Lagi.
Pagi ini, Chika kembali tidak terlihat di rumah. Seperti biasa, ia pasti sudah pergi bersama Ara. Christy hanya menghela napas, kesal.
Sudah dua Minggu sejak Ara dan Chika berpacaran, Christy seperti tidak memiliki teman di rumah. Sebelumnya, Chika selalu menemani Christy, tapi sekarang Chika bahkan tidak menyapa Christy sedikitpun, pergi pagi dan pulang malam.
Memang, tiap malam Chika selalu membawakan oleh oleh, ntah itu makanan, baju, tas, atau yang lainnya tapi Christy tak butuh semua itu. Yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang seorang kakak, terlebih kedua orang tua mereka sudah tidak ada. Ia sangat kesepian.
Namun, apalah daya. Christy tidak berani memarahi atau menegur kakaknya, ia takut kakaknya marah dan malah tidak pulang ke rumah lagi. Terkadang, siang harinya teman Christy ada yang datang ke rumahnya, seperti Flora, Zee, Eve, tapi tetap saja yang ia perlukan adalah kasih sayang kakaknya. Sayangnya Chika tak sadar, ia terlalu fokus dengan Ara pacarnya itu.
Akhirnya hari ini ia memutuskan untuk keluar siang nanti, sekedar mencari angin naik motor kesayangannya. Daripada suntuk di rumah, lebih baik ia keluar dong.
Sekitar pukul 13.00 Christy pun keluar. Ia berniat menelepon Chika untuk memberitahukannya, tapi karena tidak diangkat, ia mengirimnya pesan saja.
'Christy : Kak Chika, aku keluar bentar yaa
Chika : Ok'
Singkat padat ga jelas. Christy tak memusingkannya, ia meletakkan hpnya di saku celananya lalu langsung mengendarai motornya.
Semuanya tampak seperti biasa, dua Minggu Christy tak keluar tidak ada yang berubah, belum ada bangunan yang pindah tempat atau jalan yang tiba tiba ditutup, masih sama.
Tak berselang lama, ia melihat sebuah pemandangan aneh. Ia melihat dua orang gadis sedang tertawa sambil makan di tempat duduk luar sebuah cafe. Merasa tak asing, ia mencoba menajamkan matanya, dan benar. Dua sosok itu tak asing. Mereka adalah Ara, pacar kakaknya dan Mira, sahabat kakaknya.
Di lain tempat, Chika ada di rumah Ara. Ia masih menunggu Ara yang katanya sedang membeli makan siang untuk mereka berdua, tapi ini sudah 30 menit. Ah mungkin antri, pikirnya.
Sementara itu, Christy yang melihat hal tersebut segera mengeluarkan hpnya, hendak memberitahu sekaligus menanyakannya kepada Chika.
Sayangnya, ia tak sadar. Saat ia mengetik pesan kepada kakaknya, sebuah mobil dari arah berlawanan sedang melaju dengan kecepatan tak wajar. Akhirnya,
Brakkkkk...
Tak sempat ia menekan tombol send, saat itu juga tubuhnya terlempar dari motornya, jatuh ke aspal jalanan dengan kepala yang terbentur. Ia langsung tak sadarkan diri, kepalanya sudah bocor. Untung saja yang menabrak bertanggungjawab, ia langsung dibawa ke rumah sakit agar nyawanya tertolong.
Kakaknya langsung ditelepon oleh yang menabrak dengan hp milik Christy yang terlempar ke tanah. Awalnya Chika mengira, Christy meneleponnya karena Christy ingin ke tempatnya. Saat mendengar berita tersebut, tubuhnya membeku. Seketika otaknya tidak bisa menerima informasi apapun, sarafnya seperti berhenti merespon.
1 menit kemudian, dengan dibantu suara 'halo' yang diteriakkan berkali kali dari seberang sana akhirnya ia kembali ke kesadarannya. Namun tak berselang lama, lututnya menjadi lemas. Ia langsung menutup telepon dan mengebut menuju rumah sakit. Tak ia pedulikan cacian yang ditujukan padanya karena beberapa kali hampir menyerempet orang ataupun kendaraan lain, ia tetap mengebut ke rumah sakit.
Sayangnya, ia benar benar terlambat. Sesampainya di rumah sakit, hatinya ditusuk kabar, kabar yang memilukan. Adiknya, keluarga satu satunya yang tersisa sudah tiada. Tak kuasa menahan tangis dan tubuhnya, ia terjatuh di lantai rumah sakit. Dibantu beberapa perawat, barulah ia bisa tertatih tatih menuju ruang tempat Christy dirawat sebelumnya.
Menyesal, tapi sudah terlambat. Ia sadar, tapi sudah tidak ada gunanya. Christy, adiknya sudah meninggalkannya, dan ini semua karenanya yang tidak pedulian. Sebelumnya, ia tidak pernah mau membiarkan Christy keluar sendiri. Sejak ada Ara, semua berubah.
Ia menangis. Menangis sembari memegang tangan Christy, meneriakkan namanya dan memohon agar adik satu satunya itu bangun kembali. Tapi semuanya nihil. Apa yang sudah hilang, tidak bisa kembali. Ia benar benar hancur
"Maaf, dengan kakaknya? Ini hp adiknya, tadi saya diminta untuk diberikan ke kakaknya."
Chika tak menjawab. Ia mengambil hp tersebut lalu kembali memegang tangan Christy. Ia masih tak ingin kehilangannya. Sejenak, ia berharap jantung Christy berdetak kembali, namun semuanya tidak akan pernah terjadi. Christy, adiknya sudah benar benar pergi meninggalkan dirinya.
------------
Beberapa hari kemudian, pemakaman adiknya sudah selesai dilakukan. Chika masih berada di makam adiknya, tidak rela akan kepergiannya. Di situ juga ada Ara yang diam saja, tidak terlalu peduli.
Chika kemudian berdiri, mengajak Ara berbicara.
"Ra, kita sampai sini ya, aku mau putus. Makasih."
"Lah?"
"Aku tau kamu boongin aku. Anggap saja begitu, aku ga mau dibohongin terus terusan."
"Maksud kamu apa?"
"Baca sendiri. Gara gara ini, adik aku kecelakaan."
Chika menyodorkan hpnya, Ara melihatnya terkejut. Itu adalah foto dirinya dan Mira saat sebelum kejadian naas tersebut terjadi.
"Ini adik aku yang foto. Dia mau ngirim ke aku, tapi ga sempat. Kamu tau ga? Kamu jahat. Kamu sudah misahin aku sama adik aku, terus kamu begini? Sekarang adik aku sudah ga ada. Kamu mau apa? Belum puas?"
Ara tidak membalasnya. Ia langsung pergi sambil berkata, "Oke kita putus."
Tinggal Chika yang berada di sana. Ia berjongkok, mengelus makam adiknya sekali lagi.
"Maafin kakak ya, kakak ga bisa jadi kakak yang baik buat kamu. Tenang tenang ya di sana, kakak sayang kamu."
---------------
YOU ARE READING
OneFic
FanfictionThese are all of my Oneshot/ficlet, hope you enjoy <3 warning : Gxg, JKT48 pair only
