Yang Jeongin bukanlah penyandang disabilitas. Bukan pula pemuda yang mengalami buta warna. Sejak awal, dunianya kelabu. Hitam putih—monokrom, tanpa warna.
Dalam realitas yang ia tapaki, belahan jiwa atau yang biasa kau sebut soulmate itu nyata.
Orang bilang, menemukan soulmate seperti menemukan nafasmu—karena ia belahan jiwa. Jeongin rasa semua itu terlalu mengada-ada.
Tak ayal, rasa penasaran itu nyata.
Menurut Jeongin, soulmate bukan lagi soal nafas, tetapi soal warna. Di usianya yang keduapuluh satu, ketika teman seusianya telah mengerti tentang warna mentari pun langit mendung atau pula warna senja—Jeongin belum pernah melihatnya sama sekali.
"Kau dimana, bodoh?"
Jeongin meringis pelan ketika teriakan Felix begitu nyaring terdengar dari telepon genggamnya.
"Stan paling ujung, dekat danau."
"Kau gila?!"
"Aduh, berhenti meneriakiku, Lix!"
Jeongin pada akhirnya menjauhkan handphone dari telinga. Mengusap pelan telinganya yang berdegung akibat teriakan yang terus menerus dilontarkan temannya itu.
"Ah sudahlah. Tunggu limabelas menit, aku akan kesana."
"Ya, ya, cepatlah."
Pip
Jeongin mematikan panggilan secara sepihak. Tak ingin lagi merasa pusing mendengar omelan sahabat karibnya. Hell, dia sudah dewasa sekarang. Bukan lagi anak berumur sepuluh yang harus digandeng oleh Felix untuk sekadar menaiki eskalator.
Pemuda bersurai salju itu mengedarkan pandangan kesekeliling. Niatnya hendak mencari tempat yang pas untuk menunggu, tetapi malah ditampar lagi oleh kenyataan pahit. Ah, tentu saja hitam putih.
Jeongin mengumpat. Ia berada di festival lampion untuk melihat cantiknya mereka ketika berterbangan ke langit. Sayangnya, belum ada tanda ia akan bertemu dengan soulmatenya dalam waktu dekat, yang berarti ia harus melewatkan kesempatan untuk melihat kelap-kelip lampion di langit malam.
Pemuda dengan paras cantik itu berakhir mendudukkan diri pada rerumputan di tepi danau, tak begitu jauh dari kerumunan. Tangannya menggenggam blueberry smoothie yang masih tersisa setengahnya.
"Aku sudah di danau! Cepatlah kemari, bastard."
Jeongin menolehkan pandangan pada pemuda tinggi yang berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini. Pemuda dengan surai kelam—Jeongin tak tahu pasti apa warnanya—itu tampak terburu-buru. Sebelah tangan sibuk memegang telepon—tampaknya umpatan tadi ia tujukan untuk temannya— sedangkan tangannya yang satu lagi memegang gelas yang Jeongin tebak berisi kopi.
"Iya, bawa pacarmu juga, terserah."
Jeongin mengernyit ketika pemuda yang ia akui luarbiasa tampan itu berjalan kearahnya tanpa memperhatikan sekitar. Masih sibuk dengan pembicaraannya di telepon genggam.
Pemuda Yang itu menghela nafas. Memberesi barang-barangnya karena ia tak mau mengambil resiko tertabrak—
Bruk
Ups.
Sayang sekali refleksnya terlalu lambat.
Jeongin memejamkan mata erat-erat ketika ia siap merasakan kerasnya tanah dipunggung kecilnya.
Namun, nihil. Yang ia rasakan saat ini malahan tangan seseorang mendekapnya erat, menahan tubuhnya agar tak berciuman dengan rerumputan.
Ketika Jeongin membuka mata, kilauan warna pecah di balik matanya. Ia melihat iris kelam pemuda dengan wajah berjarak tak lebih dari sepuluh senti dari miliknya, pun ia melihat surainya yang sewarna burung gagak.
Namun sesuatu yang membuatnya terkejut adalah ia dapat melihat warna baju yang dikenakan pemuda itu. Bukan hitam ataupun putih, warna lain yang masih belum ia kenali.
"Maaf."
Pemuda itu melepaskan dekapannya dari Jeongin setelah memastikan yang lebih kecil telah menapak di tanah.
"Kau melihatnya?" Jeongin tak lagi mempedulikan ungkapan maaf pemuda itu, karena yang ia tahu sekarang adalah ia dapat melihat warna.
"Warna bajuku, kau bisa melihatnya?" Jeongin kembali bertanya. Sedangkan pemuda di hadapannya mengulas senyum lebar sembari mengangguk singkat.
"Hwang Hyunjin." Pemuda yang pada akhirnya ia ketahui namanya itu mengulurkan tangan, "dan namamu—"
matanya menyipit membentuk eye smile sebelum melanjutkan kalimatnya, "—mate?"
Uluran tangannya bersambut, Jeongin mengulas senyum tak kalah lebar.
Duapuluh satu. Kisahnya baru akan dimulai.
"Yang Jeongin."
Warna pertama yang keduanya pelajari adalah merah. Sewarna dengan lampion yang diterbangkan ke langit serta merah pada pipi Jeongin.
.
.
.
Epiphany (n.)
A moment of clarity. A great relevation or realisation of something.
Jeongin hanya ingin melihat warna dunia. Entah bagaimana, Hyunjin menjadi seluruh dunianya.
Hwang Hyunjin!Top ; Yang Jeongin!Bottom ; Soulmate!Au-Colorblind ver.
.
.
.
A/N :
Haloo! Maaf saya bawa book baru lagi padahal book sebelumnya belum selesai 😭
Kali ini saya bawa soulmate!au yang colorblind ver. Bagi yang belum tau, di versi ini semua orang terlahir buta warna sampai mereka ketemu soulmatenya. Jadi beda-beda waktu mereka bisa liat warna.
Hope u like it guys ☺
YOU ARE READING
Epiphany
FanfictionJeongin hanya ingin melihat warna dunia. Entah bagaimana, Hyunjin menjadi seluruh dunianya. Hwang Hyunjin!Top Yang Jeongin!Bottom Soulmate!AU - Color Blind ver.
