1

954 120 7
                                        

"Mereka kelihatan serasi banget." Kekaguman Lisa membuat Anne mengikuti arah pandang sahabatnya itu.

Senyumnya terbit menyaksikan sahabat mereka telah melepas masa lajang hari ini. Jis pada akhirnya luluh dengan rencana perjodohan orang tuanya. Suami Jis, Alex bukan sosok yang pantas untuk ditolak dan di sia siakan.

"Ya, Jis nya cantik si Alex nya ganteng. Belum lagi semuanya anak sultan." Jennie membenahi tasnya di pangkuan, menyaksikan sahabat mereka yang tersenyum lebar mengikuti serangkaian acara resepsi.

"Mereka bukti nyata kalau perjodohan itu enggak selalu buruk." Lisa masih memandang takjub ke arah depan. Jennie mendengus masam.

"Iya kalau yang dijodohkan ke kita orang macam Alex."

"Belum tentu orang macam Alex aja yang bisa buat perjodohan bahagia, yang penting ada cinta." Lisa jelas berbeda pendapat dengan Jennie. Mereka tidak pernah akur jika membahas mengenai jodoh dan kehidupan rumah tangga.

Jennie adalah feminis, sosok perempuan mandiri yang tidak benar benar percaya cinta tapi pandai bercinta. Dia bisa bergonta ganti pasangan semudah berganti kaos kaki. Baginya bersenang senang itu mutlak, hidup hanya sekali. Bersama dengan seseorang dalam ikrar pernikahan bukan sesuatu yang menjadi impian wanita itu.

"Cinta itu omong kosong Lisa, kadang manusia salah mengartikan nafsu sebagai cinta. Jis suka Alex karna dia ganteng, kaya dan sempurna. Alex suka Jis karna dia cantik, dan keluarganya berada."

Lisa mendesah gemas, bagi seseorang yang mengagungkan cinta, ucapan Jennie jelas menyinggungnya. Apalagi mengartikan ketertarikan Jis dan Alex yang sudah resmi menjadi suami istri sebagai bentuk nafsu. Itu penghinaan mutlak.

"Sadar enggak sih Jen, kamu baru aja menghina pernikahan mereka tau."

"Aku cuma mengatakan fakta Lis, fakta. Percaya deh kehidupan pernikahan enggak bisa jalan cuma karna sesuatu yang disebut cinta. Harus ada hal lain yang membuat kedua belah pihak untung."

Memang, perjodohan di kalangan bangsawan semacam Jis dan Alex bukan hal baru di negeri ini. Alasan utama kenapa orang kaya akan semakin kaya sampai tujuh turunan. Selalu ada andil bisnis di dalamnya, menikah sama dengan menyatukan harta.

Lisa hendak membuka suara membantah Jennie ketika Anne memotong "Kita dipanggil untuk foto bersama."

Mereka bertiga mengalihkan tatap ke depan, Jis melambai lambai dengan senyum lebar. Senyuman yang menular kepada mereka bertiga.

Jennie melangkah lebih dulu, heels tinggi itu tak sedikitpun menyurutkan langkah perempuan itu. Anne kadang heran bagaimana bisa sahabatnya itu tampak nyaman berjalan cepat dengan sepatu tinggi.

"Kita foto bareng teman temannya Alex juga!!" Lisa membisik dengan nada antusias. Anne melihat Jennie bergandengan dengan laki laki yang tidak mereka kenal, tampan, terlihat sekali kelasnya dari setelan laki laki itu yang tampak licin.

Teman-Teman Alex seperti bertugas menjadi gentleman, membantu wanita wanita itu untuk naik keatas dekor. Sebuah formalitas yang mungkin saja membuat Jennie si pemburu lelaki dan Lisa si pejuang cinta meleleh takjub.

Seseorang mengulurkan tangannya pada Anne, dia adalah lelaki terakhir diantara mereka. Tampan, atau mungkin paling tampan. Mungkin Alex memang membuat peraturan masalah fisik untuk masuk ke dalam circle nya. Memang konyol, tapi siapa tau?

"Aku bantu." Suaranya pun seindah parasnya. Lelaki berkelas memang berbeda, Anne menggeleng.

"Saya bisa naik sendiri kok."

Memakai sneakers diacara formal memang membawa keuntungan sendiri. Anne mengangkat sedikit gaunnya, meninggalkan lelaki itu tertinggal di bawah.

****

CATCH YOUDonde viven las historias. Descúbrelo ahora