“Di malam pergantian tahun ini, biarkan dunia berbahagia untuk kita dan kisah yang akan terbit bersama datangnya tahun baru.”
.
.
.
Senja selalu pergi dengan cepat, seperti kilatan ingatan Wang Yibo yang lenyap usai malam tahun baru berlalu. Satu-satunya yang terekam jelas di kepalanya hanya senyuman tipis itu, seperti silet menyayat hati. Meninggalkan bekas yang tak memudar walau telah termakan waktu.
Hampir satu tahun berlalu sejak hari di mana dia bertemu dengan sosok dingin yang terlihat tak tergapai, tapi nyatanya Wang Yibo sudah pernah menangkapnya. Bahkan lebih dari itu, dia menaklukkan hati beku pemuda tersebut.
Wang Yibo menginginkannya lagi. Menyentuh kulit sehalus sutra dan memeluk tubuh kecil yang tenggelam oleh tubuhnya. Namun, Wang Yibo tidak mengingat apa pun tentang malam panjang yang mereka habiskan. Sosok sebenarnya dari orang itu pun tidak jelas terekam otaknya.
“Huft … apa kita bisa bertemu lagi?”
Manik matanya menatap hampa pada pemandangan musim dingin di balik jendela kamar usangnya. Setelah puas menikmati panorama yang tidak pernah berubah itu. Dia berjalan menuju meja kerjanya dan menyambar sebuah kamera, tak lupa mengenakan mantel yang hangat. Wang Yibo mengenakan sepatunya dengan gerakan pelan, lalu membawa langkahnya keluar dari rumah sederhana tersebut.
Menyusuri jalanan yang mulai disiram cahaya jingga sang mentari. Senja di ufuk barat menyebarkan kebahagiaan. Setiap hal-hal yang terlihat indah diabadikan dalam kameranya. Dia hendak mengunjungi dermaga untuk menyaksikan ratusan kembang api yang akan menghiasi langit malam, tepat ketika pergantian hari dimulai. Artinya tahun akan berganti.
Terasa sangat cepat.
Rasanya baru kemarin Wang Yibo rutin mengunjungi sebuah bar kecil yang terletak di pinggiran kota Matakana. Kota kecil yang cantik di tengah luasnya daratan Australia.
Saat itu untuk pertama kalinya Wang Yibo bertemu dengan pemuda dingin itu. Bertemu tatap ketika dia mendaratkan bokongnya di bar stool dan memesan segelas brandy yang dicampur dengan tonic. Wang Yibo memperhatikan tangan kecil yang cekatan itu dalam meracik pesanannya. Setelah selesai meracik, pemuda itu menyodorkan gelas berisi pada Wang Yibo.
“Silakan, Tuan.” Senyuman tipis yang begitu manis terpatri di wajah kecilnya. Sempat membuat Wang Yibo terpesona untuk beberapa saat. Tidak dipungkiri jika aura pemuda itu mampu meluluhkan hatinya.
Keesokan harinya, Wang Yibo kembali ke bar tersebut. Pada jam yang sama dan duduk di tempat yang sama. Dia merasa candu untuk menemukan senyuman tipis yang memikat tersebut. Pesanannya pun tidak berubah. Satu-satunya alasan dia datang adalah bartender muda yang baru ditemuinya beberapa jam lalu.
Hingga seminggu Wang Yibo terus melakukan hal yang sama tanpa berani mendekati pemuda tersebut. Namun, ketika malam Minggu itu tiba. Wang Yibo tidak tahan untuk terus bungkam dan menunggu pemuda itu merasakan perasaannya. Dia memberanikan diri untuk bertanya, “Siapa namamu?” Seumur-umur, baru kali ini Wang Yibo tertarik terhadap seseorang. Sampai membuatnya memulai duluan.
Pemuda itu tepat menatap pada manik Wang Yibo dan menjawab, “Xiao Zhan.” Senyuman tipis yang sangat khas dengan dirinya tidak luntur sedikit pun.
Sepanjang malam itu mereka habiskan untuk berbincang-bincang. Hingga jam bagi bar beristirahat, barulah Wang Yibo beranjak untuk pulang ke penginapan pengapnya. Bekerja sebagai fotografer lepas bukanlah hal yang mudah, terlebih jika dia mendapatkan pekerjaan yang memaksanya jauh dari rumah. Hal itu menyebalkan bagi pria yang masih bergantung pada keluarga seperti dirinya. Namun, kekesalan itu bisa berubah menjadi keberuntungan besar. Nyatanya Wang Yibo bertemu dengan Xiao Zhan, pemuda yang berhasil mencuri perhatiannya.
