Previous Page of 22Next Page

JabrikSaktiWanara-WiroSableng

spinner.gif

<p data-p-id="da5fb9a5579b6bf86879efabc4aae3ea">Episode 191 e-book by: m i k e e-mail: deepblue_hazeman@yahoo.com ah cilik tersebut bergetar keras akibat betotan tangan Ki Buyut Pocong Mayit dan Merak Jingga yang saling berebut menarik kedua tangannya. Kedua tokoh tersebut tidak mempedulikan keadaan sang bocah yang mengenaskan. mereka baru tersadar kala satu kekuatan dahsyat yang dibarengi auman harimau dikejauhan melempar keduanya masuk kedalam tegalan sawah! Mata kedua tokoh hitam ini terbeliak tak percaya kala melihat bocah yang diperebutkan tersebut nampak melayang diudara dengan sepasang mata tampak memutih menakutkan sementara di dada sang bocah yang kurus telanjang tampak bercahaya tiga guratan angka, angka dua satu dua! "astaga! Apa tidak salah mataku ini? Apa benar itu Wiro? Tapi kenapa..." seru Setan Ngompol sembari delikkan kedua mata kearah sosok bayangan yang berdiri mengambang di punggung bocah kurus berambut jabrik yang dipanggil dengan sebutan Jabrik Sakti Wanara itu, apa yang dilihat oleh Setan Ngompol juga dilihat oleh Mahesa Edan, Naga Kuning dan Panji Ateleng. Dibalik sosok melayang Jabrik Sakti Wanara berdiri mengambang satu sosok seorang kakek berbaju dan berdestar putih. Rambut dan janggutnya terlihat melambai berwarna putih keperakan sementara ditangan sang kakek tergenggam sebuah senjata yang amat ditakuti oleh para tokoh golongan hitam. Kapak Maut Naga Geni 212!" Sableng telah terdaftar di Departemen Kehakiman dan merupakan Milik serta Hak cipta dari Bastian Tito seorang, Tokoh Panutan dan Inspirator Penulis, Lanjutan Wiro Sableng ini dibuat tanpa maksud apapun sekedar Wujud Kecintaan Penulis terhadap tokoh yang telah menemani Penulis dalam suka dan duka. Oleh karenanya penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada pihak yang merasa berkeberatan dilanjutkannya kisah Wiro Sableng ini. TO Wanara air dingin perlahan berjatuhan membasahi sepasang tangan renta milik Ki Tanu Mangir. "SubhanAllah..." ucap sang kakek kala merasakan kesegaran yang mengalir dari kucuran air dari bedeng bambu yang terletak di samping Surau. Suasana subuh yang hening dan senyap terasa demikian damai kala terdengar suara gemericik air yang berbunyi saat kakek penjaga Surau tersebut terlihat mengambil wudhu dan bersuci diri. Setelah selesai bersuci, Ki Tanu Mangir pun berjalan memasuki Surau dengan langkah ringan. Kala itu suasana Surau masih terlihat lengang, tidak terlihat seorang jamaahpun berada di dalam Surau. namun saat sang kakek memalingkan wajahnya ke salah satu sudut ruangan, dilihatnya seorang bocah tertidur pulas sembari meringkuk didalam kemulan sehelai kain sarung kumal. Sang kakek mengerutkan kening karena merasa tidak mengenali bocah yang sedang tertidur lelap ini. Ki Tanu Mangir kemudian memperhatikan si bocah lebih seksama, Yang menjadi perhatian pertama Ki Tanu Mangir adalah Rambut Si Bocah yang panjang dan berdiri kaku keatas serta sebagian hampir seluruh rambutnya sudah memutih..." gumam Ki Tanu Mangir masih menatap rambut sang bocah yang nampak diikat secarik kain Lurik. Tubuh bocah kecil ini terlihat kurus dan ringkih, namun begitu tubuhnya terlihat bersih dan tidak berbau pertanda sang bocah pandai mengurus diri. Bocah cilik ini tidak memakai baju atasan sehingga tulang dada dan rusuknya terlihat dengan jelas. Satu-satunya pakaian yang dikenakan bocah ini selain kain sarung adalah sehelai celana pangsi sebatas lutut. "kasihan anak ini..."ucap Ki Tanu Mangir sembari mengusap rambut sang bocah. Kakek penjaga Surau ini kemudian beranjak bangkit untuk Melaksanakan Shalat Subuh. Setelah menyelesaikan panggilan Illahi, Sang Kakek kemudian berjalan mendekati si bocah yang masih tertidur pulas. "Bangun Nduk... Sudah Pagi..." ucap Ki Tanu sambil menepuk bahu si bocah. Bocah yang ditepuk bahunya kemudian terlihat membuka mata lalu perlahan bangkit duduk sembari mengusap-usap wajahnya. "Assalamualaikum, Kyai... maaf saya numpang tidur di Surau tanpa permisi dulu sama Kyai..." ucap bocah cilik ini sembari mencium tangan Ki Tanu Mangir. Sang Kakek terlihat tertegun melihat kesopanan dan tutur kata si bocah yang terdengar halus dan terpelajar. "Waalaikumsalam, anak baik... jangan panggil saya Kyai... saya hanya penjaga Surau Kecil ini saja. saya malu kalau dipanggil Kyai, saya ini belum gil saja saya Ki Tanu Mangir..." ucap Ki Tanu Mangir sembari menatap bocah dihadapannya dengan seksama. "Namamu siapa Nduk? Aki rasanya belum pernah melihat wajahmu di daerah ini..." Tanya sang kakek. "Saya memang bukan

Previous Page of 22Next Page

Comments & Reviews (5)

Login or Facebook Sign in with Twitter


library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended