Pada sebuah desa yang besar. hiduplah seorang gadis rupawan, disebin juga Ma mon-dá-go-Kwa. yang menjadi pujaan semua pemuda pemburu serta pejuang Gadis ini secara khusus dikagumi oleh seorang pemuda yang disebut Pria Tampan atau Ma-mon-dá gin-in-e karena bentuk tubuhnya yang bagus, serta pakaiannya yang rapi dan terawat baik. Pemuda ini memiliki seorang teman sekaligus rekan yang sudah menjadi kepercayaannya.
Pada suatu hari. dengan semangat berlomba ia berkata kepada temannya itu, "Ayolah kita kunjungi serta melakukan pendekatan kepada gadis yang sangat rupawan itu. Mungkin, gadis itu akan me nyukai salah satu dari kita."
Ternyata, gadis itu tidak mau mendengarkan salah satu pun dari kedua pemuda itu. Lalu, ketika pemuda tampan itu berusaha mecahkan kebekuan sikap gadu itu serta berupaya untuk menge atasi keridak-acuhannya, gadis itu menolaknya dengan penuh cela schingga pemuda itu menjadi lelah, bingung, dan malu. Harga diri pemuda itu terluka begitu dalam dan ia pun merasa sangat jengkel Karena telah diperlakukan sedemikian hina di hadapan orang-orang Lain dan Setiap perisr Ini telah teniar ke desa serta menjadi gunjingan orang dalam setiap kemah. Pemuda ini agar peka dan peristiwa ini sudah wataknya ternyata telah menghantuinya. membuatnya murung, dan akhirnya menyebabkannya terburing saja di tempat tidur. Selama berhari hari, dia terbaring di kin un ranjang tanpa mengucap sepatah kata pun, tatapan matanya kosong, dan hanya makan sedikit atau bahkan tidak sama sekali. Sejak saat itu, tidak ada upaya apa pun yang dapat membuat pemuda itu bangkit kembali. la mera- saya begitu malu dan tidak terhormat bahkan di hadapan sanak ke luarganya sendiri dan tidak satu pun bujuk rayu dapat mendorong pemuda itu untuk bersemangat kembali. Ketika keluarga pemuda itu harus membongkar kemah mereka untuk pindah, pemuda itu masih saja terbaring di ranjangnya sehingga keluarganya terpakua harus mengangkat kemah dati bagian atas kepalanya dan mening galkannya di atas ranjang kulit itu. Memang sudah saatnya untuk berpindah secara besar-bcuran dan mengemas perkemahan karenatempat itu hanyalah perkemahan untuk berburu selama musim di ngin. Musim berburu sudah usai dengan kehadiran musim semi dan teman-teman pemuda itu semua pindah mengikuti satu naluri yang uma menuju ke sebuah tempat yang menjadi kediaman musim pa- tas mereka. Lalu, tidak lama kemudian semua orang sudah pergi dan si pemuda itu ditinggal sendiri. Orang terakhir yang meninggal kantys adalah rekan seperjalanan sekaligus sepupunya, yang seperti halnya si pemuda ini merupalan salah satu pemuja gadis hutan nan rupawan, Pemuda pemburu itu mengacuhkan perkataan orang kepercayaan itu dan ketika langkah kaki orang itu menghilang dalam keheningan hamparan salju yang mulai retak. kesunyian dari alam liar di sekitarnya mulai berkuasa.
Setelah semua orang pergi dan pemuda itu tidak lagi mendengar suara langkah selisih apa pun dari rombongan perkemahan yang berangsur pergi, si pria tampan itu bangkit dari pembaringannya.
Yang dimiliki pemuda itu sekarang adalah roh pelindung atau manito pribadi yang sangat kuat. Pemuda ini bertekad mengguna kan kekuatannya yang paling hebat dengan bantuan roh itu untuk menghukum dan merendahkan gadis rupawan itu. Gadis itu sudah dicap oleh kaumnya sendiri sebagai wanita yang suka mempermainkannya. kan pemuda lainnya, seperti yang gadis itu lakukan kepadanya. Pemuda itu memilih satu tindakan, yaitu balas dendam.
Pemuda itu berjalan menuju bekas tempat perkemahan yang telah kosong dan mengumpulkan semua pakaian kotor, potongan- potongan perhiasan, pakaian usang, serta ornamen-ornamen yang telah ditinggalkan atau tidak terbawa atau terlupakan oleh rom bongan yang sudah pergi itu. Semua ini ia pungut dengan hati-hati dari hamparan salju karena sebagian telah terinjak-injak masuk ke dalam alju. la mengumpulkan semuanya pada satu tempat. Barang barang yang mencolok dan kotor itu la bernihkan hingga kembali indah seperti wujud barunya. la menggunakannya untuk mem buat sebuah mantel dan celana ketat yang dihiasi batu-batu dengan dekorasi gaya terbaik dari gaya busana kaumnya, Lalu, ia membuat sepasang sepatu mokasin dan menghiasi kasut itu dengan batu-batu an, membuat sebuah busur beserta anak panah-anak panahnya, dan sebuah topi berbulu untuk menghias kepala. Setelah melakukan semua ini, pemuda itu mencari sisa-sisa tulang hewan, potongan potongan kulit, serta sisa-sisa daging kering maupun tanah.
