Bab 1

67 4 1
                                        

Hidup sebagai mahasiswa memang tak pantas untuk diriku yang lemah ini. Minggu-minggu berisi tugas dan serangkaian permintaan mengisi berlembar-lembar kertas putih untuk sekumpulan manusia pintar yang disebut 'dosen' ini sungguh melelahkan.

Mungkin beberapa orang akan mengatakan semua mahasiswa menjalani proses yang sama denganku. Menurutku itu tidak adil, dan sangat tidak pantas untuk diriku. Oh, dan untuk kankerku.

Sebelum kau memutar bola matamu, bukan. Ini bukan cerita tentang kanker bajingan ku, aku tidak ingin merusak kesempatanku bercerita dengan menceritakan bagaimana aku berjuang melawan kanker, atau semacamnya. Ini ceritaku. Orisinil dan (sedikit) berkompromi. Sebelumnya, aku (dengan terpaksa) akan memperkenalkan kankerku secara singkat.

Aku memiliki sebuah kanker perut, tepatnya di lambungku. Menyebalkan memang, mengingat kehidupan pra-kanker ku dulu, aku adalah manusia yang gemar sekali makan. Seperti kebanyakan manusia yang terkena kanker perut, aku memiliki adenokarsikoma di dalam lambungku. 

Aku tak mengerti bagaimana bajingan ini datang kedalam hidupku setahun yang lalu, namun yang kutahu ini mengerikan. Seluruh proses ini menyakitkan untukku. Walaupun aku masih tergolong stadium 1 yang dicap masih mempunyai harapan, aku tidak memilikinya sama sekali. Panggil aku pesimistik, tetapi bagaimanapun juga kanker ini sudah memilih tubuhku sebagai inangnya, suka tidak suka.

Sampai saat ini aku memang sudah melakukan kemoterapi dan radiasi. Jujur saja, melihat rambutku yang hitam legam dan lebat itu rontok perlahan membuatku semakin merana. 

Sudah 3 bulan sejak aku mengalami depresi ringan, sekarang aku merasa lebih baik. Prinsip tak acuh mulai kuterapkan saat aku menyadari fakta bahwa aku mungkin hidup di dunia tidak lama lagi. Dan jujur saja, aku benar-benar merasa lebih baik menggunakan prinsip toxic-ku itu.

Betapa ironisnya, aku memperkenalkan kankerku dahulu daripada mengenalkan diriku sendiri. Kurasa kanker ini sudah menjadi bagian diriku. 

Ferris. Namaku Ferris. Ferris Mahardika. Aku mahasiswa rumpun ilmu sosial semester 4 di salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat. Sedikit bercerita, aku sebenarnya adalah mahasiswa rajin, aku selalu mengumpulkan tugas tepat waktu, menjadi salah satu yang terbaik di kelas, dan mendapat IPK lumayan. 

Namun, seiring berkembangnya kanker, performaku di kelas menurun.  Salah satu dampak positif kanker adalah mendapat semacam kelonggaran. Tak jarang dosen-dosenku memberikan penambahan nilai secara cuma-cuma atas alasan "anak sakit". Jadi, ya, terimakasih kanker.

Aku juga sering berterimakasih kepada semesta yang menciptaku dengan selera fashion yang tinggi. Jadi, mempunyai kanker atau tidak, aku masih terlihat luar biasa.

"Cakep banget beanie-nya." ucap Waren.

Warenaksa Priardji adalah sahabatku di kampus, sedikit cerita tentang Waren, laki-laki hetero yang entah bagaimana caranya bisa klop denganku sejak saat ospek kala itu. Waren adalah seorang remaja laki-laki berjiwa bebas, badannya hanya sedikit lebih besar dariku yang tergolong kurus dan ringkih. Kami terlihat seperti 2 kurcaci kembar berjalan menuju rumah jamur, hanya saja kurcaci yang satu lebih tinggi beberapa inci dari yang satunya.

Waren mencintai keadilan dan kesetaraan, tak jarang ia terlibat demonstrasi, orasi, dan beberapa march tentang berbagai macam isu sosial di Indonesia. Aku ingin sekali ikut dengannya jika ia turun ke jalan, tapi yah... kalian tahu kenapa. 

Waren berambut gondrong sebahu, lengkap dengan gaya remaja skater masa kini. Ia mengenakan kaos hitam, jaket parka hijau tua, celana hitam sobek yang sudah menggelantung di pintu kosan-nya selama belasan hari, serta sepasang sepatu hitam slip on. Lengkap dengan tas selempang nya, ia merangkulku dengan santainya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 01, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

7 mphWhere stories live. Discover now