ini tentang perasaan dika yang tidak diketahuinya. mereka dua sahabat yang melalui jalan berbeda namun tetap terhubung satu sama lain. bagaimana nasib perasaan dika terhadap Kinar?
Dan bagaimana cara Kinar berjuang
melawan musuh akrab nya itu?
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Hari ini adalah hari pertama tahun ketiga kinar di bangku menengah pertama. dia yang terbiasa duduk sendiri pun memilih bangku depan yang jarang dipilih orang orang.
Satu persatu bangku mulai terisi tapi kinara belum juga mendapatkan teman sebangku dia menghela nafas dan tertawa "alhamdullilah dapet sendiri". Perkataannya tampaknya dikabulkan karena hingga bel masuk dia tidak juga mendapatkan chairmate.
Guru yang dulunya seorang guru fisika itu masuk ke kelas dan memperkenalkan diri sebagai wali kelas.
jam pelajaran pertama sudah dimulai anak anak dikelasnya sudah berbincang bincang sambil menunggu guru Fisika itu menulis materi. Mata kinar menyerengit melihat pa bowo menghampiri bu ida dan kemudian keluar kelas.
Anak anak yang lain pun bertanya untuk apa guru kesiswaan itu memanggil wali kelas, padahal baru hari pertama tidak mungkin ada yang membuat masalah di kelas ini.
Selang beberapa menit bu ida kembali ke kelas namun ia tak sendiri ada anak cowo dengan rambut hitam kecoklatan juga mata yang berwarna hitam sedikit biru.
Kinara bergidik ia berpikir bahwa cowo itu tipikal jamet yang memakai kontak lensa juga mewarnai rambutnya. "ada ada aja jamet zaman sekarang" Kinara menggeleng geleng kan kepala dengan mata yang masih terpaku kepada anak baru itu.
Guru Fisika itu meminta kelas hening sebentar untuk memperkenalkan anak baru yang akan belajar di kelasnya. "Semuanya perkenalkan dia murid pindahan yang akan menjadi teman kalian" bu ida meminta anak itu sedikit maju untuk memperkenalkan diri.
"nama saya dika" Kinara kembali menyerengit jamet ini sungguh cringe karena nada bicaranya yang sok cuek pikirnya. Kinar berpaling membaca buku mengabaikan anak baru yang sedang perkenalan itu.
"Silahkan duduk di bangku kosong itu dika" ucap bu ida kepada dika, dika pun mengangguk dan berjalan mendekati kinara.
Kinara menghela nafas lesu ketika anak yang bernama dika itu malah ditempatkan menjadi teman sebangkunya. Ia diam diam memperhatikan dika yang sama sekali tidak berniat untuk berbicara.
"Dilihat lihat dari style nya anak ini tidak buruk peralatan sekolah nya juga sama seperti anak normal pada umumnya wajahnya juga cukup tampan". pikir kinara dengan dagu yang diletakkan diatas tangan sebagai tumpuannya.
Dika merasa risih karena dilihat seintens itu oleh kinara. Ia merasa cewek disebelahnya itu agak aneh.
Jam pelajaran pun berlanjut dengan lancar dan bel makan siang pun tiba. semua siswa terlihat rapi berbaris Kinara mendecakkan lidah "gila tertib banget sekolah gua".
Kinara yang sudah mendapat bagiannya itu langsung mencari tempat duduk, ia melihat dika yang duduk di baris tiga dan menghampirinya.
Dika hanya memandang Kinara dalam diam yang duduk di hadapannya. "eum.. hai jamet" ucap Kinara tanpa ragu. Dika tercengang mendengar sapaan ya itu.
"sinting" ucap dika dengan telunjuk yang digerakkan di atas kepala seakan memperjelas perkataannya.
"MAKSUTT" kinara mundur selangkah kaget akan ucapan dika yang mengatai dirinya. "lu aneh" ucap dika sekali lagi memperjelas maksud perkatannya tadi.
"wah parah lu, lu lebih aneh kali jamet" kinara pun pergi ke arah temannya menjauhi dika "gaakan deket gua ma tu bocah amit amit" Pikirnya.
Dika tak membalas perkataan kinara, ini hari pertama sekolah ia tak ingin membuat masalah pada first impression orang kepadanya.
semua orang melanjutkan makan siangnya di kantin ini dengan damai, bel pun berbunyi dan pelajaran dimulai.
kinara dan dika kembali duduk di tempatnya pada pertengahan jam pelajaran kinara berkata "gua ga akan permasalahin hal tadi, gua mau baikkan-! Jadii kenalin gua Kirana manusia cantik nanti baik hati" ucapnya sambil menarik tangan dika untuk bersalaman.
dika menarik kembali tangannya "beneran aneh" kinara menggerutu tak terima dikatai aneh oleh manusia disampingnya itu.
"gua kan mau niat temenan baik sama lu, kok lu malah gitu" ucap Kirana
"oke, gua dika bukan jamet" dika menoleh membalas ucapan kirana. Kirana mengangguk senang karena sudah berbaikan dengan calon chairmate nya ini, pikirny kehidupan sekolahnya akan berjalan lancar.
mereka pun melanjutkan pelajaran dengan suasana tenang dan damai, jam pelajaran berlalu dan bel pulang pun tiba.
"mampus ban gua bisa bisanya kempes" Kirana kebingungan, pasalnya dihari pertama itu dia belum mendapat teman tebengan tapi ban motornya malah kempes. "aduh gimana nihh" ucapnya
saat itu dika pun lewat dengan motor kawasaki hitam nya "OI DIKAAAA" dika berhenti dan menoleh "HELPP" dika menyipitkan matanya karena dia tidak mengetahui siapa yang memanggilnya itu, "oh cewek tadi" pikirnya, dia pun menghampiri Kirana.
"Ban gua kempes dik" dika pun mengangkat tangannya dan berkata "terus?" Kirana kesal "ya bantu lah dorongin ke bengkel, lu ga kasian apa sama temen lu ini" dika kembali menyalakan motornya dan berniat langsung pergi.
Kirana pikir dika tidak mau membantunya dan mengahalangi jalan dika dan berkata "eh eh eh ko mau cabut lu" Dika membuka helm nya dan berkata "daripada dorong mending gua bawa abangnya kesini" Kirana pun mengangguk setuju dengan maksud dika. "okelah gua tunggu sini"