setengah nya padaku.
"Nih, pakai sebagian nya juga. Gua ga enak kalau gua sendiri yang pakai, ".
"Eh? Kesambet apaan lu tiba-tiba kek gini? "
"Bawel anjir. Mau pake ga? "
"Iya deh, gua pake, " Balas ku.
Secara otomatis, aku berdiri lebih dekat dengannya. Berbagi kehangatan dalam satu syal. Itu membuatku sedikit malu.

Ia tersenyum melihat ku dan merangkul bahuku.
"Lo tau? Gue suka sama lu dari lama kan? Jadi walaupun udah lulus gini, kita ga bakal kepisah jauh, "
Wajahnya juga terlihat sedikit memerah.
"Kita ga tau apa yang terjadi ntar, Samu, " Ucapku berkata jujur.
"Ya karena itu! Gue bakal pastiin lu ga jauh dari gue. Selamanya,".
Aku tersenyum dan terkekeh kecil. Keras kepala nya sama seperti Tsumu.

"Sejak kapan lu jadi optimis?, " Jawabku bercanda lagi.
"Astaga, gua dari tadi ga dipercayain mulu,"
"Hehe, iya deh, gua percaya sama lu, "
Aku tak akan pernah menang debat dengannya. Untuk menghemat waktu aku hanya bisa mengiyakan nya.

Ia tertawa kecil lalu menggenggam tanganku dan mencium pipiku tiba-tiba.
"Eh? Apaan anjir?! Main nyelonong!, " Seruku sambil berusaha menjauhkan wajahnya.

"Hilih, bilang aja lu mau juga kan?, " Ujar Osamu sambil menjulurkan lidahnya. Wajahku berubah menjadi merah padam. Osamu pun kembali tertawa. Aku ikut tertawa dengannya.

Dalam hatiku yang paling dalam, sungguh aku ingin tetap bersamanya. Sampai kapanpun itu waktunya.

~~~

Just Like That Day [Osamu X Suna]Stories to obsess over. Discover now