Pasung

176 13 1
                                        

Pagi ini seperti biasa aku membuat teh manis, susu, serta nasi goreng ayam kesukaan anakku. Nasi goreng tanpai cabai kesukaan anak perempuanku. Serta susu putih tanpa gula kesukaannya jg.
Sungguh pagi yang cerah hari ini. Sorotan matahari mulai menukik. Anakku buru-buru kuantarkan ke sekolah. Takut telat.
Pukul 07.00 tepat aku dan anakku sampai di sekolah.
"Bu, Rani langsung masuk ya. Udah mau ditutup tuh. Assalamualaikum. " sambil mencium tangan ibunya.
"Waalaikumsalam. Yang pinter ya anakku belajarnya." jawab Sri sambil merekahkan senyum di wajahnya.
"Bu, jangan lupa dijemput lho. Rani takut naik angkot. Jaman sekarang ngeri bu kalau naik angkot. Gara-gara berita kemarin itu yang diperkosa gara-gara naik angkot sendirian itu lho bu. Ngeri banget dah." ucap Rani manja.
"iya, siap." Sri menjawabnya dengan singkat.
Ku hidupkan mesin sepeda motor nan butut ini menuju ke rumah. Sesampainya di rumah, aku duduk di teras. Tatapanku kosong. Entahlah pagi ini hatiku sungguh berkecamuk. Rasanya luka itu tak bisa hilang dari ingatanku. Bahkan mungkin dari hidupku. Bayang-bayang masa lalu itu sungguh menghantuiku di setiap detik aku bernafas. Ya... Beberapa puluh tahun yang lalu, aku hidup di suatu desa nan makmur. Panen nya berlimpah. Tanahnya sungguh subur.
"Darto, Yatno, Sapto? masih hidupkah engkau sekarang?"
"Pak lurah?"
"Bahkan ayah dan ibukku, aku tak tau kabar mereka sekarang. Aku bahkan sungguh takud bertemu dengan mereka jika mereka masih hidup."
Aku tak ingin masa ku sekarang ini diusik oleh keberadaan mereka lagi. Sungguh aku ingin lepas. Namun kenapa mereka selalu ada di kepalaku saat ini. Kenapa mereka tak bisa hilang dari ingatankuu.. Puluhan tahun aku berusaha menghapus semua ingatan itu. Namu luka yang teramat dalam ini terlalu perih untuk kupendam sendiri.
Puluhan tahun lalu, usiaku sekitar lima belas tahun. Di desa tempat tinggalku, aku hidup bersama ayah dan ibuku. Ibu sungguh menyayangiku dan menerima segala hal tentangku. Aku tau itu. Aku sungguh tau dari sorot matanya. Sorot matanya yang begitu tersakiti dan tak rela ketika anaknya diasingkan oleh seluruh warga desa.
"Wes ayo gek diboyong maring kono, nang nduwur kono ono pondok wes ratau dinggo. Gowo mrono wae!" ucap Lurah
"Yooo gek ndang pak. Wes daripada gawe rusuh nang ndeso iki!"
"Ayoooooo.... " ucap seluruh warga desa di depan rumahku.
"Ampun pak lurah, ngapurane anakku, ampun pak....Sri ora kleru. pak..." tangis sang ibu pecah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 12, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PasungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang