Prolog

3.7K 131 45
                                    


Manhattan, duapuluh tahun yang lalu....

Gadis kecil berusia tujuh tahun itu meringkuk di sudut dapur ketika teriakan ayahnya merambati udara.

"Kau pembunuh kecil! Enyah dari hadapanku!"

PRANG!!!

Gelas dilempar hingga serpihan kaca berserakan di lantai.

"Jika bukan karena kau...." Ayahnya mengepalkan tangan sebelum melanjutkan, "Istriku tidak harus mati! Kau membunuhnya!!!"

Gadis itu memeluk kedua lututnya lebih erat, menyembunyikan wajahnya dalam-dalam pada lekuk lengan. Meski sering mendapat kalimat-kalimat menyakitkan itu, ia tidak lantas terbiasa. Sejak gadis itu bisa mengingat, ayahnya selalu memperlakukannya dengan dingin. Tidak buruk, karena kecuali pada saat-saat tertentu ketika ayahnya mabuk, ayahnya hampir tidak pernah berbicara padanya. Apalagi melihatnya.

Gadis itu sudah terbiasa diabaikan. Namun gadis itu tidak akan pernah terbiasa dengan status pembunuh.

"Seharusnya aku membuangmu!" seru ayahnya lagi.

"Ayah!"

Seruan itu membuat sang gadis kecil mendongak. Karena suara yang berseru itu adalah milik malaikat penyelamatnya.

Kakaknya. Malaikat itu adalah kakak perempuannya.

"Ayah, apa yang sudah kau lakukan?" tanya kakaknya. "Jangan mengatakan hal-hal yang buruk. Semua ini bukan—"

"Semua ini kesalahannya!"

"Ayah...."

"Seandainya Althea tidak melahirkannya ... Althea tidak akan pergi. Althea tidak akan meninggalkanku!"

Gadis kecil itu menatap wajah ayahnya yang memerah dengan pandangan nanar. Sementara kakaknya berusaha menarik ayahnya untuk pergi. Sebelum mereka melangkah keluar dari dapur, satu kalimat kembali meluncur dari bibir kejam ayahnya. Diiringi tatapan menusuk tanpa keraguan, ayahnya berkata, "Tidak akan pernah ada yang mencintaimu, Katya Kaveirs...."

Gadis itu tetap duduk di tempatnya. Diam tidak bergerak. Kalimat yang diucapkan ayahnya terus terngiang di benaknya.

"Katya?"

Panggilan itu membuat sang gadis kecil mendongak. Kakaknya berlutut di hadapannya. Kakaknya tidak pernah mengabaikannya. Kakaknya selalu ada. Selalu menjaganya, selalu menyayanginya.

Hanya kakaknya yang ia miliki di dunia ini.

Hanya kakaknya.

"Jangan sedih," bisik kakaknya lembut. "Ayah tidak bersungguh-sungguh. Bagaimana mungkin ia tidak mencintai gadis secantik dirimu?"

Gadis kecil itu tidak merespons. Terus menatap kakaknya tanpa berkedip.

"Kau tidak akan meninggalkanku, bukan?" tanya gadis kecil itu pelan.

Kakaknya tersenyum, dengan senyum secerah mentari. Namun malam itu, senyum saja tidak cukup. Entah dari mana datangnya, gadis kecil itu merasakan dorongan kuat untuk menahan kakaknya. Agar kakaknya tetap berada di sisinya.

Selamanya.

"Kau tidak akan pernah meninggalkanku, bukan?" ulang gadis kecil itu.

Kakaknya menangkup wajah gadis kecil itu, lalu menjawab, "Ingatlah ini, Katya. Jika suatu hari aku harus meninggalkanmu, itu bukan karena aku mau. Bukan pula karena aku mampu. Namun karena aku terpaksa melakukannya. Jika aku memiliki pilihan, aku akan selalu memilihmu. Dan kau akan selalu memilikiku."

Gadis kecil itu mengulurkan kedua tangannya. Memeluk kakaknya dengan segenap jiwa. Lalu membisikkan permintaannya berulang kali. Hingga kalimat itu terukir dalam relung hati.

"Jangan tinggalkan aku.... Jangan tinggalkan aku...."

***

Penasaran sama lanjutannya? Inbox buat info lebih lanjut. Thank you ^_^

Love Lies (Revenge #1)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang