Prolog

501 38 4
                                        

Keluarga Rajendra hidup dalam kekuasaan, kekayaan dan keberanian. Segala yang diinginkan oleh anggota keluarga itu akan terpenuhi, meski harus memetiknya dari luar angkasa. Nama Rajendra tersohor bukan hanya di Indonesia, tetapi juga telah sampai di belahan bumi lainnya. Sudah banyak pengusaha luar negeri yang diajak kerjasama, mulai dari negara Adhyaksa seperti Amerika Serikat, atau negeri tirai bambu yang perkembangan ekonominya sedang mengalami kepesatan luar biasa, bahkan negara maju dan terkenal akan disiplinnya seperti Jepang.

Namun bukan berarti mereka tak memiliki masalah. Sebuah hambatan yang lambat laun baru disadari oleh Wigaman Rajendra selaku kepala Keluarga Rajendra saat ini. Pria berusia enam puluh tahun itu menyadari bahwa masanya hampir habis, usai divonis memiliki kelainan jantung.

"Ayah tidak ingin mati dalam keresahan atas belum adanya penerus keluarga ini." Wigaman telah menyatakan tujuannya memanggil anak bungsunya yang menjabat sebagai CEO pada induk perusahaan Rajendra.

"Ayah memiliki dua cucu dari Mas Laksa dan segera akan lahir cucu dari Mbak Sinta," ujar sang bungsu yang masih memakai setelan kerja.

Wigaman tersenyum tipis. "Anak dari Laksa tidak lagi memiliki hubungan dengan Rajendra, begitupula dengan ayahnya. Sedangkan Sinta, bahkan menampakkannya dengan anaknya saja sudah membuatku ingin mengubur diri, karena rasa malu," ungkapnya tanpa ragu tentang bagaimana pemikirannya terhadap kedua anak yang telah mengecewakannya dengan cara berbeda.

"Nagaru, kau adalah harapanku. Menikahlah dengan seorang wanita yang telah ayah pilihkan untukmu, dan beri aku cucu seorang ksatria," lanjut Wigaman menatap lekat kedua bola mata lelaki yang wajahnya selalu menjadi perbincangan kaum hawa.

Lelaki itu adalah Nagaru Cendika Rajendra. Berusia 28 tahun, lulusan Universitas Yale bergelar Master of Business Administration dan selalu menjadi kebanggaan Wigaman. Bahkan anggota keluarga Rajendra lainnya sering menyebutnya anak emas.

"Memangnya Ayah sudah punya pilihan?" Dahi Nagaru berkerut. Ia selama ini terlalu sibuk untuk mengetahui apa yang sedang ayahnya rencanakan.

Sekali lagi Wigaman mengulas senyuman. "Dia akan menjadi pasangan yang sempurna untukmu. Tidak seperti Laksa dan Sinta."

Nagaru terdiam, melihat wajah semringah sang ayah berarti pilihan pria itu telah bulat dan membantahnya mungkin dapat berakibat fatal, seperti kedua kakaknya itu, yaitu Laksa dan Sinta.

"Baiklah. Saya hanya berharap dia bukan tipikal keras kepala." Nagaru telah bertemu dengan berbagai macam wanita dan dirinya paling tidak suka dibantah, persis seperti ayahnya.

"Dia akan menjadi wanitamu, jadi sudah seharusnya kau bisa menundukkannya." Wigaman membalas, lalu mulai beralih menyesap secangkir kopi yang disajikan sejak kedatangan Nagaru.

♤♤♤

Romansa RajendraWhere stories live. Discover now