1

12 3 1
                                        

Ada halte kecil di dekat rumahnya.

Cukup jadi alasan mengapa Hatano lebih sering ke sekolah menggunakan bus ketimbang kereta bawah tanah. Lagipula, dia benar-benar kapok bersepeda ke sekolah dengan Amari. Sudah jaraknya jauh, kesasar pula karena teman sekelasnya itu buta arah.
Lebih baik menunggu bis setengah jam daripada ngos-ngosan sampai sekolah. Belum juga kalau telat. Bisa kena marah guru yang berjaga di depan gerbang.

Tapi pagi ini, Hatano tidak sendirian.

Suara tapak kaki mendekat lantas seorang gadis berhelai pirang dan benetra giok memasuki pandangan. Tangannya masuk dalam saku jaket, air mukanya kusut, sepasang earphone nirkabel menyumpal telinganya. Mengambil ruang di sisi halte yang lain lantas menunggu bis dengannya.

Matanya memincing, dia tidak kenal gadis itu. Dilihat dari air mukanya juga, Hatano tebak, gadis itu sedang kena masalah. Jadi Hatano biarkan saja ketimbang masalah sang gadis berpindah padanya.

Sampai bis datang membawa Hatano pergi, menyisakan sang gadis yang menunggu bis selanjutnya, tidak ada kata yang keluar dari mulut Hatano.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 25, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Halte | HataEveWhere stories live. Discover now