Dua hari kemudian Wang Yibo datang lagi ke bar tersebut dan menemui Xiao Zhan. Duduk di tempat yang sama sambil memutar gelasnya, menunggu Xiao Zhan memiliki kesempatan berbicara dengannya. Ketika pemuda itu menghampirinya, Wang Yibo langsung menegakkan tubuh dan tersenyum lebar.
“Zhan Zhan, aku belum memiliki nomor teleponmu. Apa kamu mau membaginya padaku?”
Xiao Zhan tersenyum seperti biasa, tapi kali ini ada yang berbeda. Cuping telinga pemuda itu memerah sempurna. Mungkin dia merasakan hal yang sama dengan Wang Yibo. Xiao Zhan merogoh saku rompinya dan menyodorkan sebuah tanda pengenal. Mulanya Wang Yibo terlihat biasa saja, tapi sesaat setelah melihat tahun lahir pemuda itu, dia sedikit tercengang. Lima tahun lebih muda darinya.
“Kamu masih sangat muda,” ucapnya lembut sambil memasukkan satu persatu nomor telepon pemuda itu ke ponselnya.
Xiao Zhan hanya terkekeh kecil dan melanjutkan lagi pekerjaannya.
Waktu bergulir dengan cepat, mengubah menit menjadi jam, beralih pada hari yang terus berganti. Sejak hari itu hubungan keduanya semakin erat dan seperti memiliki satu sama lain. Wang Yibo masih sering berkunjung ke bar disela-sela kesibukannya yang semakin mencekik sebagai fotografer lepas. Begitu juga dengan Xiao Zhan yang semakin sering berkunjung ke penginapan Wang Yibo, sekadar memberikan sekotak makanan buatan tangannya.
Ada saat ketika Wang Yibo sangat sibuk dengan kegiatannya, hingga tidak sempat untuk berkunjung ke bar nyaris seminggu lebih. Xiao Zhan memutuskan untuk mendatangi penginapan Wang Yibo dengan sebungkus biskuit bermerek lotus kesukaannya, seusai jam kerjanya berakhir. Di sisa malam itu mereka menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang ringan dan pemuda itu menginap di tempat Wang Yibo.
“Zhan Zhan,” panggil Wang Yibo pelan. Xiao Zhan melirik ke sebelahnya dan menemukan Wang Yibo yang terbaring sambil memejamkan mata. “Malam tahun baru nanti. Ayo, melihat kembang api bersama!” ajaknya pada pemuda yang juga berbaring di kasur yang sama.
Xiao Zhan menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak bisa, Ge. Aku tidak berencana menghabiskan malam tahun baru jika tidak dengan kekasihku.”
Refleks saja Wang Yibo membuka matanya dan menatap lamat-lamat pada pemuda di sebelahnya. “Kamu punya kekasih?” tanyanya dengan raut wajah datar, tapi nada suaranya terdengar jelas tidak suka.
Xiao Zhan menggelengkan kepala dan menegaskan jika dia tidak memiliki kekasih. “Tidak. Jika ada, aku sudah menghabiskan waktu dengannya.”
Tatapan mata Wang Yibo berubah normal dan bibirnya menyunggingkan senyum lebar. “Kalau begitu jadilah kekasihku.”
Sejenak Xiao Zhan terlihat seperti menimang-nimang jawaban, tapi pada akhirnya dia mengangguk. “Sepertinya tidak buruk,” ucapnya enteng.
Wang Yibo merapatkan tubuh dengan Xiao Zhan dan mengecup puncak kepala laki-laki yang kini berada dalam dekapannya. “Oke, kita sudah resmi. Jadi, tidurlah yang nyenyak, Baobei.”
Seperti ada ratusan kupu-kupu menari-nari dalam perutnya, Wang Yibo merasakan permukaan hatinya tergelitik melihat ujung telinga Xiao Zhan yang memerah. Tidak pernah sekali pun dia berpikir jika akan sangat mudah baginya jatuh cinta. Begitupun dengan pemuda dingin dalam dekapannya, dia tidak berpikir jika akan ada saat di mana perasaan cinta tumbuh dalam hatinya.
Hari terakhir di tahun itu datang dengan cepat. Pertanda jika sudah lebih dari seminggu mereka menjalani kehidupan sebagai sepasang kekasih. Meskipun Wang Yibo sibuk dengan pekerjaannya dan Xiao Zhan juga tidak kalah sibuknya, tapi mereka selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi melalui telepon seluler masing-masing.
Pada malam sebelum tahun baru, mereka sudah memutuskan akan berkemah. Hanya berdua. Wang Yibo sibuk membereskan peralatan yang akan digunakan selama berkemah, dia juga datang ke tempat perkemahan lebih dulu. Xiao Zhan memiliki jadwal yang padat di bar, ketika hari-hari libur seperti ini datang. Namun, dia sudah meminta izin untuk bisa pulang lebih awal dan mengambil jatah cutinya yang tidak dipakai selama setahun.
Pertama kali tiba di tempat perkemahan, dia terkejut dan takjub mendapati tenda yang telah selesai dipasang oleh Wang Yibo. Dia jadi memikirkan, berapa lama laki-laki itu menunggunya.
“Yibo Ge!” seru Xiao Zhan seraya berlari kecil ke arah Wang Yibo. Tatapan mata mereka bertemu dalam kehangatan dan saling melempar senyum. Wang Yibo meraih tubuh Xiao Zhan dalam dekapannya dan membimbing pemuda itu memasuki tenda untuk menyimpan ransel yang dibawa.
Langit sudah diselimuti gelap sejak beberapa jam yang lalu. Hanya tinggal dua jam lagi, maka tahun akan berganti. Xiao Zhan dan Wang Yibo duduk berdekatan di mulut tenda. Menatap pada hamparan langit yang ujungnya bertemu dengan laut. Mereka menanti datangnya hujan kembang api di kanvas berupa langit. Sebuah selimut melingkar di tubuh mereka.
Satu persatu kembang api mulai meluncur ke langit. Menambah keindahan goresan tangan Tuhan.
“Indah sekali.” Xiao Zhan tidak berhenti menatap kagum pada langit yang bertabur percikan kembang api.
“Mn, sangat indah.” Alih-alih menatap pada hamparan langit, Wang Yibo justru memaku perhatiannya pada Xiao Zhan. Membuat pemuda itu secara tidak sadar merasa malu.
Setelah mengatakan hal itu, Wang Yibo menarik tengkuk Xiao Zhan dan melabuhkan ciuman pada bibir tipis itu. Perlahan tapi pasti. Kecupan ringan semakin memberat, tuntutan besar disalurkan dari bibir mereka. Wang Yibo membawa tubuh Xiao Zhan terbaring di dalam tenda. Melucuti pakaian pemuda itu satu persatu dan meninggalkan bekas di sekujur kulit mulus itu. Mereka menyelami malam yang panjang, berkali-kali Wang Yibo keluar di dalam perut Xiao Zhan membuat pemuda itu merasa sangat penuh. Namun, gairah seks yang nikmat itu membuatnya jauh lebih baik.
Xiao Zhan menikmati setiap permainan Wang Yibo pada tubuhnya, perlakuan lembut ketika milik laki-laki itu tenggelam penuh di dalam lubangnya.
Setelah lelah karena kenikmatan yang mereka ciptakan sendiri. Tidur adalah pilihan terbaik. Namun, kegelisahan tampak jelas di raut wajah Xiao Zhan. Wang Yibo memeluknya erat seolah berkata ‘semuanya baik-baik saja’.
Ketika pagi datang, Wang Yibo mendapati dirinya sudah berada di dalam penginapan kecilnya. Sendirian seperti biasanya, tidak ada seorang pun yang berada di situ. Dia merasa kehilangan, tapi tidak ada yang hilang darinya. Wang Yibo bangun dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Baru saja keluar, ponselnya menerima panggilan dari orang tuanya. Segera Wang Yibo menjawab panggilan tersebut.
Hatinya seakan mencelos mendengar untaian kata yang diucapkan ibunya. Sang ayah sakit dan mendadak masuk rumah sakit. Wang Yibo dipaksa untuk pulang ke negara asalnya dan meninggalkan Australia.
