3. Nekat

45.9K 1.2K 84
                                    

Semilir angin masuk melalui jendela kamar yang terbuka, menerpa helaian rambut Zillo yang duduk di meja belajarnya dengan sebuah buku terbuka—tidak, Zillo tidak sedang belajar, cowok itu sedang membaca sebuah buku, sebuah komik kalau mau lebih tepatnya. Bagaimana pun ini masih awal tahun ajaran baru. Kegiatan belajar dan mengajar juga belum berlangsung karena pekan penyambutan siswa baru, jadi untuk apa Zillo belajar begitu awal jika materi kelas dua belas saja belum dia pegang? Meski sebenarnya banyak anak-anak yang seangkatan dengannya akan bergerak lebih awal dan mendapatkan materi pembelajaran tingkat akhir SMA itu dengan berbagai macam cara, seperti bimbingan belajar di waktu liburan sekolah misalnya. Fakta bahwa ini tahun terakhir di SMA dan dalam waktu dekat mereka akan mengikuti ujian nasional, menjadi salah satu alasan mengapa anak-anak itu begitu bekerja keras di waktu yang harusnya mereka habiskan untuk liburan. Karena tuntutan akan selalu menjadi tuntutan, bukan? Nilai yang tinggi, masuk perguruan tinggi bergengsi, juga nama baik keluarga yang dipertaruhkan hanya karena nilai. Beruntung Zillo bukan salah satu anak yang hidup dengan tuntutan itu, dan tidak ada salahnya Zillo mengambil napas barang sejenak, menimati waktu bersantainya sebelum waktu kerja kerasnya kembali datang. Bagaimana pun Zillo tahu diri untuk setidaknya bertanggungjawab pada masa depannya sendiri.

Yang menjadi masalah, sudah lebih dari sepuluh menit dia membaca halaman yang sama, tidak beranjak dari sana pun menumpahkan fokusnya pada bacaan itu. Sampai sepuluh menit yang lalu memang Zillo melakukannya, tapi semuanya perlahan hilang kala dirinya ingat apa yang sudah tetangga berisiknya itu lakukan padanya hari ini di sekolah.

Bernyanyi untuk Zillo? Mendeklarasikan bahwa Zillo akan menjadi miliknya? Gila, cewek itu memang benar-benar sudah gila.

"Sakit jiwa.." Gelengan kepala Zillo membuyarkan lamunannya pada rangkuman kejadian yang dialaminya hari ini, dan tentu saja dengan banyak bayangan Nadi yang mampir di benaknya. Benar-benar menyebalkan.

"Siapa yang sakit jiwa?"

Zillo menoleh terkejut, mendepati seseorang tiba-tiba menanggapi kalimatnya. Pemuda itu langsung menghembuskan nafas lega begitu yang dia dapati bukan Nadi melainkan Noel. Salah satu tetangga di depan rumahnya yang kebetulan tinggal bersebelahan dengan rumah Nadi.

"Ck, udah gue bilang kalau mau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu!" Ucap Zillo sewot memutar kursi yang didudukinya menghadap Noel.

Yang dimarahi justru hanya membalas dengan mengangkat bahu santai—mendekati arti tidak peduli. "Siapa yang sakit jiwa?" pemuda satu itu mengulang pertanyaannya, tak puas dengan Zillo yang mengalihkan pembicaraan.

"Siapa lagi kalau bukan si bocah upil," sahut Zillo malas, mengembalikan posisinya seperti semula.

"Nadi?"

"Memang ada bocah upil yang lain di sini? Satu aja gue udah pusing bukan main."

Tetangga yang berada satu tingkat dibawahnya itu terkekeh pelan. Melempar tubuhnya di ranjang Zillo yang sedang tak dihuni pemiliknya. "Kenapa lagi Nadi?"

"Nggak tahu aja lo apa yang dia lakuin di sekolah. Baru sehari aja udah bikin gue sakit kepala!"

Tawa Noel terdengar samar, bisa membayangkan dengan jelas seperti apa tetangganya itu bersikap jika sudah menyangkut dengan Zillo, yang mana merupakan hiburan tersendiri bagi Noel jika menyaksikannya secara langsung. "Sayang gue nggak ikut OSIS, jadi nggak bisa lihat pertunjukan menariknya," sesal Noel.

Zillo mendengus keras. "Lo aja yang gantiin gue, biar gue yang gantiin lo libur. Dari pada gue harus berurusan sama anak itu selama MOS."

"Bego, kalau kayak gitu nggak akan ada pertunjukan langkanya dong... Lah wong tokoh utamanya kabur," timpal Noel cepat.

Hey! You! [TRILOGI "YOU" BOOK 1]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang