Anugerah Terindah
*****
Jam weker berdering dari tadi bunyinya sudah menggema ke seluruh ruang, sejujurnya suara dari jam weker tersebut sudah sangat mengusik ketenangan pagi itu namun karna pemiliknya masih bergumul di alam mimpi dan membaluti tubuhnya dengan selimut tebalnya di kasur terlihat tampak sangat kelelahan akibat pekerjaannya semalam selesai disaat yabg tidak tepat.
Akhirnya mau tidak mau seorang wanita paruh baya memasuki kamarnya sambil mendumel kesal mendengar dering jam weker itu, berjalan tergesa-gesa demi mematikan suara bising jam weker hasilkan.
"HANNAH BANGUN! INI UDAH JAM TUJUH!" Teriakan wanita itu membuat wanita disebut Hannah itu membuka mata pelan-pelan, namun segera ia menutup matanya lagi karna terlalu capek.
"Iya, Ma, tau..." Jawabnya sambil mengeratkan genggamannya pada selimut, "Hannah denger kok."
"Anak cewek gak boleh tidur kesiangan Hannah, situ cepetan mandi."
"Ma, Hannah capek, semalem photoshoot selesai jam sebelas nyampe rumah baru jam satu, tolong ya."
"Resiko kerjaan kamu ya gitu, gak ada kata tapi tapian, kamu harus bangun mandi biar wangi dan bantuin Mama sekarang!" Ujar Mamanya yang sigap melepaskan selimut tebal milik Hannah yang berhasil membuat Hannah kedinginan dan akhirnya bangun.
Nyawa Hannah yang sedikit demi sedikit terkumpul mulai menyadarkannya dari buaian alam mimpinya, Hannah merenggangkan badannya kuat-kuat namun ia masih menguap tanda ia masih tidak puas mengakhiri tidurnya.
Mamanya masih disitu memperhatikan Hannah. Dengan lantai gontai, Hannah beranjak mengikuti langkah Mamanya keluar dan ia berjalan menuju kamar mandi yang ada di lantai bawah.
Begitulah rutinitas pagi yang selalu dilalui oleh Hannah Miranda setiap kali ia berada di rumah pada akhir pekan.
***
Hannah mengerang geram saat handphone-nya berbunyi tanda alarm pengingatnya hidup. Ia sebisa mungkin ingin melangkahkan kakinya kembali menaiki anak tangga, namun langkahnya terhenti melihat sang Mama yang sedang membuat sarapan menyapanya dengan serentetan pengingat.
"Hannah, malem ini ada nikahan Tiara, jangan lupa bungkus kadonya." Hannah mendengarnya lantas menganggukkan kepalanya sebentar lalu mulai melangkahkan kakinya ke lantai atas, mengambil handphone-nya yang ketinggalan.
Hannah mengulurkan tangannya meraih handphone- yang tergeletak sambil di-charge semalaman, ia mengaktifkan layarnya melihat berbagai notifikasi yang bertumpuk di layarnya. Sebagian besar dari Instagram-nya, tempat ia mencari nafkah. Ya, Hannah Miranda ialah seorang influencer terkenal yang kerap dipanggil salah satu selebgram termahal dan terpercaya di negeri. Hannah Miranda seorang selebgram pintar dalam memanfaatkan dan mengatur pekerjaannya sehingga ia dapat meluaskan jangkauan pengaruhnya sampai dunia bisnis.
Tak berapa lama setelah memeriksa notifikasinya, muncul lagi alarm pengingat yang sempat mati sebentar tadi. Pengingat bahwa malam ini ada acara nikahan sepupunya dan juga urgent job yang diterima oleh manajemennya untuk ia selesaikan hari ini juga.
*****
Sebagai konten kreator yang baik, Hannah merasakan jika konsep endorsement yang diberikan oleh manajemennya kurang sesuai dengan keinginannya. Hannah sempat memberi saran namun pada akhirnya ia harus banyak mengalah karna itu permintaan klien. Hannah hanya mendesah pasrah ketika ia hanya bisa menurutinya.
Hannah melirik ke arah jarum jamnya yang menunjuk ke arah jam empat.
"Sempet gak nih?" Batinnya berbisik.
YOU ARE READING
serendipity
RomanceKisah sejoli yang kembali bertemu dengan 'mantan' gebetan singkat mereka, dibalik acara arisan kedua orang tua mereka. Start: 06 Februari 2022 Disclaimer: I put Fanfiction tag into this story because I use their face as face claim my story. I don't...
