"KAK JUNO!"
"JOAN, TUNGGU!"
BRUM!
TIN TIN!
"KAK JUNO, AWAS!"
CITTT!
BRAK!
"Hhh—K-Kak Juno.."
"I love you, Joanna.."
Deg!
"JUNO!"
"Hahh, mimpi itu lagi.." batinnya lega. Gadis itu mengambil kacamatanya, kemudian menoleh pada kalender kamarnya.
"Ah, tanggal 23, pantas saja aku bermimpi bagian itu lagi." Gumamnya pelan.
Gadis itu mengambil sesuatu dari dalam laci nya dan mulai membukanya. Ditulisnya kejadian dalam mimpi itu dan sticky notes miliknya itu lalu ditempelkan pada papan isi mimpinya.
Sebenarnya apa arti dari semua mimpi itu?
"IBY, BANGUN NAK, HARI INI KAMU ADA TRYOUT!" Teriak sosok wanita paruh baya dari luar kamar berhasil menyeretnya kembali ke dunia nyata.
Ah Senin sial, "IYA, BUNDA!"
Tak butuh waktu lama, gadis itu langsung beranjak ke kamar mandi setelah merapikan tempat tidurnya terlebih dahulu. Lalu bersiap dengan seragam sekolahnya dan turun ke bawah untuk sarapan.
"Pagi Papa, Bunda!" Sapanya sembari memberi kecupan kecil di pipi orang tuanya.
"Pagi sayang." Jawab mereka serempak.
Gadis itu mengambil roti bakar yang sebelumnya sudah disiapkan Bundanya dimeja, lalu memakannya dengan lahap.
"Bun, Joshua mana?" Tanya sang gadis disela sarapannya.
"Masih tidur. Nanti Bunda minta tolong kamu jemput dia disekolah ya? Bunda ada pameran di Solo, ngga lama kok." Pinta Jenny.
"Iya, Bunda. Kalo Papa?" Gadis melirik pria berumur disebelah kirinya.
Johan menaikkan satu alisnya, "Papa kenapa?"
"Ya, siapa tau Papa mau nitip sesuatu juga sama Iby." Balasnya alih-alih meminum susu coklat favoritnya.
"Engga sayang, ayo berangkat!"
Gadis itu mengangguk, lalu menyambut tangan Bundanya, "Iby pergi dulu ya, Bun!"
"Hati-hati, Nak!"
Gadis itu hanya mengangguk, setelah itu menyusul Papanya yang sudah lebih dulu bersiap didalam mobil. Dua orang itu segera meninggalkan area rumah dan memulai aktivitas nya di hari Senin yang cerah ini.
"Iby sekolah dulu ya, Pa!" Gadis itu menyambut tangan Papanya.
Johan mengusap lembut rambut putrinya, "Belajar yang pintar, nanti Papa belikan ayam teriyaki 2 porsi oke?"
Gadis itu mengangguk paham, "Aye aye captain, dadah Papa!"
☘☘☘
Aku, Joanna Cattleya Ruby. Hum nama yang indah, Papa dan eyang kakung yang memberikan nama itu padaku. Biasa dipanggil Iby atau Uby oleh keluargaku, tapi tidak dilingkungan sekolahku. Aku lebih sering dipanggil Joan ketika disini.
Aku termasuk murid pintar, masuk dikelas unggulan bukan apa-apa. Ah, bukan mau sombong kok, hanya saja aku tidak memiliki teman. Boro-boro, dalam sehari saja hanya ada kurang dari 5 orang yang berani mengajakku mengobrol, itupun tidak jauh dari mata pelajaran.
YOU ARE READING
EPIPHANY.
FanfictionTakdir, tidak ada yang tahu soal kebenarannya. Perihal masa lalu dan masa depan yang saling berhubungan, membuat kedua insan bergantung satu sama lain. Lahir di tanggal yang sama, namun berada di kehidupan yang berbeda. "Apakah pertemuan denganmu it...
