Previous Page of 149Next Page

pendekar sakti suling pualam 1

spinner.gif

Pendekar Sakti Suling Pualam 

(Giok Siauw Sin Hiap) 

Lanjutan Pek Ih Sin hiap 

(Kesatria Berbaju Putih) 

Karya : Chin Yung 

________________________________________

Jilid : 1 

PENDAHULUAN 

Setelah Bu Lim Sam Mo mati di tangan Pek Ih Sin Hiap. Tio Cie Hiong, maka para ketua tujuh partai besar dan kaum rimba persilatan lainnya, yakin bahwa dunia persilatan pasti aman, tentram dan damai. 

Sedangkan Tio Cie Hiong, Lim Ceng im, Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa melangsungkan pernikahan di pulau Hong Hoang To. 

Para ketua tujuh partai besar dan para jago silat lainnya hadir semua dalam pesta pernikahan itu, sehingga pesta pernikahan tersebut menjadi meriah dan semarak.Sejak itu, Tio Cie Hiong sama sekali tidak mencampuri urusan rimba persilatan lagi. ia hidup tenang, damai dan bahagia sepanjang masa bersama Lim Ceng Im di pulau itu. 

Bagaimana keadaan rimba persilatan setelah Tio Cie Hiong menetap di pulau Hong Hoang To? 

Betulkah kematian Bu Lim Sam Mo membawa kedamaian dalam rimba persilatan? 

Justru sungguh di luar dugaan. Karena di saat Tao Cie Hiong hidup tenang, damai dan bahagia di pulau itu, di rimba persilatan telah muncui Hiat Ih Hwe (Perkumpulan Baju Berdarah). 

Siapa ketua perkumpulan itu tiada seorangpun yang mengetahuinya, sebab perkumpulan tersebut sangat misterius, lagi pula para anggotanya rata-rata berkepandaian tinggi Dimana Hiat ih Huie muncul, di situ pasti banjir darah, 

Semula Hiat Ih Huie cuma membantai para pembesar yang jujur dan setia, juga membasmi para pemberontak- Akan tetapi, lambat laun perkumpulan tersebut mulai mengarah pada kaum rimba persilatan golongan putih- 

Tak lama setetah itu, muncul pula Tiong Ngie Pay (Partai Keadilan) dan Seng Huiee Kauw (Agama Api Suci), sebingga timbul pula berbagai pertikaian dan bencana dalam rimba persilatan. .

Bagian ke satu Penyakit Aneh yang mencemaskan 

Pulau Hong Hoang To (Pulau Burung Phoenix) terletak di Pak Hai (Laut Utara). Panorama di pulau tersebut sangat indah menakjubkan, tampak pula belasan ekor burung phoenix berterbangan, bunga-bunga liar pun memekar segar menambah keindahan pulau tersebut, 

Pagi ini, terlihat seorang bocah laki-laki sedang berlatih ilmu pukulan dan ilmu pedang di tempat terbuka. Bocah laki-laki itu berusia sepuluh tahun, bukan main tampannya, siapa yang melihatnya pasti akan timbul rasa suka kepadanya. 

Siapa bocah laki-laki itu? Ternyata putra Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im bernama Tio Bun Yang. Sejak anak itu berusia tiga tahun, Tio Cie Hiong mulai mengajarnya pan Yok Hian Thian Sin Kang (Tenaga Sakti Pelindung Badan) dan Kan Kun Taylo Sin Kang (Tenaga Sakti Alam Semesta). 

Setelah Tio Bun Yang berusia tujuh tahun, mulailah Tio Cie Hiong mengajarnya Tujuh Jurus Giok Siauui Bit Ciat Kang Khi (Ilmu Suling Kumala Pemusnah Kepandaian), Tujuh Jurus Bit Ciat Sin Ci (Ilmu Jan Sakti pemusnah Kepandaian) dan Kan Kun Taylo Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Alam Semesta). 

Kini Tio Bun Yang telah menguasai semua ilmu itu, hanya saja luieekangnya masih belum begitu tinggi. Sedangkan monyet bulu putih pun tidak mau ketinggalan. Monyet sakti itu juga 

mengajarnya berbagai ilmu pukulan, Di saat Tio Bun Yang berlatih, monyet bulu putih terus 

memperhatikannya bagaikan seorang guru. 

Berselang beberapa saat, muncullah Tio Cie Hiong bersama Lim Ceng Im. Mereka berdua lalu 

duduk di bawah sebuah Pohon sambil memperhatikan latihan Putra mereka. 

"Adik Im," Ujar Tio Cie hong sambil tersenyum, "Aku tidak menyangka, Bun Yang baru berusia 

sepuluh tahun tapi telah dapat menguasai semua ilmu yang kita turunkan kepadanya. ” 

"Benar, memang sungguh di luar dugaan," sahut Lim Ceng Im dengan tersenyum, namun 

kemudian wajahnya berubah murung. 

"Adik Im____" Tio Cie Hiong menatapnya seraya berkata, "Engkau tidak perlu cemas.” 

"Kakak Hioong...." Lim Ceng Im menghela nafas panjang, "Dia mengidap penyakit. ” 

"Tidak Perlu cemas," ujar Tio Cie Hiong. "Itu memang Penyakit aneh, tapi engkau tidak Perlu 

cemas. ” 

"Bagaimana mungkin aku tidak cemas?" Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala "Penyakit 

itu mungkin akan mempengaruhi dirinya.” 

"Tidak mungkin," sahut Tio Cie Hiong "Aku mahir ilmu Pengobatan, tentunya tahu jelas akan 

penyakit itu.” 

”Kakak Hiong, kenapa dia bisa mengidap penyakit itu?” 

"Yaaah" Tio Cie Hiong menghela nafas panjang, "Mungkin sudah nasibnya.” 

"Hingga saat ini engkau tidak mampu mengobatinya?” 

"Aku telah berusaha mengobatinya, namun belum menemukan obat mujarab untuk 

menyembuhkan penyakitnya” 

"Apakah selamanya dia akan begitu?”

Previous Page of 149Next Page

Comments & Reviews

Login or Facebook Sign in with Twitter
library_icon_grey.png Add share_icon_grey.png Share

Who's Reading

Recommended