Crystal Stoner mendengus keras saat, lagi-lagi, tubuhnya terdorong hingga nyaris terjungkal. Matanya melirik sinis pada wanita paruh baya yang tampak membungkuk meminta maaf padanya.
Sungguh, ia sedang tak dalam mode ingin beramah tamah. Tanpa peduli pada wanita itu, Crystal melanjutkan langkahnya, yang bahkan ia sendiri tak yakin akan menuju kemana.
Mengistirahatkan kaki, Crystal mendudukkan diri di salah satu kursi di sisi taman. Melepas ransel besar yang sejak tadi menggantung berat di bahunya, Crystal menatap hampa pada hiruk pikuk di sekitarnya.
Beberapa orang tampak berjalan cepat, dan sebagian lagi tampak berlari, sementara yang lainnya tampak berjalan santai di antara rimbunnya pepohonan di taman itu.
Menghela nafas, Crystal memeluk erat ransel besar di pangkuannya, sementara matanya melirik singkat koper yang tersandar di kakinya. Hidupnya berubah hanya dalam hitungan jam, dan semuanya berawal dari siang tadi.
Flashback On…………
Crystal memarkir mobil mungilnya di depan sebuah bangunan berdinding putih gading. Bergegas ia melangkah memasuki bangunan bertuliskan ‘DREAM’ itu.
“Selamat pagi,” sapa Crystal pada seorang gadis berbalut terusan putih dengan tulisan ‘Dream’ berwarna emas, yang dibordir indah di sisi kiri dadanya. Seragam khas tempat itu.
“Selamat pagi, selamat datang di Dream Wedding Organizer. Ada yang bisa kubantu?” tanya gadis berseragam itu dengan nada ceria.
“Kau baru? Mana Emma? Dia yang biasanya di sini,” tanya Crystal.
“Yes, Ma’am. Namaku Loisa Reed. Kebetulan Emma sedang cuti, Jadi aku yang menggantikannya hingga seminggu kedepan,” sahut gadis itu ramah.
“Nice to meet you. By the way namaku Crystal Stoner. Aku ingin tahu sampai mana persiapan pernikahanku. Ah, atau kau bisa mencari data atas nama Christopher Spencer. Dia tunanganku,” sahut Crystal dengan senyum lebar penuh bahagia.
“Sebentar, saya akan memeriksanya terlebih dahulu,” sahut si gadis berseragam putih itu sambil mulai mengetikkan sesuatu di layar komputernya.
“Miss Stoner…Mr. Spencer,” gumam gadis berseragam itu sesaat sebelum mengerutkan keningnya.
Gadis berseragam putih itu mengangkat kepalanya, dan menatap Crystal sejenak sebelum kemudian berkata,
“Maaf, Miss Stoner. Bookingan untuk pernikahan anda sudah dibatalkan pagi ini. Kebetulan staff kami sudah berusaha menghubungi anda. Hanya saja, ponsel anda tak dapat di hubungi.”
Crystal tertegun. Matanya mengerjap beberapa kali, sebelum kemudian keningnya mengerut tajam.
“Maaf, kau bilang apa tadi?” tanya Crystal bingung.
“Ya, bookingan untuk pernikahan anda sudah dibatalkan pagi ini oleh…uhmm.. Mr. Spencer sendiri,” sahut gadis berseragam itu.
“What?! Tapi itu…”
“Itu yang tertera di data kami.”
Dengan cepat Crystal mengeluarkan ponselnya, dan mulai menghubungi seseorang. Christopher Spencer, tunangan sekaligus calon suaminya, yang nyaris seminggu ini tidak pulang, dan bahkan tak bisa dihubunginya.
“Yes,” sahut suara di seberang sana setelah nada sambung kelima.
“Christ! Bisa kau jelaskan, kenapa pihak wedding….”
“Ah, jadi kau sudah tahu? Aku baru saja akan memberitahumu hari ini. Astaga, kenapa kau harus mematikan ponselmu? Orang-orang Wo terus saja menggangguku karena ponsel sialanmu itu mati. Dan omong-omong, aku membatalkannya. Pernikahan itu,” potong Christopher dengan nada jengkel yang kentara, membuat Crystal membelalak lebar.
YOU ARE READING
Switch
RomanceCrystal Stoner tak tahu harus bahagia atau bersedih, saat tiba-tiba terbangun dan mendapati dirinya berada dalam tubuh orang lain.
