Chapt 5

3.1K 162 12
                                    

"Moyeon dengarkan aku duluu" sijin berusaha menghentikan langkah moyeon.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan" jawab moyeon serius

"Aku.. Aku benar2 tidak tau kapan perasaan ini muncul" sijin terus berusaha menghentikan moyeon

"Kau pikir aku yang mau perasaan ini muncul, eoh?!" bentak sijin

Moyeon pun langsung menghentikan langkahnya

Sijin berjalan menghadap moyeon dan memegang wajah moyeon dengan kedua tangannya

"Aku bertemu denganmu. Aku tidak punya perasaan apa2 padamu dan juga tidak berniat untuk jatuh hati padamu. Aku baru sadar semenjak aku menikah denganmu, aku jadi jarang berfoya2 lagi di club. Aku sadar saat oh soo bilang begitu kepadaku. Dimalam pertama kita sah menjadi sepasang suami istri, aku melihat oh soo menciummu, dan entah kenapa aku merasa tidak suka melihat itu. Tapi aku berusaha membuang pikiran itu jauh2. Disaat kau dan oh soo bersenda gurau dan lupa bahwa aku ada diantara kalian, hatiku sakit. Disaat kau tidak pulang sama sekali dan baru pulang jam 7 pagi karna kau menginap dirumah oh soo, hatiku hancur. Kau tau? Aku menunggumu.. Aku sudah membelikanmu wine dan daging untuk kita makan bersama, tapi kau tidak kunjung datang. Akhirnya aku memberikan daging itu pada pak supir. Di saat kita menonton film yang berjudul "3" aku merasa takut.. Aku merasa film itu sangat mirip dengan kita. Aku takut pada akhirnya kau akan menjadi milik oh soo, dan bukan aku. Setiap malam aku terus merenungkan pikiranku.. Apa mungkin aku jatuh cinta padamu? Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya, jadi aku bingung tentang perasaan ini. Dan sekarang aku sadar bahwa aku memang jatuh cinta padamu saat kau bilang kau ingin menemui oh soo tadi. Hatiku selalu sakit setiap mendengarmu menyebut nama oh soo. Kau pikir aku mau perasaan ini muncul? Aku selalu berusaha membuang perasaan ini jauh2, tapi aku tidak bisa.. Karena, hatiku telah memilihmu, moyeon."

Moyeon meneteskan air matanya saat sijin selesai menjelaskan semuanya. Sijin menghapus air mata moyeon yang jatuh membasahi pipinya itu.

"Jangan menangis, maafkan aku. Kalau kau benar2 membenciku.. Aku minta maaf. Kita hanya perlu bersama dalam waktu 1 minggu lagi. Setelah itu aku akan benar2 pergi meninggalkanmu." sijin tersenyum dan meninggalkan moyeon yang masih mematung disana.

"Sijin.. Kenapa kau membuat semua ini semakin rumit?" batin moyeon

Semenjak kejadian itu, hubungan moyeon dan sijin semakin lama semakin canggung. Sijin sangat ingin menghabiskan waktu2 yang tersisa dengan moyeon. Tapi moyeon terlihat selalu menjauhinya. Moyeon juga sebetulnya tidak ingin berdieman dengan sijin seperti ini, tapi dia bingung bagaimana harus memulai percakapan dengan sijin.

"Sijin" panggil moyeon

"Yaa, ada apaa?" jawab sijin

"Kau lupa? Kau harus menaati persyaratan yang telah kita buat. Jadi kau harus bersih2 rumah selama 3 bulan dan tidak boleh pergi berfoya2" moyeon berusaha mencairkan suasana

"Kau tidak sadar ya? Aku selalu mencuci piring, menyapu, mengepel, dan mengelap meja rumah ini. Aku juga selalu pulang cepat habis dari kantor. Aku sudah tidak berfoya2 lagi, tidak ada gairah untuk melakukan itu" jawab sijin

Moyeon terdiam..

"Benarkah? Aku tidak menyadarinya, mungkin karna aku selalu berusaha menjauhinya"

"Jadi kau sudah melaksanakan tugasmu? Baguslah kalau begitu"

"Dasar culunn" sijin mencubit pipi moyeon dan pergi meninggalkannya

*deg*

"Kenapa aku jadi berdebar2 begini dicubit olehnya? Bukannya seharusnya aku marah?

Marriage Contract Where stories live. Discover now