Part 1

15 3 7
                                        

Tak ada yang bisa menebak alur hidup seseorang, tak satu pun manusia di bumi menginginkan gelar yang seperti ini... Namun, aku tak in secure dengan itu karena berkatnya aku menjadi kuat dan tangguh...

"Boru, itu mamak buatkan sarapan"
"Iya, Mak. Entar Aira makan"
"Cepat dimakan, keburu dingin"
"Ya, Mak"

Semenjak hari itu, duniaku berubah biasanya pagi hari aku menyiapkan sarapan, kini aku disiapkan sarapan oleh wanita yang melahirkanku, perempuan surgaku. Laki-laki tak tahu diri telah merenggut semua kebahagianku dan putriku. Penyesalan tiada akhir, hanya air mata yang mengalir...

"Plaaak...", tamparan keras mendarat dipipiku karena aku menolak memadu kasih dengannya...

"Dasar Wanita 'tak tahu diri, sok suci, munafik, sok beriman", Teriaknya mencaci

"Apa kau bilang!!! Aku sok suci! Munafik!"... mataku memerah meredam amarah namun sayang, aku tak dapat membendung amarahku, tangan kiriku mendarat tepat di pipinya... Namun, dia alangkah terkejutnya aku dia membalas dengan amarah dan melayangkan tamparan di pipi kananku...

"Kau gadak hati, kau jahat! Kau suami dzolim! Kau dapat aku dalam keadaan suci dan gadis!!! Kau liat dirimu!!!", Teriakku sambil mengelus pipi... "akh.. kau yang sok suci! Aku gamau disini lagi!! Kau pengkhianat!", Sambungku sambil mendorong tubuhnya menjauh.

Air mataku mengalir deras mengiringi jejak langkahku, menjadi saksi bisu atas luka hatiku dengan bayi merah di gendongan langkah demi langkah kupercepat ingin sekali segera aku memeluk mamak, hanya dia yang dapat meredam semuanya.

"Maaak... .", Tangisku pecah seketika
"Kau Kenapa, Boru.? Kau bertengkar lagi?"
"Dia memukulku Mak dia jahat! Aira gamau lagi dengannya"
"Kenapa dia berani?!", suara mamak mulai meninggi.
"Kan sudah mamak bilang, keluarga juga bilang dia itu gak baik. Apa lagi yang dia perbuat samamu?"
"Dia bilang kalau aku munafik, aku sok suci, sok beriman, Mak"
"Bah... Enak sekali dia bilang anak gadis orang gak suci, dia dapatkan kau masih suci! Gak terima mamak kau diginikan". Terlihat raut wajah mamak yang mulai memerah, matanya kian tajam seperti ingin menerkam

"Aira mau pergi dari kota ini, Mak"
"Kau mau pergi kemana?"
"Aku ingin pergi ke Jakarta, Mak"
"Pergilah, jika itu bisa membuatmu lebih tenang"
"Tapi jangan ada satu pun yang ngasih tahu dia ya mak, nanti setelah aku sampai Jakarta baru bilang ke dia ya mak". Mohonku pada mamak agar perjalananku tak gagal.

Susunan baju yang asal-asal membuat tas super besarku penuh, sebab di kejar waktu agar tak ada yang tahu aku pergi, 19:00 WIB. Aku dan Aqira putri kecilku menyusuri lorong-lorong tak berpenghuni demi mencapai kota di Tapanuli, mencari kendaraan umum agar aku bisa pergi.

30 menit menunggu....
Akhirnya angkutan umum khusus ke Bandara Internasional Kualanamu datang, untung saja abang angkot tadi memberiku nomor ponsel supir yang khusus mengantarkan ke bandara jadi aku bisa memesan bangku dan menyuruhnya menjemputku.

"Lama dek nunggu nya?", Tanya bang supir
"Gak kok, Bang. Lagian tadi aku makan dulu, jadi gak terasa"
"Oke, Naaaik", kata bang supir dengan sedikit bernada.

Tak pernah kusangka, ternyata aku akan meninggalkan desa tercinta, sebuah desa kecil di pelosok Sumatera Utara, Sipirok namanya. Sejuk udara dan pemandangannya, airnya segar dari kaki gunung simago-mago, perkebunan kopi dan padi, aku pasti akan sangat merindu suasana ini. Mak... Tunggu Aira dan cucumu pulang...

Untukmu Afra aryanda, Suamiku. Kesalahanmu sudah di ambang pintu kau berbuat seolah kau korban, pada nyatanya kau adalah pemain licik yang menyamar sebagai malaikat. Hanya sedikit lagi bukti yang kucari, maka kau akan hilang dari hati.

Bersambung....

Note :
Boru : sebutan oleh orang tua untuk anak perempuannya (Bahasa daerah batak)

Pelangi TerbitWhere stories live. Discover now