Pria lekbong

25 4 1
                                        


Gadis itu berlari menembus hujan. Menghampiri seorang pria yang sedang  menumpukan kepala di tangannya.

"Hallo, permisi, Kak. Nggak baik malam-malam pake lekbong kaya gini, apalagi hujan. Nanti masuk angin, lhoo."

Gadis itu menyelimutinya dengan hoodie miliknya yang cukup besar.

"Ek. Se. Ku. Es. Me, Kak. Allooo! Kakak ngebo, yah? Kakak jangan jongkok terus, itu ... udah penuh, Kak." ucapnya menunjuk ke bawah.

Tidak berselang lama. Pria itu mulai mengangkat kepala, netra gelap nan tajam itu bertemu dengan mata teduh gadis itu.

Merasa dirinya sedang ditatap tajam. Ia mencoba menyipitkan matanya, membalas dengan menatap tajam kembali, tidak mau kalah.

"Aurghhhh!!" ucap gadis itu di depan wajahnya.

Pria itu mengernyit.

Seakan paham dengan kebingungan pria itu. Dia ikut berjongkok, dengan menjadikan sepatu sebagai alasnya.

"Jadi gini, Kakak, kan, pake lekbong. Enggak baik dengan kondisi hujan kaya gini, aku mau mengurangi populasi korban angin duduk. Jadinya aku pinjamkan hoodie, deh."

"Ouh, iya, kata orang dulu, tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, ayok,  kenalan, Kak. Nama aku ...."

"Gue gak butuh nama lo." ucap pria itu sembari melempar hoodie ke kepala gadis itu.

"Dasar songong! Udah dibaikin malah tengil. Ngajak berantem?"

"Buang waktu." ucap pria itu yang beranjak pergi menembus hujan.

"Kakak ... nama Kakak siapa dulu, woi? Garandong? Girinding? Maungdong? Galakdin? Kenalan dulu, Kak, biar sayang."

Aishh! Tidak digubris, dasar pria menyebalkan.

"Awasss nanti jatuh cinta sama aku, tahu rasa, aku bakal tolak kamu mentah-mentah. Awas aja, pokoknya, awas, awas, awas aja."

"Yauda, deh, aku kenalan sama hujan aja. Hujan, nama aku Putih Nabastala Anindya. Jangan jadi sombong kayak cowok itu tadi, yah? Padahal, kan, niat aku baik, biar dia enggak kena angin duduk. Ta-Tapi ... dahlahh"

Black And WhiteStories to obsess over. Discover now