Yamada Rei mempunyai 3 anak. Yamada ichiro, jiro,dan saburo. Tapi ichiro memilih mandiri dan tidak mengikuti perusahaan ayahnya. Sedangkan jiro kuliah. Saburo masih duduk di bangku sma. Yamada punya sahabat dekat yaitu iruma, pendiri Iruma corp yg...
Pernikahan adalah acara yang harusnya membuat semua orang didalamnya bahagia. Kecuali, pernikahan kami. Aku, Jiro Yamada, terpaksa menikahi lelaki bernama Jyuto Iruma. Ya, kami dijodohkan oleh kedua orang tua kami, selain karena hubungan sahabat, tetapi juga karena atas nama bisnis. Sungguh klasik bukan. Maafkan aku Iruma-san, tapi aku tidak punya nyali menolak kedua orang tuaku, sehingga dirimu juga terkena dampaknya.
kupandangi diriku didalam bias cermin. berbalut gaun indah buatan designer favoritku, ramuda san. tetap saja kumasih berat hati memakai busana yang harusnya menjadi impian para wanita. dibalik pintu tampak bayangan seseorang mendekatiku.
"Jiro, apa kamu sudah siap?" wanita cantik yang selalu aku kagumi itu sekarang berdiri disampingku, memegang bahuku dengan lembut.
"Kamu cantik sekali, Jiro, Pintar sekali Ramuda san mendesign gaun ini untukmu."
"Terima kasih neechan." Aku tersenyum padanya lembut. Dia memelukku, aku merasakan bahwa saat ini ia pasti menangis haru, melihat adiknya akan menuju dunia yang lebih dewasa.
"Semoga kamu dan Iruma-san selalu dibaluti kebahagian." Ia masih memelukku erat, dan kubalas pelukannya dengan perasaan sedih 'maafkan aku nee-chan, tapi sepertinya doa nee-chan tidak akan terjabah.'
"Ichi-nee, Jiro, sudah mau waktunya loh." Sahut saburo diambang pintu. Neechan melepaskan pelukannya dan menata baju dan tiaraku.
"neechan duluan ya, ayah akan segera menjemputmu menuju altar." Aku mengagguk dan melihat neechan dan saburo menghilang dari balik pintu.
Time Skip
Ayah menjemputku, aku tersenyum palsu, tak ingin mengecewakan siapapun. Aku berjalan menuju sosok lelaki yang akan menyandang gelar sebagai suamiku, sepanjang jalan itu, semua mata menatapku bahagia, kecuali sosok dihadapanku. Ekspresinya datar, meski demikian, ia tetap tampan dan berkharisma. Bohong kalau bilang tidak suka. Dia adalah cinta pertamaku, tapi, tidak demikian dengan dirinya.
Janji suci dia ucapkan, lancar layaknya air yang mengalir. Dan wedding kiss dideklarasikan, firstkiss yang kuimpikan harusnya terasa manis diatas nama suci pernikahan, kini terasa hambar. Tak ada cinta dan kasih sayang didalamnya, kosong, ingin rasanya ku menangis bukan karena bahagia tapi karena rasa getir didalam dada, tapi ku akan tegar, demi mereka yang kusayang. Pesta pernikahan dilanjutkan, semua bahagia, semua tersenyum, kecuali dia, sedang aku, yang menahan sakit disini berusaha tersenyum palsu dihadapan semua yang diundang.
"kamu bisa ya, tersenyum diatas penderitaan orang." Bisiknya, aku ingin marah,memaki.
'kamu pikir aku bahagia?! Aku juga terbebani dengan semua ini.' Tapi,itu tak berani kukeluarkan. Tidak lucu jika kedua mempelai malah gelud dihari pernikahan mereka. Aku hanya terdiam dan tak menatapnya. Dia pergi meninggalkanku, mengobrol denganteman-temannya. Tampaknya dia sedang bercanda gurau bersama temannya.
'senyum ramah... apa aku tidak akan pernah mendapatkannya?' kualihkan pandanganku darinyasebelum hatiku semakin sakit dibuatnya. Kupandangi adikku yang sedang bercandagurau dengan pacarnya Busujima-san. Jyushii mendekatiku, digandeng priaberjambul tunangannya.
"Jiro-chan... kamu, baik baik saja?" tanyanya polos, matanya sudah berkaca kaca. Ya, Hanya Jyushii yang mengetahui cerita aslinya mengenai aku dan jyuto. Kuusapkepalanya dengan lembut, dan berusaha tersenyum ramah.
"tidak apa jyuushii,kamu jangan khawatir. Ini kan hari special buatku, kamu jangan nangis dong."Mendengar ucapanku, jyuushi malah menangis dan memelukku.
"Jiro-chan tidakpandai berbohong terhadapku...hiks..." ingin ku menangis, tapi tak boleh. Harus tegar.
"dah, jyuushi jangan nangis... amaguni-san nanti jadi heran." kuelus lembut belakangnya agar dia sedikit tenang.
"Jiro-chan, ingat, masih ada aku kalaukamu butuh bercerita. Janji ya!" aku hanya mengangguk, tangannya masih menggenggam tanganku erat.
"Jyuushii nikmati pestanya ya. Kasihan Amaguni san jadi sendirian." Dia mengangguk dan meninggalkanku menuju tunangannya. Akumenghela nafas panjang. untung saja dia itu penurut. Tiba-tiba kakak menepuk pundakku.
"Jiro-chan, sini,ngumpul sama orang-orang." Kakak menarikku ketempat teman temannya berada.Mereka menanyaiku banyak hal, tapi aku bingung, dan memilih hanya tersenyum daripada menjawab. Kakak dan temannya malah asik bergosip. Aku mengamati mereka. 'setidaknya, di acara pernikahan yang menyedihkan ini, masih ada mereka yang bisa menghiburku sedikit.' --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Author's note:
Terima kasih telah menyempatkan waktunya membaca cerita absurd ini x'D
untuk moment pernikahan (terpaksa) JyuJi kira kira seperti inilah mereka saat mengucap janji suci.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.