Bab 7

177 2 0
                                    

Kadang hidup itu seperti sebuah wisata ke pantai. Menyenangkan jika kita mampu menikmatinya. Menikmati deburan ombak yang sering menghadang saat bermain sky air, menikmati siluet senja kejinggaan yang menghiasi langit, bermain dan berkreasi di tepi pantai, menikmatinya memberikan nuansa yang eksotik dan menenangkan jiwa.

Meski begitu kita harus siap pula saat gulungan ombak tiba-tiba menyerang disaat kita berhasil membangun sebuah rumah dari pasir. Atau saat kita menikmati indahnya senja ombak tiba-tiba menggulung kita hingga membuat kita tenggelam.

Mama Dinar pergi bersama seorang cowok yang menjemputnya di rumah. Mereka pergi ke sebuah kafe. Begitu sampai di kafe mereka sengaja memilih tempat duduk paling ujung agar lebih bebas ngobrol.

Disana Mama Dinar menceritakan keganjilan ia ia hadapi. Mulai dari saat ia menelpon Dinar dan yang keluar bukan suara Dinar, mimi-mimpinya, keganjilan yang terjadi di rumahnya, hingga sesosok tubuh yang tidur di pangkuannya saat ia pulang dari libur bersama anak dan suaminya.

Lelaki itu mendengarkan semua cerita mama dengan seksama. Sesekali ia mengerutkan kening. Setelah selesai bercerita mama Dinar menghela napas.

“Aku takut,” bisiknya lirih. Ia menundukkan wajahnya ke bawah meja.

Lelaki yang tak lain adalah Revan itu menatap mama dengan tatapan lembut. Digenggamnya tangan mama.

“Jadi sekarang apa yang kamu inginkan?”

“Kita harus ke Panti itu. Harus, Van. Aku ngerasa ada yang gak beres.”

Mama Dinar menatap wajah Revan memelas. Tangannya gemetaran.

Revan membuang tatapan wajahnya ke sudut kafe. Dia gak yakin dengan pemikiran mantan kekasihnya itu. namun kejadian-kejadian aneh yang juga menimpanya beberapa hari belakangan ini membuatnya berada dalam dilema.

Revan mengangguk setuju disambut dengan senyuman mama Dinar. Senyuman lirih.

Mereka meninggalkan kafe dan langsung pergi ke Panti.

***

Butuh waktu dua jam untuk mencapai Panti Asuhan. Sepanjang jalan mereka hanya diam. Revan memandangi orang yang sampai saat ini sangat ia cintai. Karena cintanya yang begitu besar pulalah ia belum menemui pendamping hidup sampai kini, di usianya yang tidak muda lagi. Tatapan Tania kosong. Padahal otaknya sedang memutar kenangan masa lalu. Mozaik kehidupan yang dijalaninya terangkai menjadi sebuah film dramastis di dalam ingatannya sendiri. Kejadian 13 tahun lalu terekam kembali seolah-olah sesuatu sengaja memasukkannya ke ingatan Tania dan membisikinya.

Revan hendak meneruskan kuliah ke luar negri saat Taania mengatakan bahwa ia hamil. Ia meminta Tania melakukan aborsi. Tapi Tania tidak mau karena ia takut.

Belum selesai masalah itu terpecahkan, papa Tania yang memang tidak merestui hubungan mereka ternyata telah menyiapkan perjodohan putrinya dengan putara seorang sahabatnya. Tania begitu syok saat mengetahui perjodohan itu. dia tak mau kehilangan buah hatinya dan juga Revan. Dia yakin Revan mau bertanggungjawab.

Namun Revan yang sangat ingin melanjutkan kuliah ke luar negri justru kembali menyuruh Tania menggugurkankan kehamilannya dan menikah dengan lelaki itu.

“Aku gak mungkin membatalkannya, Tania. Mungkin kamu memang bukan yang terbaik untukku. Percayalah jika memang kita ditakdrkan bersama kita pasti akan bertemu kembali.”

“Tapi Van, aku mencintaimu. Plis, tanggung jawab.” Tania memelas seraya memohon. Revan yang juga dalam keadaan kalut memeluk Tania. Kebimbanan menyelimuti jiwanya.

Malam harinya Tania dipertemukan papanya dengan pria yang dijodohkan untuknya. Pria tampan yang baru saja tamat kuliah dari Amerika. Tania berharap pria itu tidak menyukainya. Namun Papa sangat yakin akan pilihannya. Dan ternyata pria itu menyukai Tania. Pria itu bernama Handoko.

Mystery of The PastTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang