Halaman sebelumnya of 454Halaman selanjutnya

Serial Pendekar Budiman

spinner.gif

1
Pedang Penakluk Iblis
(SIN KIAM HOK MO)
Karya: Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Ebook ini dibuat dengan sumber hasil scan djvu oleh :
syauqy_arr kredit 4 him
Convert & edit : MCH
Final edit & Ebook by : Dewi KZ
Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewikz.byethost22.com/
http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com
Jilid I
“SINCHUN Kionghi Thiam-hok Thiam Siu! Selamat tahun baru,
panjang umur banyak rejeki!"
2
Ucapan ini bergema di seluruh Tiongkok. di dusun dan kota, di
mana saja manusia berada. Ucapan yang menjadi inti dari pada
perayaan hari Tahun Baru yang telah menjadi tradisi di seluruh
Tiongkok semenjak tahun diperhitungkan, berapa orang takkan
gembira ria menyambut hari itu? Tidak saja sebagai hari pertama
dari tahun yang baru, akan tetapi juga hari pertama dari musim
semi yang gilang-gemilang, yang memberi harapan baik bagi semua
manusia, baik ia pedagang, petani, maupun buruh, pendeknya
rakyat jelata. Tanaman akan tumbuh subur, hawa udara segar dan
bersih, pemandangan alam indah permai. Olch karena inilah maka
upacara selamat menjadi Sin-chun Kionghi yang berarti Selamat
Musim Semi Baru.
Semua orang merayakannya. Besar kecil kaya, miskin mereka
bergembira menyambut datangnya musim semi dengan cara dan
kebiasaan masing-masing. Orang-orang mengadakan pesta, segala
mata pertunjukan, seni budaya rakyat muncul meramaikan pesta
tari-tarian, nyanyi, tari, barongsai, kilin, hong dan lain-lain
memenuhi sepanjang jalan besar.
Anak-anak lebih gembira lagi. Mereka pergi ke sana ke mari,
menghaturkan selamat kepada keluarga dan tetangga yang lebih
tua, menerima angpauw (bungkusan merah berisi uang atau
hadiah) menonton pertunjukan dan di hari itu mereka akan terbebas
daripada hukuman dan omelan orang tua. Di sana-sini mengebul
asap hio mengharum, karena orang-orang pada mengadakan
sembahyang untuk memperingati nenek moyang mereka yang telah
meninggal dunia.
Suara petasan menambah kegembiraan penduduk. Tiadi hentinya
suara mercon ini susul-menyusul seakan-akan berlomba. Kadangkadang
kelihatan di udara meluncur roket-roket kecil dari kertas.
Pendeknya, semua orang menabung setahun penuh untuk
menghabiskan uang tabungannya di hari-hari tahun baru itu,
berpakaian baru, makan minum sampai mabok dan
menghamburkan uang tak mengenal sayang.
Pada pagi hari tahun baru itu seorang laki-laki tinggi besar
berwajah tampan dan gagah akan tetapi seperti orang yang
menanggung banyak penderitaan batin, berusia kurang lebih tiga
3
puluh lima tahun, bcrjalan perlahan-lahan memasuki kota Keng-sinbun
yang berada di kaki Bakit Hoa-san. Laki-laki yang gagah ini
berjalan sambil menuntun seorang anak kecil berusia kurang lebih
tujuh tahun. Pakaian mereka jauh berbeda dengan pakaian orangorang
yang sedang merayakan tahun baru. Kalau semua orang
besar kecil memakai serba baru, adalah dua orang ini berpakaian
amat sederhana dan sudah kotor, bahkan laki-laki itu sudah ada
tambalan pada bajunya.
"Gi-hu, semua orang merayakan hari musim semi, mengapa kita
tidak?" Suara anak ini lemah lembut dan kata-katanya teratur rapi
seperti ucapan seorang anak yang mempelajari bun (sastra) dan
tata susila, akan tetapi terdengar nyaring bersemangat. Ia
menyebut "gi-hu" yang berarti ayah angkat kepada laki-laki itu.
Orang gagah itu memandang dan senyum sedih muncul di
bibirnya.
"Hong-ji (Anak Hong), kita sedang dalam perjalanan, bagaimana
bisa merayakan hari tahun baru? Sebentar lagi kalau kita sudah
sampai di tempat tinggal Sucouwmu (Kakek Gurumu) barulah kita
bisa merayakan hari baik ini. Atau barang kali kau ingin
merayakannya di kota ini? Kalau demikian, kita bisa mampir di
rumah makan dan berpesta berdua, bagaimana pikiranmu?"
Pada saat itu mereka telah memasuki kota dan bocah itu
memandang ke kanan kiri dan melihat setiap rumah memasang
meja sembahyang dengan segala macam masakan di atas meja dan
hio mengebulkan asap harum.
"Gi-hu aku tidak ingin makan minum, aku ingin dapat
menyembahyangi Ayah Ibuku..." Suara anak ini terputus-putus dan
biarpun matanya tetap bening dan tajam, namun suaranya
menunjukkan bahwa ia menahan isak tangis yang naik

Halaman sebelumnya of 454Halaman selanjutnya

Komentar dan Ulasan

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Tambah share_icon_grey.png Berbagi

Siapa yang Membaca

Disarankan