Jika ini adalah dulu, jauh sebelum tahun baru datang, Wang Yibo sudah pasti dengan cepat mengiyakannya. Namun, sekarang semuanya berbeda. Wang Yibo merasa teramat berat untuk meninggalkan Matakana. Hatinya tertinggal di tempat itu, bahkan sampai saat ini. Dia terus mencari sesuatu yang lenyap begitu saja dari ingatannya.
Kamera yang tergantung di lehernya, kembali digunakan. Dia membidik pada hamparan dermaga yang dipenuhi gelombang manusia. Begitu banyak orang-orang yang hilir mudik menanti datangnya pergantian tahun. Hanya tinggal beberapa menit lagi. Wang Yibo mengarahkan kameranya ke arah sebuah pohon akasia yang terletak cukup jauh dari kerumunan orang-orang. Dari balik kameranya dengan jelas dia melihat senyuman yang terasa familier dengan ingatannya. Senyuman tipis yang dilapisi dingin. Wang Yibo mengenali itu.
Segera dia membawa langkah lebarnya mendekati pohon tersebut dan mencari sosok tadi. Seperti orang yang kehilangan arah, Wang Yibo terus mencari sesuatu yang tidak pasti. Mengabaikan hitungan mundur orang-orang di sekitarnya yang menanti pergantian tahun dan hiasan kembang api di langit.
Wang Yibo menemukan siluet itu lagi. Seorang pemuda yang tampak asing sekaligus familier sedang merapatkan kedua tangannya di depan dada. Matanya terpejam dan mulut yang menggumankan kata-kata. Wang Yibo mendekat dan berdiri tepat di hadapan orang itu. Ditatapnya lamat-lamat wajah pemuda tersebut. Membuat yang bersangkutan merasa risih dan kemudian membuka matanya. Kedua pasang mata itu saling bertukar perasaan. Menyelami satu sama lain dalam jurang kerinduan yang dalam.
“Wang Yibo,” panggil Xiao Zhan. Wajahnya terlihat terkejut dengan kilatan kesedihan.
“Xiao Zhan.” Bibir Wang Yibo spontan menyebutkan dua kata itu. Dia tidak tahu dari mana asalnya. Mungkin karena dia terlalu merindukan sosok dengan senyuman seperti milik pemuda di hadapannya.
“Kamu mengingatku?” Kerutan di wajah Xiao Zhan bertambah. Menatap penuh harap pada laki-laki di hadapannya. Setidaknya dia ingin agar seseorang mengingat dirinya dan mengakui keberadaannya, meskipun tahun baru telah berlalu.
“Entahlah, tapi aku merasa sangat merindukanmu. Ini menggelikan, padahal aku tidak yakin jika mengenalmu.”
Kalimat itu menyakiti perasaan Xiao Zhan. Harapannya seakan pudar dalam waktu singkat. Kekecewaan dan amarah mulai menguasai hatinya. Mengapa Tuhan begitu jahat padanya?
“Aku merasa jika kamu adalah milikku. Tidak, kamu memang milikku.”
Xiao Zhan mulai menitikkan air mata. Selama hidupnya, baru kali ini ada seseorang yang mengingatnya. Di tahun-tahun sebelumnya, dia akan dilupakan oleh orang-orang yang terlibat dengannya. Kembali sendirian dan memulai ulang perjalanan hidupnya dari nol di pagi pertama tahun baru. Bertemu banyak orang, menjalin hubungan untuk kemudian dilupakan begitu saja.
Wang Yibo merapatkan tubuhnya dengan Xiao Zhan dan menarik tengkuk laki-laki itu, dia merasa tidak asing dengan tindakannya. Lalu Wang Yibo menempelkan bibir mereka dan memberikan ciuman manis tepat ketika hujan kembang api memenuhi langit. Mereka tersenyum di sela tautan bibir keduanya.
.
.
.
“Tidak peduli berapa kali aku akan melupakanmu, kamu harus tetap ada di sisiku dan membuatku mengingat kembali tentang kisah kita.”
BẠN ĐANG ĐỌC
A Simple Love (short story) ✓
FanfictionTell me and I'll forget. Show me and I may remember. Involve me and I learn. . . . Wang Yibo selalu bertanya dalam hati kecilnya, "Apa yang telah hilang?" Pada kenyataannya, dia tidak merasa telah menghilangkan sesuatu yang istimewa. Yang bisa men...
