Khureen Nattasha

18.6K 837 59
                                    

Satu

Alan duduk di atas motor besarnya. Sebatang nikotin terselip di celah bibirnya. Tatapan mata tajamnya mengikuti pergerakan seorang gadis yang melangkah memasuki gerbang kampus dengan kepala menunduk. Gadis itu adalah gadis yang sering Alan perhatikan. Gadis pendiam dengan sejuta pesona yang dimilikinya. Seorang gadis yang mengenakan cincin yang sama seperti yang tersemat di jari manis Alan.

Gadis itu bernama Khureen Nattasha. Memang pendiam sejak bertahun-tahun Alan mengenalnya. Orin-atau yang biasa Alan panggil Tasha adalah adik kelasnya di SMP, dan kekasihnya di SMA. Dia adalah pacar pertama Alan dan juga mantan pacar pertamanya. Alan meninggalkannya begitu saja saat acara kelulusannya di SMA. Mungkin kini Tasha membencinya.

Sekarang, Tasha adalah adik tingkat Alan. Gadis itu sudah kuliah memasuki semester 5, dan Alan semester 7. Malang bagi Tasha karena dipertemukan dengan Alan kembali. Alan dan Tasha dijodohkan. Demi matahari yang hanya muncul pada siang hari, Alan telah menolak perjodohan mereka. Alan mati-matian menolaknya, ia menghalalkan segala cara untuk membatalkan perjodohan mereka. Namun tak ada satu pun yang berhasil.

Sedangkan Tasha, Alan tahu gadis itu juga tak setuju. Tapi Tasha hanya gadis lugu yang mengikuti semua kehendak orang tuanya, tidak seperti Alan yang pembangkang. Pada akhirnya, Tasha hanya bisa menerima ketika pertunangan mereka meningkat status menjadi pernikahan. Alan dan Tasha telah menikah seminggu yang lalu tanpa seorang pun rakyat kampus yang tahu-setidaknya itu yang Alan ketahui. Berbeda kasus jika Tasha memberitahu temannya tentang status barunya.

"Rin!"

Mata Alan menyipit. Ia melihat Tasha dihampiri oleh seorang laki-laki. Mereka bercengkrama, Alan melihat senyum di bibir Tasha. Lantas keduanya berjalan beriringan.

Alan membuang rokoknya. Diinjaknya benda itu dengan sepatunya. Ia memanggul tasnya dan meninggalkan motornya di sana.

***

Tasha menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Alan sudah berubah. Tasha merasa dirinya tidak mengenal Alan yang sekarang. Bila selama ini Tasha bertanya-tanya mengapa Alan dulu meninggalkannya, maka sekarang tidak lagi. Tasha sudah tahu jawabannya.

Alan meninggalkannya karena Tasha tidak bisa diajak bersenang-senang seperti yang Alan lakukan dengan wanita-wanitanya. Tasha adalah gadis yang membosankan. Karena itulah Alan meninggalkannya. Yah, setidaknya itulah yang Tasha pikirkan.

Bahkan Alan menolak perjodohan mereka. Sejujurnya, Tasha juga menolaknya. Tapi ia terlalu takut untuk mengutarakannya secara langsung. Kisahnya dan Alan semasa SMA tak akan pernah terulang lagi. Tasha tahu dan sadar akan hal itu. Sebab Alan bukanlah Alan yang dulu lagi. Sementara Tasha masih Tasha yang dulu. Gadis berpakaian longgar, pendiam, lugu dengan hati serapuh salju.

Pada jam 4 pagi, Tasha baru bisa terlelap. Dua jam kemudian Tasha sudah harus bangun. Itu semua sudah seperti rutinitasnya saja semenjak ia tinggal seatap dengan Alan seminggu yang lalu. Bangun jam enam, membereskan apartement, membuat sarapan lalu berangkat kuliah kalau ada jadwal pagi, dan berdiam diri di apartement setelah membuat sarapan kalau jadwal kuliahnya dimulai siang hari. Sementara jika kuliahnya libur, Tasha hanya akan membaca buku di kamar juga sambil belajar. Hidupnya terlalu monoton. Kegiatan dan lingkungannya hanya itu-itu saja.

Setelah mandi, Tasha keluar dari kamar. Seperti biasa, Alan tertidur di sofa ruang tamu yang sudah berantakan. Laki-laki itu bertelanjang dada. Wajar saja, Alan menghabiskan malamnya dengan beraktifitas fisik.

Tasha sudah hafal kebiasaan Alan. Selama dua kali dalam seminggu, Alan akan membawa pulang wanitanya. Paginya laki-laki itu akan Tasha temukan tengah tidur di sofa. Alan akan bangun jam sepuluh nanti.

Khureen NattashaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang