Prolog

157K 2.3K 194
                                    

Suara bising itu mengusik tidur cowok tampan yang kini merengut kesal di balik selimutnya. Bantal yang dia kenakan untuk meredam suara kaleng rombeng sialan itu seolah tidak memberi efek apa-apa. Nyatanya suara itu tetap memekakkan telinga, nyatanya suara itu membuatnya selalu emosi jiwa.

Mendengus kesal. Cowok itu menggulung selimut yang semula menutupi tubuhnya, meninju benda itu berkali-kali dengan tingkat kekesalan yang sudah di ubun-ubun. Bantal yang semula digunakannya untuk menutup telinga dia gigit geram sebagai pelampiasan. Suara itu... suara itu memang sudah sering didengarnya setiap pagi, bahkan di jam-jam sebelum ayam berkokok melaksanakan tugasnya.

"BANG IILLLL... BANG ILLOOO AYO BANGUN! NANTI TELAT! INI UDAH WAKTUNYA BANG ILL LARI PAGI, BANG ILLLL..."

Mengeram tertahan di balik bantalnya. Cowok yang masih dijadikan objek suara toa dari rumah seberang itu pun bangkit dari tempat tidurnya. Melempar bantal sembarang, menendang sisi tempat tidur yang malah membuatnya meringis kesakitan karena ternyata kakinya membentur sisi kayu ranjang tidurnya.

"SHIT!" Meringis di tengah umpatan, cowok itu langkah ke balkon kamar—yang kebetulan berhadapan dengan balkon kamar "si toa hidup" perusak mimpi dan damai tidurnya.

Jarak rumah keduanya dipisahkan oleh jalan utama kompleks, bukan gang atau jalan kecil yang hanya berukuran 1 meter. Jalan yang memisahkan mereka kurang lebih 4 sampai 6 meter, di mana jarak itu cukup luas hingga jika seseorang di seberangnya berteriak maka suaranya akan terdengar berselang hingga 3 sampai 5 rumah di sisi kanan dan kiri rumah mereka.

Akhirnya sepasang mata cowok itu terbuka meski hasil dari berbagai paksaan. Hilang sudah rasa kantuk yang masih menyergapnya beberapa menit lalu, digantikan marah yang melesak di kepala. Dia tatap cewek yang tengah tersenyum semringah di seberang sana, terlihat puas karena telah berhasil membangunkan sang pujaan hati.

"SELAMAT PAGI BANG ILLLL...." Sapa cewek itu ceria, yang justru terlihat mengerikan di mata cowok di seberang sana.

"Eh bocah upil! Bisa nggak sih lo berhenti ngerusuhin hidup gue? Sekaliiii aja! Suara lo tuh udah kayak kaleng rombeng, tahu nggak! Dan jadwal jogging gue itu nggak ada hubungannya sama lo, jadi stop sok jadi alarm hidup! Dan berhenti juga panggil-panggil gue 'Bang ILL'! Memang lo pikir gue semacam penyakit dipanggil kayak gitu?!"

Terlihat menggebu saat menyampaikannya ternyata tidak menimbulkan efek apa-apa bagi cewek yang tengah menjadi sasaran kekesalan cowok bernama lengkap Arzillo Hermawan itu. Reaksi yang diberikan cewek itu justru biasa saja, seolah omelan yang dilontarkan Zillo tadi hanya berupa angin lalu yang besok pun akan kembali dia dengar dan rasakan. Alih-alih marah atau sedih karena dibentak dan dimarahi, cewek itu dengan wajah bahagianya malah memamerkan senyum ala iklan pasta gigi.

"Aihhh... Pagi-pagi udah dapet panggilan sayang aja nih dari Kak ILL... Nadi jadi malu." Katanya sambil menangkup kedua pipi, tersipu malu.

Entah karena cewek itu memang bodoh, atau dia merasa apa yang didengarnya tadi itu serupa pujian dari Zillo untuknya? Benar-benar cewek energik yang tidak bisa dibaca pola pikirnya.

"Sarap! Jangan panggil gue pakai sebutan itu gitu juga! Dikira gue KA—IL ikan kali." Sebenarnya di sini Zillo sudah sadar bahwa dirinya melakukan hal paling bodoh dalam hidupnya. Apalagi kalau bukan karena menanggapi cewek di seberang sana dengan cara berteriak yang sama. Menimbulkan kebisingan dan kehebohan yang lantas tak membuatnya berbeda dengan seorang Nadira Adhitama.

Akhirnya sadar tengah dimarahi, Nadi cemberut. Cewek itu menatap sinis Zillo yang bertukar tatap dengannya dari seberang. Zillo membalasnya dengan sebuah pelototan, yang sialnya tidak pernah memberi efek jera pada yang bersangkutan. Apalagi ketika Zillo melihat seulas senyum terukir di sudut bibir Nadi, membuat keningnya berkerut curiga dengan apa lagi yang akan cewek itu katakan untuk semakin membuat paginya rusak sempurna.

"Ya udah deh, mulai hari ini Nadi panggilnya Yayang Illo aja. Gimana? Udah enak didengernya?" Nadi tersenyum bangga dengan gagasannya, melipat tangan di depan dada sebagai bentuk penghargaan pada dirinya sendiri.

"Bilang dong dari dulu kalau Yayang Illo maunya dipanggil "Yayang" gitu sama Nadi, jadi kan Nadi nggak harus pakek abang-abangan biar tukang sayur atau tukang bakso di kompleks nggak pada salah nengok terus pas Nadi manggil Bang Illo—eh, Yayang Illo maksudnya!"

Bebal. Cewek ini memang benar-benar bebal dan tidak akan pernah mampu diluruskan jalan pikirannya. Karena berapa kali pun mencoba hasilnya akan selalu sama, Zillo yang kalah telak dengan rayuan dan gombalannya.

Tak ingin terlibat percakapan lebih konyol dari itu, Zillo memutuskan masuk kembali ke dalam kamar. Menyerah? Mengabaikan? Atau apalah sebutannya dia tidak peduli, rasanya energinya akan habis jika hanya dibuat untuk meladeni cewek itu setiap hari sejak pagi buta seperti ini.

Hey! You! [TRILOGI "YOU" BOOK 1]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang